CINTA SUAMI WARISAN

CINTA SUAMI WARISAN
CSW # 12


__ADS_3

...Selamat menikmati...


Mentari pagi kembali memperlihatkan sinarnya yang keemasan setelah perlahan menggeser rembulan yang menguasai malam.  Perlahan Oman membuka matanya kemudian bergegas masuk ke kamar mandi membersihkan diri sebelum bergabung untuk sarapan bersama


Melihat kamar Zabina yang masih tertutup rapat pertanda penghuninya belum bangun.  Beberapa waktu menjadi penghuni kamar yang berhadapan dengan kamar Zabina membuat Oman tahu kebiasaan adik iparnya yang sangat sulit bangun pagi.


Oman tak menyia-nyiakan kesempatan untuk memberikan amplop yang ditemukannya semalam. Kebetulan kedua orang tua dan mertuanya sedang menikmati teh hangat di gazebo yang berada di taman.  Bersamaan dengan Zayyan yang keluar dari kamarnya kemudian mengikuti langkah Oman menghampiri para orang tua


“Assalamualaikum, semuanya,,,,” sapa Oman dan Zayyan kompak


“Waalaikumsalam nak,,,ayo gabung sini,,,” Arya mengajak kedua pria tampan didepannya.


“Yan,  panggilin Nana dong,  kebiasaan tuh anak gadis susah bangun pagi,,” Devania tak habis pikir dengan kelakuan putri bungsunya yang sangat sulit bangun pagi


“Biarkan aja mom,,,mungkin semalaman begadang,,,” seperti itulah Zayyan selalu membela adik bungsunya di depan mommy dan daddynya.


Zayyan selalu berusaha agar mommynya tidak mengomeli Zabina. Zayyan berusaha menumbuhkan rasa percaya pada diri Zabina jika kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Zabina yang merasa diabaikan sejak kecil sehingga terkadang menjadi pembangkang bahkan sikapnya yang cuek merupakan salah satu bentuk protesnya.


Bahkan hingga saat ini Zabina tidak pernah meminta sesuatu pada mommy dan daddynya.  Semua kebutuhan Zabina terpenuhi dengan penghasilan dari warisan dari oma dan opanya.


Zabina mendapatkan warisan berupa saham pada beberapa perusahaan dari pihak oma Bella. Orang tua oma Bella juga merupakan pebisnis besar pada jamannya sehingga Oma Bella memiliki aset yang bisa ia bagikan pada cucu-cucunya.


Meskipun mommy dan daddynya sudah membagikan perusahaan untuk anak-anaknya, namun Zabina sama sekali belum mengurusnya bahkan uang yang selalu masuk kerekeningnya belum pernah digunakan.


Zayyan mengetahui semuanya karena diam-diam ia menaruh orang kepercayaannya dibank dimana rekening Zabina berada. Bahkan black card yang dimilikinya belum pernah digunakan. Hal ini pulalah yang membuat mommy dan daddynya tidak bisa menekan anak bungsunya.

__ADS_1


“Ini buat mommy dan daddy,,,,” seraya menyerahkan amplop yang bertuliskan mommy dan daddy


“Dan ini untuk bunda dan ayah,,, “ kembali Oman menyodorkan amplop berikutnya pada kedua orang tuanya


“Surat dari mana,  Man,,,” Zayyan penasaran karena masih terlalu pagi Oman sudah bagi-bagi amplop.


“Dari Zalsa. Semalam aku menemukannya pada lipatan bajuku ketika aku membereskan bajuku,,,” jelas Oman dengan wajah datar


“Bukankah daddy memintamu tinggal hingga tujuh harinya Zalsa ??? “


“Tapi kan aku harus membereskan baju yang jarang kupakai,,,”


Zayyan menatap datar sahabatnya yang kini sudah menjadi duda, semoga saja setelah kepergian Zalsa,  sahabatnya ini tidak memupuk perasaannya pada adik ajaibnya. Ada baiknya memang Oman meninggalkan rumah secepatnya agar bisa melupakan Zabina.


Zayyan sangat mengenal sahabatnya dengan baik. Oman ingin meninggalkan rumah keluarganya bukan karena tidak bisa melupakan Zalsa akan tetapi ingin jauh dari Zabina. Setiap hari Zayyan selalu melihat Oman menatap adik kesayangannya dengan tatapan penuh cinta dan tidak mungkin Zayyan melarang Oman bertemu dengan Zabina jika mereka berada dibawah satu atap.


“Sebaiknya daddy baca surat Zalsa dulu,  aku penasaran isinya,,,” Zayyan mendesak daddy dan mommynya untuk segera membuka amplop tersebut.


“Kita sarapan dulu,  Yan.  Surat ini kamu bawa ke ruang kerja daddy.” Titah Arya kemudian berjalan beriringan dengan besannya eh mantan besannya menuju ruangan khusus yang berada diantara ruang keluarga dan dapur.


Sementara itu dimeja makan Zabina sudah duduk dengan manis sambil menikmati sarapannya tanpa bersuara,  hanya tersenyum sekilas kemudian melanjutkan sarapannya.  Oman tak melewatkan kesempatan yang ada dan langsung menarik kursi yang berada didepan Zabina.  Kursi yang selama ini merupakan tempat duduk Zalsa.


“Tumben sudah bangun,,,” Arya tersenyum  menatap Zabina


Zabina kembali tersenyum tanpa membalas daddynya karena sedang makan.  Aturan dari oma Bella jika sedang makan tidak boleh berbicara melekat sempurna dalam diri Zabina.

__ADS_1


Tak lama Zayyan ikut bergabung dan duduk di samping Zabina, mereka kemudian ikut menikmati sarapan dengan hikmat tanpa bersuara hanya sendok dan garpu yang beradu dengan piring hingga mengeluarkan suara khasnya hingga tuntas.


“Bos,  hari ini belum ngantor,kan  ????” tanya Zabina setelah minum air putihnya.


“Kita kerja dari rumah aja, ya.  Besok atau lusa kita ngantor. “


“Kalian ikut daddy sama mommy ke ruang kerja.  Kita baca bersama-sama surat Zalsa,,” Arya kemudian berdiri mendahului semuanya.  Bunda dan ayah Oman pun berdiri menuju kamar mereka untuk membaca surat Zalsa.


“Nana gak ikut dad. Nana dikamar aja. “ Zabina lalu berjalan menuju tangga yang menghubungkan kamarnya


Arya hanya menyentuh lembut pundak Devania yang akan mengomeli Zabina. Sikap cuek dan  tidak peduli inilah yang tidak bisa diterima oleh Devania.


Apakah ini balasan putri bungsunya atas perlakuannya selama ini ???? Tidak bisakah mereka dekat layaknya ibu dan anak  ??? Sampai kapan Zabina akan seperti ini  ???? Hanya pada Zayyan ia bisa berlaku hangat. Devania mendengus kasar menatap punggung putrinya yang menghilang diujung tangga.


***


...VOTE...


...KOMEN...


...LIKE...


...FAVORIT...


...BOOM LIKE...

__ADS_1


...JANGAN LUP YA....


...Love you bertubi-tubi...


__ADS_2