Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 13. Krisis Kepercayaan


__ADS_3

Tidak ada hal yang bisa menggambarkan bagaimana suasana hati Raiden saat ini. Dia terlalu senang mendengar ucapan Zafia. Dalam hati dia benar-benar berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakan gadisnya itu.


Setelah tadi Zafia menerima lamaran Raiden. Gerry meminta Dino untuk mengurus kepulangannya ke Indonesia besok.


Gerry tak menyangka satu per satu anak-anaknya telah memiliki pasangan. Zafia kini akan melangkahi dua kakaknya Zafa dan Zayana. Karena Zayana ingin menikah awal tahun depan.


Saat menatap Zafia, Gerry malah ragu apakah rumah tangga yang kelak akan mereka jalani berjalan lancar atau malah akan diwarnai dengan keributan. Mengingat sifat Zafia dan Raiden sama. Sama-sama keras kepala, tapi jika Gerry lihat, Raiden sangat mencintai putrinya dan begitu menjaga. Mungkin dengan menikahkan mereka, Raiden bisa sepenuhnya menjaga Zafia. Mengingat pekerjaan Zafia yang tak biasa. Gerry yakin putrinya pasti memiliki banyak musuh.


"Papa besok akan pulang dan mengatakan pada mamamu mengenai hal ini. Untuk urusan yang lainnya nanti papa akan terus kabari kamu."


"Tapi, Pah." Zafia melirik Raiden sekilas lalu kembali menatap papa nya dengan serius.


"Ada apa, Sayang?"


"Aku dan Raiden hanya akan bertunangan dulu, kan?"


"Untuk apa bertunangan, kalian lebih baik langsung menikah. Dengan begitu papa akan lebih tenang meninggalkanmu dalam pengawasan Raiden.


" Tapi kak Zafa dan kak Zayana belum menikah."


"Mereka akan menikah pada saat yang tepat. Sekarang yang terpenting adalah dirimu. Jangan banyak memikirkan hal yang macam-macam. Biar perusahaanmu Dino yang pegang. Kamu hanya tinggal menerima hasil kerja orang-orangmu."


Zafia hanya diam mendengar ucapan papanya. Dia merasa memang perlu beristirahat sejenak dari kesibukannya di depan layar, tapi untuk menikah? sepertinya hal itu sudah melenceng terlalu jauh dari cita-citanya.


Setelah papanya pergi, Zafia tampak melamun. Raiden yang baru saja mengantar calon mertuanya tersenyum tipis. Pasti Zafia syok dengan keputusan papanya.


"Fia, ada apa? apa kau tidak suka menikah denganku?"

__ADS_1


"Tidak, bukan begitu, Ray. Aku hanya merasa semua seperti mimpi."


"Jika kau menganggap ini mimpi, maka selamat datang di dunia mimpiku. Karena kau satu-satunya impian yang ingin ku raih."


"Ray." Zafia menatap Raiden dengan sendu.


"Ya." Raiden membalas tatapan Zafia dengan tatapan yang sangat meneduhkan hati Zafia yang sedang dilanda kegalauan.


Saat keduanya tengah saling meyakinkan lewat tatapan mata, Pintu ruang perawatan Zafia diketuk dari luar.


Pintu perlahan terbuka, Pinot masuk dengan membawa sebuket bunga.


"Apa aku mengganggu kalian?"


"Tidak, Masuklah," kata Raiden.


"Zafia tampak datar. Dia sedang mengalami krisis kepercayaan pada sahabat-sabahatnya. Dia sebenarnya juga tidak mau berada di fase ini, tapi dia juga tidak bisa mengendalikan perasaannya.


"Aku baik, Terima kasih."


"Apa kau marah padaku?" tanya Pinot.


"Apa kau berbuat kesalahan padaku?" tanya Zafia balik. Pinot menggeleng. Gadis manis itu merasa sedih dengan perubahan Zafia sekarang.


"Jika tidak, berarti tidak ada alasanku untuk marah padamu."


"Aku harap kau segera pulih. Agar kita bisa berkumpul lagi."

__ADS_1


"Ya. Terima kasih."


Pinot keluar dari ruangan Zafia dengan wajah sendu. Persahabatan yang mereka jalin cukup lama hancur karena satu penghianat.


"Aku membencimu, Bella. Kamu sudah membuat Zafia berubah."


Sementara itu di kamar rawat inapnya Zafia menangis. Raiden langsung memeluknya.


"Aku benci dengan diriku, Ray. Aku benci." Zafia memukul-mukul dadanya. Raiden memegangi tangan Zafia. Dia tahu apa yang sedang Zafia alami.


"Ini bukan salahmu, Fia. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Wajar kamu sekarang kehilangan rasa percayamu pada mereka. Jangan menyakiti dirimu sendiri."


Zafia menangis menumpahkan semua rasa sesak di dadanya. Raiden hanya terus mengusap punggung Zafia dan memenangkannya.


Lama kelamaan tubuh Zafia merosot. Raiden menyadari Zafia kembali pingsan. Dia membaringkan tubuh calon istrinya dan menekan tombol darurat. Tak lama seorang dokter jaga dan seorang perawat masuk ke ruangan Zafia.


"Ada apa?"


"Kekasihku pingsan lagi."


Dokter itu pun langsung mendekat ke arah Zafia dan memeriksanya.


"Apa dia barusan menangis?"


"Iya, dia mendapat kunjungan dari temannya tapi sepertinya setelah kejadian dia dicurangi oleh temannya dia merasa krisis kepercayaan."


"Sebaiknya jangan biarkan dia bertemu dengan temannya atau siapapun yang dapat memicu stressnya."

__ADS_1


"Baik, Dok."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2