
...Happy reading beloved readers...
Pagi hari ketika matanya terbuka sempurna, Zabina tersentak kaget mengingat jika ponselnya sejak kemarin belum diaktifkan secepat kilat tangannya menyambar tas selempang yang dipakainya. Zabina meringis melihat angka 50 panggilan tak terjawab dari Oman. Sebelum mendial nama suami warisan terlebih dahulu ia melirik weker diatas nakas. Ia merasa bersalah karena tidak memberitahukan keberangkatannya pada Oman. Mengingat adegan yang cukup membuat dadanya sesak, walaupun begitu ia tetap menelpon Oman.
Beberapa kali Zabina mencoba menelpon Oman namun rupanya ponselnya tak dapat dihubungi, akhirnya Zabina menyimpan ponselnya dan berjalan kekamar mandi untuk membersihkan diri, hari ini ia ingin berkunjung ke perusahaan PT. Adhira sekalian menghadiri meeting dengan perusahaan konstruksi asal Indonesia yang ingin bekerjasama dengan perusahaannya sekaligus sebagai latihan baginya sebelum meeting dengan perusahaan asing keesokan harinya.
Semalam di rumah sakit, pak Sapto sudah menjelaskan secara singkat tentang perusahaan tersebut. Selesai membersihkan diri, Zabina kemudian membuka lemari yang ternyata baju-baju yang sesuai dengan ukurannya tlah berjejer rapi. Zabina tersenyum lebar, ia yakin jika Retno yang mentyiapkan segalanya.
‘Thanks mbak Retno.” Gumam Zabina dengan senyuman yang selalu membingkai wajahnya.
Selesai berpakaian rapi dan mengaplikasikan make up tipis ke wajah cantiknya dengan rambut dibiarkan terurai menambah kesan dewasa. Zabina keluar dari kamar dan langsung ke meja makan untuk sarapan, pertama kali berkunjung dan menginap dirumah pak Sapto lalu sarapan sendiri tidak membuat Zabina kecewa, ia mengerti dengan keadaan pak Sapto yang hanya hidup bedua dengan putri tunggalnya dan saat ini sedang dirawat. Zabina sangat mengagumi pak Sapto yang setelah istrinya menghadap Sang Pencipta, beliau tetap setia.
__ADS_1
Melihat kesetiaan pak Sapto pada istrinya, Zabina tersenyum miris mengingat kisah kakaknya yang bahkan tanah kuburannya saja belum kering akan tetapi suaminya menikah lagi dan parahnya lagi dengan dirinya yang notabene adalah adik iparnya.
Menuntaskan sarapannya dengan cepat lalu berangkat ke kantor dengan diantar oleh sopir pribadi pak Sapto setelah terlebih dahulu berpamitan pada ART yang masih setia menunggunya hingga ia meninggalkan meja makan. Para ART pak Sapto asli Indonesia menjadikan suasana rumah mewah itu serasa berada di Indonesia apalagi makanan yang tersaji benar-benar cita rasa Indonesia.
“Bi, aku berangkat dulu, ya. Assalamualaikum,,,”
“Waalaikumsalam, hati-hati neng.”
“Selamat pagi nona, ada yang bisa saya bantu ?” tanya resepsionis yang bernama Sarah dengan ramah sesuai dengan nametag yang tersemat rapi pada dadanya
“Selamat pagi,,nona Sarah, bisa tunjukkan ruangan pak Radit ?” dengan tak kalah sopan Zabina mengutarakan maksudnya pada resepsionis yang berdiri dengan tersenyum padanya
__ADS_1
“Maaf nona, beliau belum datang. Nona bisa menunggu beliau disofa sana.” Katanya sambil menunjuk sebuah sofa yang cukup khusus untuk tamu.
Zabina melangkah dengan anggun, ia sengaja tidak memperkenalkan dirinya sebagai pemilik perusahaan. Ia ingin melihat kinerja para karyawan secara langsung. Untuk repsionis ia sudah mengacungi jempol karena berlaku sopan pada tamu.
Melirik jam tangan brand terkenal dipergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 07.00 waktu setempat, Zabina merutuki Radit yang seharusnya datang lebih awal sambil membuka status WA pada ponselnya berniat untuk membuat status agar kedua sahabatnya segera menyusulnya, namun matanya terbelalak sempurna melihat status WA Oman “I’m Coming Singapur”.
“Wah sayang, dunia ternyata sangat sempit. Lihat wanita itu ternyata melarikan diri kemari untuk menghilangkan rasa sakit hatinya. “ sebuah suara mengalihkan tatapannya dari ponsel ditangannya
“Kalian ???” Zabina melongo tak percaya dengan penglihatannya
🎶🎶🎶🎶
__ADS_1
Kira-kira siapa ya, yang menegur Zabina ??? jangan lupa dukungannya