
Raiden memutuskan membawa pulang Zafia. Akan tetapi sebelum itu, dia ingin mengajak Zafia ke markas. Dia ingin menunjukkan sesuatu pada istrinya itu. Musuh dalam selimut yang selama ini selalu ingin mencelakai istrinya.
"Kenapa kita harus ke markas?"
"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Ku harap kau siapkan saja hatimu."
"Kau membuat jantungku berdebar, Ray."
"Sebenarnya mereka sudah cukup lama ada di markas. Dan aku rasa penyerangan kali ini ada hubungannya dengan salah satu dari mereka."
"Apa kau menyekap para penghianat di perusahaanku?"
"Kau akan tahu setelah ini."
Raiden menghentikan mobilnya di depan markas dan membukakan pintu untuk Zafia.
"Apa ayahku sudah pulang?"tanya Raiden pada anak buahnya.
"Tuan Rian ada di atas dengan tuan Leo."
Raiden hanya menanggapinya dengan anggukan kepala. Dia menggandeng Zafia memasuki Markas yang besarnya melebihi lapangan sepak bola itu.
"Ayo kita lihat mereka!"
"Tapi ini ruangannya bersih, 'kan? aku tak ingin mual lagi."
"Ya aku pastikan ruangan itu bersih."
__ADS_1
Zafia masuk ke dalam sebuah ruangan seperti ruangan studio. Di depannya ada kaca yang menampilkan ruangan di sebelahnya. Di ruangan sebelah itu ada Miguel, Ferran dan Erdogan.
"Ray, mereka?"
"Ya, Aku sudah menyelidiki mereka. Miguel dan Ferran bekerja pada pria itu. Pria itu adalah salah satu musuhmu di luar."
"Salah satu?" Zafia mengernyitkan alisnya. Dia seolah memiliki banyak musuh saja jika suaminya berkata seperti itu.
"Kau pikir kau tidak pernah punya musuh?"
"Ya, aku rasa begitu. Karena aku memang tidak pernah mencari musuh. Mereka yang mencariku, Sayang." Zafia menatap dingin ketika mengatakan hal itu, Julian yang ada di ruangan itu tersenyum tipis mendengar ucapan istri bosnya itu.
Zafia kembali menatap ke arah kaca itu. Dia tidak bisa berkata apa-apa saat ini.
Hatinya sudah sangat kecewa. Dari Bella hingga Ferran, bahkan Miguel orang yang sudah cukup lama dia kenal. Mereka semua terlalu mengecewakan.
"Aku tidak punya sahabat." Suara Zafia sampai bergetar saat mengatakan hal itu dan Raiden tidak menyukainya.
"Kau bersedih karena mereka?"
"Tidak. Untuk apa aku bersedih untuk mereka. Aku hanya mengasihani diriku sendiri. Memiliki otak jenius, tapi ternyata aku tidak cukup pintar untuk menyaring circle pertemananku."
"Itu bukan kesalahanmu, Baby."
"Lakukan apapun yang ingin kalian lakukan pada mereka. Aku tidak peduli. Sekarang antarkan aku pulang, Ray. Aku lelah."
Zafia berjalan keluar dari ruangan itu. Raiden mengepalkan tangannya. Meski Zafia mengatakan dirinya baik-baik saja, tapi Raiden tahu jika Zafia saat ini sangatlah terluka.
__ADS_1
"Siksa mereka Julian. Aku ingin mereka menyesali apa yang telah mereka lakukan pada istriku."
"Baik, Bos."
"Kau masih mengawasi Bella kan?"
"Ya, Bos. Dia dalam pengawasan ku. Meski aku mencintainya, aku pun tidak menyukai seorang penghianat. Jika sampai dia kembali melakukan kesalahan. Aku sendiri yang akan melenyapkannya."
"Baiklah, ku pegang kata-katamu."
Raiden akhirnya menyusul Zafia yang telah lebih dulu meninggalkan dirinya.
Zafia bertemu dengan ayah mertuanya dan juga mertua dari kakaknya.
"Uncle Leo. Apa kabar?"
"Kabar baik, Sayang. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Tadi aku sedang melihat hasil buruan Raiden."
"Tapi ini belum masuk musim berburu bukan?"
"Buruan Raiden kali ini adalah manusia rendahan, Uncle."
"Oh, aku kita buruan yang sesungguhnya. Apa kau sedang sakit? Wajahmu sedikit pucat?" Rian menoleh dan ikut menatap menantunya.
"Apa kau sakit, Fia?" tanya Rian. Jujur saja menantunya ini sering membuat dirinya was-was. Jika sampai Zafia sakit, bisa-bisa istri dan mantan istrinya akan menyalahkan dirinya. Karena dikira tak becus menasehati putranya.
__ADS_1
...****************...