CINTA SUAMI WARISAN

CINTA SUAMI WARISAN
CSW # 09


__ADS_3

...Selamat membaca,,,,...


Semalaman Zalsa dirawat diruang ICU menunjukkan kemajuan meskipun wajahnya nampak pucat,  dokter menyarankan agar dipindahkan ke ruang perawatan sambil menunggu kondisinya yang memungkinkan untuk cuci darah.


Dengan wajah berbinar Zabina melihat dokter Rico sambil tersenyum, namun tatapan tak bersahabat dari Oman tidak pernah lepas. Berbeda dengan ibunya yang selalu merangkul Zabina setiap kali bertemu. Lisa memang menyayangi Zabina dan memperlakukan Zabina layaknya seorang putri kandung. Berbeda dengan anaknya yang selalu menatap Zabina dingin.  Entah kesalahan apa yang pernah Zabina lakukan.


Haruskah aku menghampirinya dan bertanya apa kesalahanku? Bukankah sejak menikahi kak Zalsa, kami bertegur sapa bisa dihitung dengan jari? Lalu mengapa tatapannya begitu dingin.


Sambil menggeleng-gelengkan kepala dan membalas tatapan dingin milik Oman dibalik pelukan hangat Lisa.


Belum juga kesampaian membawa  Zalsa ke ruang perawatan dari dalam ruangan ICU  dimana  Zalsa terbaring berusaha berjuang melawan penyakitnya, dokter kembali menemui keluarga pasien  untuk menemui  Zalsa yang sedang sekarat


“Keluarga nyonya Zalsa silahkan menemui pasien, “ dokter Rico menghampiri dengan wajah dan tatapan khawatir


Mommy, daddy, tante Lisa, om Sahid dan Zayyan serta Oman berhamburan masuk ingin melihat kondisi Zalsa.  Dengan langkah perlahan Zabina pun masuk menyusul mereka.  Zabina tak sanggup melihat Zalsa yang tak berdaya dengan tatapan kosong.  Zabina dan Zalsa tidak sedekat dengan Zayyan akan tetapi jauh didalam hati, Zabina sangat menyayanginya.


“M-mom, d-dad, bu-bu-nda dan a-a-yah, ma-af-kan Za- Zal-sa, “ dengan napas terputus putus Zalsa berusaha menyelesaikan kata-katanya

__ADS_1


“Yang kuat sayang, kamu jangan menyerah kami selalu bersamamu,” sambil menahan tangis mommy memotivasi Zalsa agar berjuang dan bersemangat untuk hidup lebih lama.


“M-mas O-m-man,  ma-af-kan ke-ke-sa-la-ha-nku ya-ng s-se-la-ma i-ni   b-be-rra-da d-di-a-nta-ra k-ka-l-ian,” meskipun napas Zalsa semakin sesak namun ia berusaha menyampaikan isi hatinya


DEG


Jantung Oman serasa berhenti berdetak mendengar kata-kata istrinya yang semakin parah,  tanpa ada yang menyadari wajahnya berubah pucat. Dan beruntung tidak terdengar oleh yang lain karena Zalsa hanya berbisik


‘Apa Zalsa telah mengetahuinya?’ tanyanya dalam hati


“Su-d-ah w-wak-tu-nya, m-mas, b-ber-ja-nji-llah ak-an me-ra-ih ke-b-ba-h-ha-gia-ann-mmu, m-mas, a-ku h-han-ya-lah t-ta-mu d-da-lam ha-tim-u d-an ta-k a-kka-n pe-rr-nah m-e-n-j-a-d-i pp-pe-nng-h-u-n-i-ny-aa.  B-e-r-rj-ju-aa-ng-llah m-m-mas m-m-mmi-lli-kki h-ha-ttii-nya, m-m-mmes-kki-ppunn i-**-uuu s-s-ssu-lllitit,,,“


“Nnaa, ma-afi-inn kk-ak-kkak, y-yyaaa,,,” perlahan mata Zalsa tertutup seiring dengan garis datar memanjang disertai bunyi nyaring pada layar pemantau elektrokardiograf yang kabelnya tersambung pada Zalsa


“Gak,,,kakak gak salah kok.  Nana aja yang emosian.  Nana janji akan memutuskan hubungan dengan Alif jika kakak sembuh,,” teriak Zabina mengira jika Zalsa meminta maaf karena tidak menyukai Alif


Mommy pingsan tak kuasa menahan kesedihannya melihat kepergian putrinya yang selalu menurut dan lemah fisik sejak lahir.

__ADS_1


Zalsa yang tak pernah membuat masalah sehingga selalu menjadi anak kesayangan bagi mommy dan daddy, berbeda dengan Zabina yang selalu membantah dan selalu bersikap cuek dan masa bodoh. Meskipun dilahirkan dari rahim yang sama namun mereka sangat berbeda bagaikan kutub utara dan kutub selatan.


Daddy dan kedua mertua Zalsa berdiri mematung tak percaya dengan kepergian


Zalsa yang tiba-tiba.  Hanya Zayyan yang masih mampu berpikiran normal dan berinisiatif untuk segera mengurus kepulangan jenazah almarhumah kak Zalsa.


Selesai mengurus segalanya,  kemudian jenazah dibawa oleh ambulance ke rumah kami sesuai dengan kesepakatan bersama kak Oman dan kedua orang tuanya.


Semua merasakan kesedihan yang sama karena kepergian kak Zalsa,  meskipun kata dokter Rico , kak Zalsa tidak dapat tertolong akibat melalaikan cuci darah yang harus rutin dilakukan, namun rasa bersalahku pada kak Zalsa tidak bisa kuabaikan. Apalagi tatapan dingin kak Oman kearahku seolah-olah mengatakan kepergian kak Zalsa adalah kesalahanku.


Ingin rasanya kucongkel mata elang kak Oman agar berhenti menatapku.  Sungguh aku sangat benci dengan tatapannya yang seperti akan mengulitiku hidup-hidup.


***


maaf jika ada typo,,,


salam hangat selalu dari othor

__ADS_1


__ADS_2