
Happy reading beloved readers
Selesai acara peluk-pelukan tepatnya Oman memeluk Zabina dengan perasaan bahagia, bagaimana tidak jika selama ini ia hanya bisa memeluk sang istri ketika sedang tidur tapi saat ini dalam keadaan sadar dan tanpa penolakan. Seandainya Oman adalah tipe manusia nekat yang tidak selalu mempertimbangkan segala resiko yang akan terjadi, mungkin saat ini ia sudah menikmati surga dunia pernikahan.
Oman kembali duduk di sofa dan sibuk dengan ponselnya, mungkin memeriksa pekerjaan Rangga. Sedangkan Zabina kembali menyelesaikan pekerjaannya dengan wajah yang masih bersemu merah dan jantung yang berdegup kencang seolah akan meninggalkan tempatnya beruntung Oman tidak mendengarnya.
“Kak Oman mau minum apa ?” suara Zabina mengalihkan perhatian Oman dari benda persegi yang sejak tadi ia perhatikan.
“Kopi hitam, sayang.”
“Kak Byan, tolong suruh OB mengantarkan Kopi hitam buat kak Oman.” Tanpa menunggu jawaban Byan, Zabina langsung mematikan interkom.
“Sayang, bisa gak sih kamu mengganti panggilanmu, masa disamakan dengan panggilan ke Zayyan dan sekretarismu. Serasa kita saudaraan.”
“Maaf kak, untuk saat ini masih belum bisa mengubah panggilan. Sudah terbiasa.”
Mendengar kata-kata Zabina, walaupun disertai dengan senyum namun tetap saja Oman bisa merasakan jika Zabina belum bisa menerima pernikahan mereka. Oman kemudian memutuskan untuk berbicara dari hati ke hati, ia tidak akan pulang sebelum menyelesaikan permasalahannya.
“Sayang, kita harus membicarakan kehidupan pernikahan dan rumah tangga kita. Mas tidak ingin ada kesalahpahaman.” Perlahan Oman mendekati meja kerja Zabina dan menarik tangannya agar mengikutinya untuk duduk di sofa.
__ADS_1
“Tapi kak, pekerjaanku masih banyak.” Zabina mencoba bertahan pada posisi duduknya
“Pernikahan dan rumah tangga kita lebih penting.” Tegas Oman tak lupa dengan tatapan tajam mata elangnya.
Akhirnya Zabina mengikuti kemauan Oman bersamaan dengan duduknya Zabina berdampingan dengan Oman, pintu ruangannya diketuk dari luar.
Tok tok tok
Ceklek
“Maaf bu mengganggu.” Seorang pria berseragam OB masuk dengan membawa nampan yang berisi secangkir kopi ditangannya
Setelah melakukan tugasnya OB tersebut pamit undur diri dengan sedikit menundukkan kepala pada keduanya dan dibalas pula dengan anggukan dan senyum ramah oleh Zabina.
“Ck, semua kamu panggil kakak.” Kesal Oman karena merasa kedudukannya dimata Zabina disamakan dengan yang lain.
“Emang harus gitu, kak. Semua manusia sama dimata Sang Pencipta dan kita harus saling menghormati.”
“Tapi antara suami dan orang lain harus dibedakan panggilannya, bukan disamakan. Harusnya panggilan pada suami lebih mesra agar orang-orang di luar sana tau tanpa harus diumumkan.” Balas Oman lalu mencium punggung tangan Zabina yang sejak tadi belum ia lepaskan.
__ADS_1
“Soal panggilan kayaknya pembahasannya lain kali aja deh, kak. Sekarang kak Oman mau ngomong apa mumpung aku belum berubah pikiran, pekerjaan menumpuk. Kasihan pak Sapto jika harus menyelesaikan sendiri.”
Oman menatap wajah cantik istrinya lekat-lekat dengan sorot mata penuh cinta (jika othor berada di sana pasti bisa melihat mata Oman yang dipenuhi dengan emoticon hati 😍) lalu menarik napas panjang kemudian menghembuskannya seolah ingin mengeluarkan beban berat yang selama ini ia pendam sendiri. Sekilas bayangan pernikahannya dengan Zalsa berkelebat dalam benaknya. Bagaimana tersiksanya menikah tanpa cinta sedangkan tambatan hatinya setiap hari berada di depan matanya tanpa bisa ia sentuh. Mencoba menumbuhkan rasa cinta pada istrinya malah semakin membuatnya tersiksa dan frustrasi, belum lagi tatapan membunuh Zayyan setiap kali menatap pujaan hatinya dengan tatapan memuja, beruntung ia bisa mengalihkan perhatiannya dengan menyibukkan diri bekerja. Walaupun pada akhirnya bisa menikahi Zabina namun ternyata perjuangannya belum selesai hingga saat ini.
“Kak, kak Oman. Koq mengkhayal sih, katanya mau bicara.” Sambil menggoyang-goyangkan tangannya di depan mata Oman.
“O, eh, maaf, mas bukannya mengkhayal. Mas hanya bersyukur akhirnya bisa bersamamu.”
“Kak Oman gak kesambet kan ?” Zabina merasa aneh mendengar ucapan pria tampan yang sedang duduk di hadapannya.
“Dengarkan mas baik-baik.” Tanpa menjawab pertanyaan tak berbobot istrinya.
“Perlu kamu tahu sebelumnya bahwa apa yang kamu lihat di kafe maupun dikantor tidak seperti yang kamu lihat. Mas akui jika selama ini mas salah karena terlalu baik dan selalu menjaga perasaan Lena agar tidak membuatnya terluka, meskipun mas tau jika perasaan Lena pada mas tidak murni hanya sebatas sahabat akan tetapi perasaan mas padanya tak pernah lebih, Zayyan pun tau hal itu. Asal kamu pertama kali jatuh cinta pada pandangan pertama hanya padamu sampai sekarang rasa itu tak pernah pudar. Adapun mas menikahi Zalsa itu adalah kesalahan kedua orang tua kita yang salah menafsirkan kata-kataku. Bunda melamar dan mommy mengira lamaran itu untuk Zalsa sementara bunda juga tidak tau jika Zayyan mempunyai dua orang adik perempuan. Tapi sudahlah tidak perlu menyalahkan siapa pun, toh kita sudah menikah secara sah.”
Zabina hanya terdiam mendengar cerita singkat Oman. Antara percaya dan tidak ia hanya menatap suaminya dengan datar. Rasanya seperti cerita novel yang salah menikah dan kembali pada cinta yang seharusnya. Semua terlalu tiba-tiba menurutnya.
🍒🍒🍒🍒
Hari ini up segini dulu ya, othor ada tugas dari kelas Online. Insya Allah doakan othor segera lulus dan bisa up banyak-banyak. Dua kali pertemuan lagi readers
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya