CINTA SUAMI WARISAN

CINTA SUAMI WARISAN
CSW # 19


__ADS_3

...Selamat membaca...


Tak terasa jam pulang kantor akhirnya mengharuskan Zabina mengakhiri pekerjaannya.  Tanpa menunggu waktu berlama-lama,  Zabina segera menyambar tasnya dan segera melesat keluar gedung perusahaan,  ia ada janji dengan kedua sahabatnya untuk berbelanja sekaligus makan malam, hal yang telah mereka lewatkan setelah sama-sama sibuk dengan pekerjaan.


Bertemu dengan kedua sahabatnya membuat Zabina melupakan waktu yang terus beranjak malam.  Hingga Laura dan Diyah memutuskan untuk segera pulang.


“Pulang yuk, capek nih.  Besok aku ada meeting penting. “ Laura berdiri mendahului Diyah dan Zabina setelah menuntaskan makanannya


Tanpa banyak bicara Diyah dan Zabina mengikuti langkah kaki Laura menuju parkiran dimana mobil ketiganya berada.  Rasa capek dan lelah yang mereka rasakan membuat ketiganya hanya berjalan tanpa obrolan seperti biasanya. Tangan mereka penuh dengan paper bag hingga kesulitan membawanya. Kebiasaan yang rutin mereka jika sedang menghabiskan waktu bersama. Belanja sepuasnya.


Sementara itu dirumah keluarga Arya,  mereka sekeluarga pun telah selesai bersantap malam dan berkumpul diruang keluarga sambil bersantai minus Zabina yang tidak pulang dan tidak mengabari siapapun termasuk Zayyan yang satu kantor dengannya.


“Mom,  dad,,,mungkin sebaiknya kami hidup mandiri .” Dengan hati-hati Oman menyampaikan keinginannya untuk pisah rumah.


“Kami mendukung setiap keputusanmu,  nak.  Meskipun terasa berat melepaskan kalian, namun kalian memang harus memiliki kehidupan sendiri sebagai suami istri yang sesungguhnya agar kalian lebih dekat. “ mommy Vania menyetujui keputusan menantunya dan diangguki oleh daddy Arya


“Nana udah tau kan dengan rencanamu?” Zayyan menatap  khawatir Oman yang pasti mendapatkan penolakan jika apa dipikirkannya benar


Oman menggeleng samar namun dapat dilihat dengan jelas oleh Zayyan yang kemudian hanya bisa menarik napas panjang mendapati kesalahan yang dilakukan oleh sahabat sekaligus adik iparnya.


Bagaimana bisa Oman tiba-tiba memutuskan untuk hidup mandiri jika hubungan pernikahan mereka belum sepenuhnya diterima oleh Zabina. Tidakkah sisi pandang Zabina akan semakin bertambah buruk pada Oman, mengingat kesalah pahaman yang terjadi sejak awal.

__ADS_1


“Assalamualaikum,,,”. Suara Zabina menghentikan pembicaraan mereka yang berada diruang keluarga.


“Dari mana aja kamu,  suami sudah berada dirumah malah keluyuran di luar gak jelas. “ omel mommynya dengan wajah kesal


“Nana gak keluyuran, mom . Nana belanja sekaligus dinner bareng Laura dan Diyah. “ ralat Zabina tidak terima dituduh keluyuran


“Setidaknya kamu kabari suamimu kalau akan pulang terlambat.  Mommy gak salah setuju dengan keputusan nak Oman agar kalian hidup mandiri, agar sebagai istri kamu bisa lebih bertanggung jawab pada suami dan rumah tanggamu. “


Zabina menatap datar pada Oman, tangannya terkepal menahan amarahnya.  Ia  merasa tidak dihargai dengan keputusan Oman yang tidak meminta pendapatnya.  Bukan karena ia betah seatap dengan wanita yang telah melahirkannya meskipun minim kasih sayang.  Akan tetapi Zabina belum siap jika harus tinggal berdua dengan suami warisannya.


