
Raiden dan Zafia benar-benar menghabiskan waktu honeymoonnya dengan banyak petualangan. Baik itu petualangan di ranjang maupun di jajaran pantai yang mereka kunjungi. Dari pantai Kuta Lombok sampai pantai Senggigi. Semuanya sudah dijelajahi oleh pasangan muda itu. Kini mereka sudah berada di dalam pesawat menuju Jakarta, karena besok pagi mereka akan kembali ke Massachusetts, Amerika Serikat.
"Nanti disana jangan tinggal di apartemen, ya?"
"Memang kenapa, Ray?"
"Biar pun usiaku masih muda, tapi aku ingin terlihat punya tanggung jawab, Baby."
"Tapi aku tidak suka tinggal di tempat yang terlalu besar."
"Rumah yang aku beli tidak terlalu besar, Fia. Ayolah harga diriku benar-benar dipertaruhkan di sini. Apa kata papiku kalau tahu aku menumpang di tempatmu."
"Iya, baiklah. Terserah padamu."
Zafia hanya pasrah saja. Tubuhnya terasa letih karena tidak memiliki jeda istirahat. Pagi hingga sore ia dan Raiden menjelajah pantai dan malamnya mereka mengeksplorasi keindahan tubuh satu sama lain.
Setibanya di Jakarta, Zafia tidak pulang ke rumah orangtuanya. Dia harus mulai terbiasa dibawa Raiden pulang ke rumahnya.
Zafia disambut mama Velia, papa Rian tidak ada di rumah karena ada meeting di luar kota.
"Mom, aku naik ke atas, ya? Zafia kelelahan."
"Kenapa kamu membuat menantu mama kelelahan?" tanya Velia sembari menatap putranya tajam. "Jangan sampai hal ini terdengar oleh mama, papanya Zafia. Bisa-bisa Zafia di bawa pulang lagi oleh ibunya," sambung Velia.
"Fia bukan orang yang suka mengadu," kata Raiden.
"Mommy yang akan adukan kamu pada orang tuanya."
__ADS_1
"Ih mama menyebalkan sekali." Raiden naik ke kamarnya sembari menggandeng tangan istrinya. Velia hanya terkekeh melihat kekesalan Raiden.
"Selamat datang di kamarku," ujar Raiden.
Zafia mengedarkan pandangannya. Dia mengangguk sembari tersenyum.
"Kamarmu bagus, rapi, aku suka."
"Jika begitu tidurlah dulu. Aku akan bicara dengan mommy di bawah."
"Ya, baik lah."
Zafia pun akhirnya merebahkan tubuhnya di ranjang Raiden. Setelah Raiden menghilang di balik pintu, Perlahan kelopak mata Zafia terpejam.
Zafia tak tahu sudah berapa lama dia tertidur, yang jelas ketika terbangun, Raiden sudah memeluknya dalam keadaan setengah telanjang.
"Ray, jam berapa ini?"
"Tidak, bukan begitu."
"Lalu apa, Baby?"
"Jawab saja jam berapa?"
"Ini sudah pukul 5 sore."
"Aku sudah tidur 3 jam, Ray?
__ADS_1
"Lalu kenapa? itu wajar kamu kan capek. Nanti bangunnya pas makan malam saja."
"Jangan begitu, aku mau mandi lalu bantu mami di dapur."
"Tidak usah, mami tidak akan membolehkan kamu di dapur."
"Kenapa?"
"Kamu itu menantu kesayangan jadi tidak usah repot memikirkan ini dan itu. Tadi saja mami mengatakan padaku untuk tidak membangunkanmu dan mengganggu tidur siangmu."
"Benarkah?"
"Hmm, ayo tidur lagi. Aku juga mengantuk. Atau kamu mau melakukan hal yang lain?"
"Tidak. Ayo kita tidur lagi saja."
Zafia kembali memejamkan mata dan Raiden memeluknya seperti boneka.
Saat makan malam pun tiba, Raiden dan Zafia turun dengan wajah yang lebih bersemangat dari saat mereka tiba.
Raiden menarik satu kursi untuk Zafia. Keduanya duduk berhadapan dengan Velia dan Rafelo. Sedangkan Rian duduk dengan tenang menatap ke arah anak dan menantunya.
"Bagaimana liburan kalian?"
"Cukup bagus dan melelahkan sekali."
"Kau harusnya lebih banyak olahraga agar badanmu tidak mudah lelah, Ray."
__ADS_1
"Papi meledekku ya?"
"Papi hanya memberikan saran saja."