
...Selamat membaca...
Memasuki ruang kerja daddynya yang terlihat simple dan rapi sangat berbeda dengan ruang kerja milik Zayyan yang dipenuhi dengan berkas-berkas karena berbagi ruangan dengan sang adik yang tidak ingin berpisah ruang kerja dengan kakaknya.
Arya, Devania duduk disofa panjang sedangkan Arya memilih duduk didepan keduanya. Arya kemudian merobek ujung amplop dengan wajah serius, begitu pula dengan Devania dan Zayyan mata mereka tertuju pada tangan besar Arya yang sedang mengeluarkan kertas surat tersebut.
Arya lalu membacanya dengan suara yang bisa didengar oleh istri dan anak sulungnya.
Untuk daddy dan mommy tersayang,,
Hai dad, mom,,,gimana kabar kalian ???
Daddy dan mommyku sayang, maaf selama ini telah merepotkan kalian karena penyakitku ini. Maaf juga karena Zalsa sehingga kalian melewatkan kesempatan untuk melihat tumbuh kembang adikku, tolong sampaikan permintaan maafku pada Zabina yang kurang mendapatkan perhatian dari mommy dan daddy. Aku merasa sangat bersalah dan egois.
Dad, mom,,,Aku juga melakukan kesalahan dengan menikah bersama mas Oman karena dibutakan oleh cinta. Dad dan mom harus tahu jika mas Oman sebenarnya bermaksud melamar Zabina bukan aku. Kesalahan yang sangat fatal dengan merebut kebahagiaan dan pria yang mencintai adikku sendiri. Makanya aku selalu menolak mengadakan resepsi pernikahan kami.
__ADS_1
Tolong sampaikan permintaan maafku pada kak Zayyan karena aku mendengar pembicaraannya dengan mas Oman sesaat setelah ijab qabul hingga aku mengetahui yang sebenarnya.
Dad dan mom,,,hingga kepergianku mas Oman belum pernah menyentuhku layaknya suami istri, bukan kesalahan mas Oman tapi rasa cintanya pada Zabina yang begitu besar sehingga otak dan tubuhnya tidak memperbolehkan ia untuk menyentuhku dan aku memakluminya.
Sebagai permintaan terakhirku, agar daddy dan mommy menyatukan mas Oman dan Zabina dalam ikatan pernikahan agar aku bisa tenang dialam sana.
Peluk cium dariku
Zalsa Karina Wiguna
“Tapi kelihatannya Zabina gak terluka sedikit pun dengan pernikahan mereka,,,” Devania melihat Arya dan Zayyan secara bergantian. Ia bingung.
“Mommy dan daddy gak usah bingung karena Oman belum menyatakan perasaannya ke Nana jadi singkatnya Nana belum tahu perasaan Oman padanya,,,” jelas Zayyan melihat kebingungan mommy dan daddynya.
“Bagaimana cara menyampaikannya pada Zabina mengenai wasiat almarhumah, daddy tidak ingin adikmu salah paham yang akan semakin mempertebal dinding yang dibangun olehnya “. Keluh Arya semakin bingung.
__ADS_1
“Bagaimana pun wasiat almarhumah harus segera dilaksanakan, dad,,,” tegas Devania yang melihat suaminya sulit menentukan sikap.
“Mommy jangan tergesa-gesa seperti itu, semua akan terjadi sesuai keinginan Zalsa akan tetapi harus perlahan sehingga Nana gak merasa terpaksa,,,” Zayyan berusaha memberi saran pada mommynya agar semua tampak normal
“Kita gak boleh menunda-nunda jika menyangkut wasiat orang yang sudah meninggal. Sekarang panggil adikmu kemari, dia harus menikah dengan nak Oman secepatnya !” Devania tidak ingin dibantah dan tak ingin membuang-buang waktu.
Entah karena dikuasai oleh rasa bersalah ataukah karena rasa sayangnya pada almarhumah Zalsa sehingga ingin segera melaksanakan wasiat almarhumah.
Walaupun benar yang dikatakan mommynya namun Zayyan juga tidak ingin jika Zabina tidak bahagia dengan pernikahannya. Ia ingin adiknya selalu tersenyum bahagia.
Zayyan mendengus kasar mendengar perintah mommynya. Dengan setengah hati, Zayyan keluar memanggil adik kesayangannya yang masih setia didalam kamar.
Sementara itu dilantai bawah rumah mewah keluarga Arya tepatnya dikamar tamu, Oman bersama ayah dan bundanya tidak terkejut membaca surat Zalsa karena mereka memang sejak awal tahu kesalahan yang terjadi. Mereka hanya bisa menunggu keputusan keluarga Zalsa.
***
__ADS_1
Jangan lupa dukung othor, ya,,,