
...selamat membaca ...
Cahaya terang yang terpancar dari balik gorden mengusik mimpi indah Zabina. Dengan perlahan ia bangun dan duduk ditempat tidur mengumpulkan nyawanya yang sebagian masih tersisa di alam bawah sadarnya.
Sebelum perutnya meminta haknya untuk diisi, Zabina melesat ke kamar mandi untuk melakukan ritual rutinnya dipagi hari, hanya beberapa menit karena tinggal diapartemen mengharuskannya menyiapkan sarapan sendiri.
Roti gandum dan segelas susu ia nikmati seraya mengaktifkan ponselnya yang dimatikan sejak semalam. Sambil mengunyah rotinya, matanya terbelalak melihat panggilan tak terjawab dari kakaknya-mommy dan daddynya.
Astaga ada apa dengan mereka, aku kan pamit semalam kalau nginap diapartemen. Melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda. Zabina memilih mengabaikan puluhan panggilan tak terjawab dari kakak dan orang tuanya
Selesai makan dan perut terasa kenyang membuatnya tersenyum bahagia sambil memasukkan ponsel kedalam tasnya dan meraih kunci mobilnya, Zabina melangkah keluar apartemen kemudian menguncinya dan memasuki lift yang hanya berjarak beberapa langkah dari apartemennya.
Drrrrttttt drrrrttttt
Baru saja Zabina akan membuka pintu mobilnya, ponselnya kembali menjerit minta perhatian dari si empunya. Melihat nama “Sumber Uangku” is calling, Zabina segera menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan.
“Assalamualaikum,,,” sapa Zabina ceria melupakan jika semalam emosi
__ADS_1
“Segera ke rumah sakit Medistra Care ! “ lirih Zayyan terdengar menahan tangis
Klik
'Ada apa dengan sumber uangku,,, Sebaiknya aku segera kerumah sakit sesuai perintahnya. Atau jangan-jangan,,,Ya Tuhan pasti kak Zalsa'. gumam Zabina tiba-tiba mengkhawatirkan Zalsa
Zabina segera menancap gasnya menuju rumah sakit Medistra Care, rumah sakit yang secara rutin dikunjungi oleh kakaknya untuk cuci darah. Berbagai pikiran berkecamuk selama dalam perjalanannya, namun Zabina tetap fokus menyetir.
Hingga tiba di rumah sakit, Zabina segera berlari keruangan dimana Zalsa dirawat sesuai dengan petunjuk suster dibagian informasi.
Arya segera merengkuh tubuh anak bungsunya kedalam pelukannya dan mencium pucuk kepala Zabina tanpa bersuara. Terlihat kesedihan terpancar dari wajahnya yang masih terlihat tampan
“Dad,,,ada apa dengan kak Zalsa ??? Kenapa semua terlihat tegang dan sedih ???”
Tak jauh dari tempatnya, Oman menatapnya dengan dingin dan tampak menahan amarahnya. Meskipun Oman tidak mencintai istrinya namun tetap saja kesal dan marah melihat penyebab dropnya Zalsa berdiri di depannya. Ingin rasanya Oman mencekik Zabina yang lebih membela pacarnya daripada mendengar kata-kata kakaknya.
Dari jauh kedua orang tua Oman terlihat menghampiri mereka. Devania dan Lisa saling berpelukan kemudian Lisa memeluk Oman. Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan dimana Zalsa terbaring.
__ADS_1
“Dok, bagaimana kondisi anak kami,,,” Arya dan Devania mencegat dokter Rico, dokter yang menangani Zalsa.
“Kondisinya jauh dari kata baik, bu, pak,,,Zalsa lagi-lagi mengabaikan jadwal cuci darahnya dan kali ini hanya doa dan keajaiban yang bisa menolongnya. Silahkan menemuinya dan berikan dukungan semoga bisa menolong,,,” dokter Rico menjelaskan dengan wajah yang sulit diartikan.
Zabina terduduk lemas dikursi depan ruangan ICU. Zayyan segera menghampiri sang adik dan menenangkannya. Zayyan tau jika adik kecilnya merasa bersalah karena pertengkaran mereka semalam.
“Bukan salah siapa-siapa dek,,, kamu dengar kan kata dokter Rico ??? Zalsa yang bandel mengabaikan jadwal cuci darahnya. “
Zabina kembali menangis pilu, sedangkan semua anggota keluarga masuk kedalam ruangan. Bukan hal biasa jika dokter sudah mengijinkan semua anggota keluarga masuk kedalam ruangan ICU. Zayyan perlahan menuntun Zabina masuk kedalam ruangan menemui Zalsa.
***
maaf ya up_nya pendek,,,
jangan lupa tinggalkan jejaknya
salam hangat dari dunia halu
__ADS_1