Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 47. Kontraksi


__ADS_3

Zafia sedang menemani Amanda dan Prince bermain Meski usia mereka terbilang masih kecil tapi Zafia sangat senang karena mereka selalu akur. Zafrina berhasil mendidik kedua batita itu dengan baik.


Usia Amanda saat ini hampir 3 tahun sedangkan Prince usianya juga hampir 2 tahun.


"Apa kakakmu sudah berangkat?" tanya Dian mendekati putri bungsunya.


"Ya, Mah." Zafia sedikit menegakkan tubuhnya sembari mengusap perutnya yang terasa menegang


"Ada apa, Fia? Apa kau merasa mau melahirkan?"


"Aku juga tidak tahu, Mah. Sejak tadi rasanya perutku mulas dan menegang."


"Oh ya ampun. Apa perlu aku menghubungi Raiden sekarang?"


"Tidak perlu, Mah." Zafia masih terlihat santai meski sesekali dia mendesis kesakitan. Namun, sejauh ini dia merasa masih bisa mengatasi rasa sakitnya.


Dian menatap Zafia cemas. Ada perasaan khawatir, tapi Dian tak ingin membuat Zafia malah ikut panik.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit saja, ya?" tawar Dian.


"Mama tenang saja. Aku tahu apa yang aku rasakan sekarang. Terima kasih mama dulu juga sudah bertaruh nyawa dan rela merasakan kesakitan seperti ini demi melahirkan aku."


"Apa yang kau bicarakan, Sayang? Setiap ibu pasti akan melakukan hal yang sama."

__ADS_1


"Tapi aku baru tahu jika rasanya sesakit ini, Mah. Maafkan aku jika dulu sering mengecewakanmu."


"Kau adalah kebahagiaan dan kebanggaan di keluarga kita. Semua anak-anak mama adalah orang-orang yang luar biasa dan hebat." Dian mengucapkan hal itu sembari menitikkan air mata. Dia tahu bagaimana rasanya melewati kontraksi dan dia kini melihat putrinya yang berusaha menahan rasa sakit itu.


Zafia tampak mengatur napas. Rasa sakit yang menderanya semakin sering terasa. Punggung dan area panggul ke bawah rasanya panas dan nyeri.


"Sonya, hubungi suamiku. Tanyakan kapan dia pulang. Aku sepertinya tidak bisa menunggu dia."


"Mah, aku akan ke rumah sakit. Mama di sini saja menjaga Amanda dan Prince. Nanti aku akan kabari mama."


"Bos sudah sampai mansion. Sebentar lagi tuan akan ke sini."


Dari depan Raiden mengambil langkah lebar menuju ke ruangan di mana istrinya berada. Mendapat kabar Zafia sudah kontraksi membuat debaran jantung Raiden menjadi luar biasa gaduh.


"Hampir 1 jam, Ray."


"Sonya bilang pada Robert untuk menyiapkan mobil. Kita ke rumah sakit sekarang."


"Mah, aku berangkat dulu." Zafia dan Raiden berpamitan pada Dian


"Ya sayang, semoga dimudahkan semuanya dan bayimu bisa lahir dengan selamat."


Raiden mengangkat tubuh Zafia yang semakin berisi, tapi Raiden seperti tak merasa keberatan atau pun terbebani.

__ADS_1


Mereka langsung pergi ke rumah sakit, Raiden benar-benar menjadi suami siaga untuk Zafia.


"Ray, jangan lupakan taruhan kita."


"Oh God. Kamu masih saja mengingatnya."


"Itu sudah tentu, Ray. Aku menantikan hari ini. Anak laki-laki adalah milikku dan anak perempuan adalah milikmu."


"Oh baiklah," jawab Raiden pasrah. Zafia sudah di barbaring di ranjang di ruang VK.


Zafia sesekali memejamkan matanya saat kontraksi kembali mendera perut dan tubuh bagian bawahnya. Raiden menggenggam tangan Zafia dan sesekali mengusap kening Zafia yang basah karena keringat yang mengucur deras.


Dokter yang menangani Zafia akhirnya masuk. Dia kembali memeriksa pembukaan Zafia dan dia meminta perawat menyiapkan semuanya karena Zafia sudah pembukaan sempurna.


"Oh God. Ini sakit sekali Ray."


Raiden yang sudah di sana sejak tadi dengan baju sterilnya menatap Zafia tak tega.


"Semangat baby."


Setelah menunggu beberapa waktu dan melihat perjuangan Zafia yang begitu hebat, akhirnya suara tangis yang begitu keras memecah suasana haru.


"Selamat, Nyonya. Putra anda lahir dengan selamat."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2