“Nana akan tinggal diapartemen karena lebih dekat dengan kampus. “


“Sayang,  kamu kok gak bilang-bilang kalau akan melanjutkan studi ?” suara lembut daddynya menurunkan sedikit emosinya.


“Sebagai seorang istri, kamu gak boleh seenaknya gitu dong.  Hargai suamimu. “ mommy Vania kembali tersulut emosinya tanpa sadar hal tersebut akan menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.


“Maaf mom, bukannya Nana bermaksud kurang ajar,  tapi sepertinya mommy harus mengingat keputusan mommy yang tiba-tiba menikahkanku dan asal mommy ingat kalau selama ini Nana belum pernah menggunakan fasilitas dari keluarga ini.  Meskipun begitu Nana selalu menurut tapi untuk kali ini maaf,  ini menyangkut masa depanku dan perusahaan yang Oma wariskan.  Nana gak ingin mengecewakan Oma. “ sinis Zabina sebelum meninggalkan mereka.


Setelah berpamitan pada mertua dan kakak iparnya,  Oman segera mengikuti Zabina menaiki tangga satu per satu.  Oman memutuskan untuk berbicara dari hati ke hati dengan istrinya.


Tiba di kamar,  Zabina langsung mengambil handuk dan pakaiannya kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa gerah dan lengket. Oman hanya diam sambil duduk menunggu Zabina menyelesaikan ritualnya.

__ADS_1


Dua puluh menit waktu yang dibutuhkan Zabina untuk menyelesaikan ritual mandinya. Setelah berpakaian lengkap Zabina keluar dan aroma sabun menguar mendera indera penciuman Oman. Aroma strawberry yang sangat disukainya.  Ingin rasanya Oman berlari memeluk dan mengisap aroma tubuh istrinya.


“Sayang, kita harus bicara terbuka agar kehidupan rumah tangga kita kedepannya lebih terarah. “ dengan suara lembut Oman mencoba berbicara dengan Zabina.


Oman sengaja tidak menyinggung sedikitpun kelakuan Zabina barusan pada mommynya, ia tidak ingin bersitegang dengan istrinya yang sangat keras jika menegurnya, Oman hanya ingin memperbaiki hubungan dan kehidupan rumah tangganya dengan wanita yang selalu menatapnya dengan datar.


Zabina belum bersuara meskipun begitu ia tetap duduk disofa yang juga diduduki oleh Oman dan mendengarkan dengan baik ucapan mantan kakak iparnya yang kini telah resmi menjadi suaminya. Melihat tak ada reaksi dari sang istri,  Oman kembali melanjutkan.


“Mas tidak akan menghalangi jika kamu ingin melanjutkan studi,  akan tetapi mas minta agar selalu mengingat statusmu yang sudah bersuami.  Dan ijinkan mas bertanggung jawab atas dirimu. “ sambil membuka dompetnya dan memberikan black card pada Zabina.


“Kakak gak perlu memberikan kartu itu,  bukannya tidak butuh tapi Nana punya sendiri. “ tolak Zabina seketika.


‘Mommy aja yang gak pernah aku pakai fasilitasnya bisa seenaknya mengatur-ngatur hidupku,  apalagi kak Oman yang pastinya akan meminta sesuatu yang berharga.’ Batin Zabina yang belum bisa mempercayai suaminya sendiri.


Oman meletakkan kartu unlimited tersebut didekat Zabina kemudian melangkah kearah tempat tidur dan membaringkan tubuhnya tanpa berbicara.  Oman tidak ingin berdebat lagi dengan Zabina.  Ia ingin tidur dengan tenang disamping istrinya yang selalu mendebat dirinya.


Zabina hanya menatap datar punggung Oman yang kini berbaring dan menutup mata dengan damai. Setelah mendengar suara napas Oman yang teratur,  Zabina pun berbaring perlahan disamping Oman dan menyusul mengarungi dunia mimpi.


🌈🌈🌈🌈


jangan bosan menunggu up_nya, ya readers yang budiman 🤗🤗

__ADS_1


jangan lupa pula dukungannya.


__ADS_2