Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 14. Perlakuan Manis


__ADS_3

Beberapa hari dirawat di rumah sakit membuat Zafia merindukan kamarnya. Setelah mendapat ijin pulang, Dia dan Raiden langsung menuju apartemen gadis itu. Selama dalam perjalanan, Zafia memejamkan matanya dan bersandar di dada bidang Raiden. Sesekali tangan Raiden mengusap bahu Zafia dan menyelipkan rambut Zafia di belakang telinga.


Setibanya di basemen apartemen, Raiden membantu Zafia turun dari mobil, dia memapah Zafia masuk ke dalam lift. Raiden melakukan semua hal-hal yang menurutnya remeh, tapi mampu menyentuh ke dasar hati Zafia. Raiden bahkan membantu gadis itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Nyaman sekali, Ray," gumam Zafia.


Raiden tersenyum, ia lalu membantu Zafia melepaskan sepatu gadis itu. Zafia hanya diam menikmati semua perlakuan manis yang dilakukan Raiden padanya. Menurutnya, Raiden adalah pria paling romantis sejagat raya. Belum pernah Zafia menemui pria seperti Raiden. Bahkan papanya pun tidak seromantis pemuda yang ada di hadapannya itu.


"Ray, apa kau tidak bosan dengan sikapku ini?" tanya Zafia. Dia tidur terlentang sembari menatap langit-langit kamarnya.


"Tidak sama sekali, Aku mencintaimu apa adanya kamu. Tidur lah. Kau perlu cukup istirahat," ujar Raiden.


"Kau tidak mau menemaniku?" tanya Zafia lagi saat melihat Raiden bergerak menjauhi ranjang.


"Aku ada kerjaan," jawab Raiden sembari berjalan menuju pintu.


"Kau akan meninggalkanku?" Zafia seakan enggan Raiden pergi darinya. Meskipun dalam lubuk hatinya dia belum siap menikah, tapi terbiasa bersama Raiden membuatnya perlahan bergantung pada pemuda itu.


"Aku akan kerja dari sini. Aku sudah membawa laptopku tadi di mobil. Aku akan meminta Marco mengantarkannya ke atas."


"Jika begitu bekerja di sampingku saja. Aku ingin kamu ada di sini. Aku ga mau kesepian."


"Biasanya kalau aku kesini kamu akan marah-marah," sindir Raiden.


"Kata papa, aku harus baik pada calon suamiku. Jadi aku sedang berusaha sekarang."


Raiden tertawa mendengar alasan Zafia. Dia sesaat mendekat dan lalu mengusap rambut Zafia dengan lembut.


"Aku menyukaimu yang seperti ini," ujar Raiden sembari membenamkan kecupan lembut di kening Zafia.


"Kamu sangat menggemaskan."

__ADS_1


"Tapi, Ray. Apa keluarga kamu yang lain tidak keberatan kalau kita menikah?"


"Aku juga tidak tahu dan tidak peduli. Kita yang akan menjalaninya, jadi kenapa kita perlu pendapat orang lain."


"Tapi restu keluarga itu sangat penting bagiku, Ray."


"Aku tahu, kau tidak perlu cemas. Keluarga kita pasti akan merestui kita."


Lama kelamaan, suara Zafia tak lagi terdengar. Gadis itu rupanya sudah jatuh terlelap. Raiden kembali mengecup pelipis Zafia dan lalu pergi keluar kamar. Marco menunggu di luar sembari menenteng tas laptop milik Raiden.


"Di mana Ramon?"


"Seperti biasa, Bos."


"Katakan pada anak buahmu terus awasi teman-teman Zafia."


"Baik, Bos," jawab Marco.


Beberapa waktu berlalu, Raiden menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Raiden lantas menghubungi Ramon untuk membelikannya makanan.


Zafia membuka kelopak matanya perlahan. Bayangan Raiden duduk di hadapannya perlahan semakin jelas. Senyum tipis terukir di bibir Zafia melihat pria itu menatap serius ke arah laptopnya.


"Ray, apa aku pernah bilang kamu tampan?" tanya Zafia dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Aku memang selalu tampan," jawab Raiden sembari mengusap rambut Zafia.


"Dasar, Narsis, tapi aku mengakuinya, kau memang tampan jika dilihat dari sini."


"Kenapa memakai kata dari sini?"


"Karena hatiku belum mengakuinya," jawab Zafia sembari meletakkan sebelah tangannya di pangkuan Raiden.

__ADS_1


"Kau hanya malu mengakuinya, Fia."


Raiden kali ini mengusap wajah Zafia. Ingin rasanya dia mengecup bibir Zafia. Namun, Raiden takut tidak bisa menahan diri.


"Bangunlah, ayo kita makan," ujar Raiden. Ia membantu menarik tubuh Zafia agar bangun dari posisinya.


"Ya, baiklah."


Saat Zafia bangkit dari tidurnya. Ia sedikit mengernyit saat merasakan kepalanya berputar. Zafia langsung berpegangan pada tepi ranjang.


"Ada apa?" tanya Raiden khawatir.


"Kepalaku pusing, Ray."


"Jika begitu, kau duduk saja. Biar aku yang ambilkan makanannya."


"Ray, aku tidak apa-apa. Mungkin tadi hanya karena kaget saja tiba-tiba bangun," jawab Zafia. Namun, mata gadis itu masih terpejam untuk meredam rasa pusing yang menghinggapinya.


"Tidak. Sebaiknya kau tetap duduk di sini. Aku yang akan mengambilkan makanannya. Kau cukup nikmati saja semuanya. Agar kau tahu betapa berharganya dirimu bagiku," ucap Raiden. Dia mendudukkan tubuh Zafia dan menyandarkan tubuh ringkih itu di headboard ranjang. Raiden bahkan mengganjal punggung Zafia menggunakan bantal.


"Aku tahu, Ray. Karena aku bisa merasakan semua ketulusan yang telah kau beri padaku. Aku sangat beruntung mengenalmu," ucap Zafia. Raiden tersenyum saat mendapat pujian dari Zafia.


Raiden keluar untuk mengambil pesanannya. Setelah menerimanya, Raiden menuju dapur dan mulai membuka satu per bungkus makanan. Pemuda itu dengan sepenuh hati melayani Zafia dengan senang.


Ia masuk dan lalu duduk di depan Zafia. Gadis itu masih merunduk sembari memijat pelipisnya.


"Apa masih pusing?" tanya Raiden.


"Ya, sedikit." Jawab Zafia.


"Baiklah, kamu harus segera makan agar bisa minum obatmu."

__ADS_1


Zafia membuka matanya dan mengangguk.


__ADS_2