Cinta Sang Psikopat

Cinta Sang Psikopat
Bab 20. Semakin Curiga


__ADS_3

Raiden pulang ke apartemen Zafia cukup larut. Namun, baru sampai depan pintu, Raiden kembali menemukan amplop. Marco dan Sonya berada di dalam. Mereka pasti tidak akan sadar ada orang yang menaruh amplop itu di luar.


Raiden menekan beberapa angka hingga akhirnya pintu apartemen itu terbuka. Di dalam apartemen Zafia, Marco dan Sonya berdiri di dekat pintu kamar Zafia.


"Marco, berjagalah di luar. Aku sudah menghubungi Damian agar kemari untuk bergantian denganmu. Ramon dan Julian sedang ada tugas dariku."


"Baik, Bos." Marco segera keluar dari apartemen Zafia seperti intruksi dari bosnya itu.


Sementara itu, Raiden menatap Sonya dengan sorot mata yang tajam. Sonya tetap diam berdiri di posisinya.


"Makanlah dulu, biar aku yang menjaganya," ucap Raiden. Sonya segera beranjak. dia berjalan menuju keluar apartemen Zafia.


Raiden menatap Zafia yang tertidur dengan posisi tubuh yang tak biasanya. Raiden meletakkan amplop coklat yang dia bawa ke atas meja. Dia dengan lembut melepas sepatu Zafia.


"Pasti capek, ya?"


"Iya, capek banget," sahut Zafia. gadis itu membuka matanya dan menatap Raiden teduh. Keduanya terdiam sesaat dengan pandangan yang saling bertaut.


"Kau dapat amplop lagi dari pengagum beratmu."

__ADS_1


"Biarkan saja, Ray aku malas menanggapinya."


Raiden menarik amplop itu dan menyobeknya. Dia mengambil foto-foto yang ada di dalamnya. Tak lama, tangan Raiden terkepal.


"Jika dia tertangkap, aku akan membawanya dan mengulitinya hidup-hidup."


Zafia merebut foto-foto itu dari tangan Raiden. Matanya menatap seksama foto-foto itu. Alis Zafia sesaat bertaut. Foto ini diambil saat dirinya di kampus tadi.


"Ray, Aku sepertinya mulai tahu orang yang menerorku," ujar Zafia.


"Siapa?"


"Kenapa begitu?"


"Feeling ku mengatakan begitu."


"Kita lihat dulu, apa yang diinginkan. Kamu juga sebaiknya berhati-hatilah," kata Raiden.


Raiden keluar dari kamar. Dia menghubungi Julian untuk menyelidiki dosen yang bernama Steven itu. Ia tak tenang jika musuh Zafia bertindak terang-terangan seperti itu. Raiden khawatir pria itu maniak atau justru psikopat sama seperti dirinya, psikopat.

__ADS_1


Zafia keluar dari kamarnya dan memeluk tubuh Raiden dari belakang. "Apa kau tidak merindukanku?" tanya Zafia dengan suara lirih. Kedua tanganya membelit manja perut Raiden.


"Aku selalu merindukanmu, Fia."


Raiden berbalik dan melingkarkan tangannya di pinggang Zafia. Senyumnya terukir dan tak lama Raiden menghadiahi Zafia dengan kecupan lembut di bibirnya.


"Di mana pun aku berada, aku selalu merindukanmu, Baby."


Raiden tersenyum sembari mengusap pipi Zafia. Wajah Zafia seketika merona. Senyum indah terukir di wajah Zafia. Zafia menyandarkan pipinya di dada Raiden.


Sesaat ia diam mendengarkan suara denyut jantung Raiden yang berdetak tak karuan. "Kenapa jantungmu berdebar kencang sekali, Ray?"


"Itu karena kamu, kamu yang membuat denyut jantungku menjadi tak santai."


Raiden mengangkat tubuh mungil Zafia. dia menggendongnya seperti menggendong bayi panda. Meskipun tubuh Raiden tidak sekekar binaragawan, tapi staminanya sangat luar biasa.


"Sebaiknya kau makan dulu. aku sudah membawakan beberapa makanan untukmu."


"Hmm, ya. Aku juga sudah lapar."

__ADS_1


Raiden tersenyum, dia mendudukkan Zafia di kursi dan dia duduk di sampingnya. Raiden mengamati Zafia makan. Seulas senyum terbit di bibir Zafia karena ia merasa di perhatikan oleh Raiden. Zafia mengambil satu sendok penuh makanan dihadapannya dan lalu menyuapi Raiden.


__ADS_2