
Entah karena feeling seorang ibu atau memang hanya kebetulan semata. Dian memaksa ingin mengunjungi Zafia hari itu, Saat Zafa menelepon, Gerry ternyata sedang berada di Dubai. Pesawat transit di sana selama 3 jam. Wajah Gerry terlihat resah. Bagaimana jika Dian sampai tahu?
"Ada apa, Mas?"
"Engga ada apa-apa, Sayang. Tadi aku minta Zafa untuk mengecek Zafia apakah ada di rumah atau tidak." Dian mengangguk dan percaya begitu saja ucapan suaminya.
Sementara panggilan dari pengeras suara terdengar. Gerry dan Dian bersiap untuk segera naik ke pesawat komersil Emirat. Awalnya Gerry sudah meminta Marvel menyiapkan pesawat pribadinya, tapi istrinya meminta memesan tiket pesawat komersil. Dian rindu menikmati saat-saat duduk bersama penumpang lain dan mau tak mau, Gerry akhirnya mengabulkan permintaan istrinya itu.
***
Di dalam ruang perawatan Zafia, dokter baru saja melepaskan jarum infus dari pembuluh darah Vena Zafia. Dia sudah diijinkan pulang karena kondisinya sudah membaik.
Setelah Raiden menyelesaikan biaya administrasi Zafia. Dia segera membawa Zafia pulang ke apartemen. Raiden masih belum bisa memberi pelajaran pada Steven. Dia harus benar-benar memastikan keadaan Zafia pulih sepenuhnya.
Keduanya kini berada di dalam kamar Zafia. Raiden baru saja selesai mandi dan berganti baju. Tubuhnya mengeluarkan aroma wangi maskulin perpaduan antara aroma sabun mandi dan body scent yang dipakai oleh Raiden.
Raiden duduk di sofa tunggal. Zafia berjalan mendekatinya. Gadis itu tanpa permisi duduk di pangkuan Raiden. Zafia kini justru bergelayut manja di leher pemuda itu.
"Ada apa denganmu?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin begini, sebentar saja."
__ADS_1
"Lama juga tak masalah," ujar Raiden sembari tersenyum. Senyum yang jarang dia perlihatkan kecuali pada orang-orang terdekatnya.
Di saat keduanya membangun keintiman, tiba-tiba pintu kamar Zafia terbuka.
"Ya Tuhan, Fia. Apa yang kamu lakukan!" pekik Dian, wanita itu masuk ke kamar Zsfia, matanya terbelalak menatap kedua remaja itu dengan tatapan setengah tak percaya. Dian melihat dengan mata kepalanya sendiri. Zafia bergelayut manja di pangkuan Raiden. Anak dari mantan suaminya dulu.
Zafia melompat dari atas pangkuan Raiden. Raiden pun reflek berdiri.
"Mama!" seperti tak merasa bersalah karena ketahuan begitu, Zafia justru berseru dan memeluk tubuh mamanya.
"Fia rindu sama mama," ujar Gadis 19 tahun itu. Dian hanya diam sembari menatap Raiden tajam. Namun, bukannya merasa terintimidasi, Raiden tetap berdiri dengan tenang.
"Kalian berdua ikut ke ruang depan. Bikin pusing saja." Dian berjalan mendahului Zafia dan Raiden. Zafia sesaat melirik Raiden dan kemudian gadis itu malah tertawa tanpa suara.
"Mana Fia, Mah?"tanya Gerry.
"Mereka berdua sedang menuju ke sini. Bikin malu saja. Anak kamu, Pah. Kepalaku sampai sakit." Dian duduk di samping suaminya sembari memijat pelipisnya.
"Sudah, tenang dong, Mah. Kan kita di sini tujuannya juga memang mau bahas mereka."
Raiden memasuki ruangan masih dengan menggandeng tangan Zafia. Setelah keduanya menyapa para orangtua, Zafia dan Raiden duduk bersebelahan di hadapan orangtua mereka.
__ADS_1
"Jadi ini alasan kamu jarang pulang, Ray?" tanya Rian. Pria itu menatap putranya dengan tajam.
"Raiden kan sudah pernah bilang akan menjaga Zafia."
"Kamu bilang sama papi menjaganya, Ray. Bukannya tinggal bersama."
"Ya apa bedanya?" tanya Raiden memasang wajah cuek.
"Jelas beda Ray."
"Sekarang bagaimana?" tanya Dian pasrah. Dulu Zafrina kedapatan tidur dengan Zicco dan sekarang Zafia malah tinggal seatap dengan Raiden. Dian benar-benar merasa pusing sekarang ini.
"Ya sudah, Kita percepat acarannya saja. Kita adakan di Indonesia," kata Gerry.
"Terserah kalian saja," jawab Rian yang mendapat cubitan keras istrinya.
"Jangan hanya terserah, kau juga harus bertanggung jawab atas semua ini," kesal Dian memarahi Rian.
"Putraku pasti bertanggungjawab," ujar Rian.
"Hmm, baguslah."
__ADS_1
Zafia dan Raiden menatap bengong kedua orang tua mereka masing-masing. Meraka semua seperti tidak menganggap keberadaan dirinya.
"Besok kalian ikut kami pulang," kata Dian tak ingin dibantah.