
Hari kepulangan Zafia dan Raiden telah tiba. Namun, sesuai kesepakatan keluarga, Raiden dan Zafia tidak diberi ijin bertemu sampai hari pernikahan. Itu semua ide Dian, dan Velia pun jadi ikut-ikutan mendukung ide Dian.
"Momy tega sekali padaku?"
"Itu karena momy menyayangimu, Ray. Momy sedih jika kamu dimarahi ibu mertuamu terus."
"Mama Dian itu hanya baper, karena aku berhasil mencuri putrinya yang cantik itu."
"Jaga sikapmu, Ray," tegur Rian. Mereka bertiga berikut dengan Ravelo kini sedang berada di pesawat pribadi mereka menuju Indonesia.
"Mom, dady sepertinya ikut baper karena mau berbesanan dengan mantan istrinya dan mantan rivalnya," ujar Raiden semakin terbahak. Rian melengos kesal. Sedangkan Velia menutup mulutnya menahan tawanya.
Mereka semua tampaknya sudah sangat berdamai dengan masa lalu Rian yang begitu pelik. Pesawat mengudara sekitar kurang lebih 14 jam. Raiden benar-benar tak sabar menunggu hari esok.
Sementara Zafia dan keluarganya sudah tiba di Indonesia terlebih dahulu. Zafia di sambut keluarga besarnya dengan penuh keharuan. Karena memang setelah kelahiran putri pertama Zafrina, Gadis itu belum pernah pulang lagi ke Indonesia.
"Apa Rayden berulah lagi?" tanya Zafrina pada adik bungsunya itu.
"Tidak, kali ini adikmu yang bikin malu keluarga," sahut mama Dian. Sepertinya wanita yang telah melahirkan 4 orang anak itu masih kesal dengan putri bungsunya.
"Mah, aku kan sudah minta maaf," ujar Zafia cemberut. Zafia berkata sembari menyembunyikan wajahnya di lengan kakaknya Zayn.
"Kalian lihat adik kalian. Dia sudah mulai berani dan mengikuti gaya pacaran orang barat. Zafa juga, mama sering bilang untuk mengawasi adiknya, tapi malah sibuk. Coba kemarin kalau mama tidak datang, mama pasti akan kecewa sekali kalau sampai adik kalian kebablasan."
__ADS_1
"Sstt, tenanglah, Sayang. Kamu sepertinya perlu istirahat. Semakin tua kamu semakin sering mengomel. Kasihan cucu-cucu kita sampai bengong seperti itu."
Gerry membawa istrinya masuk ke kamar, karena jika dibiarkan tetap berada di sana. Maka setiap anak-anaknya akan mendapat omelan. Dan Gerry tidak mau itu terjadi.
"Mas, lepasin."
"Ga akan."
"Tapi aku masih belum selesai ngomong."
"Kamu bisa pakai sisa tenaga mengomelmu untukku saja, ok."
"Maksudnya ...?"
Saat Dian terlelap. Gerry pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu dia keluar dari kamar untuk berbicara dengan anak-anaknya.
Namun, saat berada di ruang keluarga. Yang ada hanya judy bersama kedua anak kembarnya.
"Dimana yang lainnya, Judy?"
"Mereka semua ikut bubar setelah papa membawa mama masuk ke kamar. Sepertinya kak Zafa dan Zafia sangat lelah."
"Lalu di mana suamimu?"
__ADS_1
"Ke kantor sebentar, Pah. Ada berkas yang harus di tanda tangani. Oh ya pah, Setelah resepsi acara Zafia, aku rencananya ingin pulang ke negara T. sudah lama aku tidak mengunjungi mereka."
"Boleh, tapi jangan lama-lama."
Judy hanya meringis mendengar pesan singkat papa mertuanya. Dia tahu pasti jika papa mertuanya tidak bisa jauh dari anaknya.
Tak lama Zayn datang. Dia sesaat menarik kepala Judy dengan lembut dan membenamkan ciuman di puncak kepala Judy.
"Kenapa mama tadi datang marah-marah, Pah?"
"Mamamu hanya terkejut dengan tingkah Zafia baru-baru ini."
"Apa mama memergoki Fia berciuman dengan Raiden?"
"Bukan, tetapi adikmu duduk di pangkuan Raiden. Dan sepertinya tidak hanya itu, makanya mama kamu marah. Dia sepertinya syok dengan kelakuan Zafia."
"Mama selalu menganggap Zafia masih kecil dan butuh diawasi terus. Itulah mengapa mama merasa terkejut dengan perubahan adikmu itu," kata Gerry.
"Sepertinya begitu. Mama masih belum siap melepaskan Zafia ku rasa," ucap Judy ikut menimpali. Ketiganya mengangguk.
Benar apa kata Judy. Dian sepertinya belum bisa sepenuhnya menerima semua ini.
"Ngomongin mama, ya?" Dian tiba-tiba muncul di samping Gerry. Gerry hanya tersenyum sembari membelai pipi istrinya.
__ADS_1
"Udah pasti," jawab Zayn sembari tertawa.