CINTA SUAMI WARISAN

CINTA SUAMI WARISAN
CSW # 38


__ADS_3

...Happy reading beloved readers...


Kembali ke ruangannya,  Zabina langsung memeriksa ponselnya sengaja tak membawa ponselnya saat meeting tadi karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan didepan matanya. Melihat layar ponselnya puluhan panggilan tak terjawab dari Oman,  Zabina melirik jam yang melingkar manis ditangannya.


‘Huuufffff , dua jam yang lalu. ‘Gumamnya sambil menekan panggilan pada ponselnya. Bertepatan dengan kedatangan Alex yang diantar oleh Byan. Zabina memberi isyarat lewat matanya agar Alex duduk di sofa.


“Kak Byan,  tolong suruh resepsionis membawa orang yang mencariku kesini,  kasian dia sudah dua jam duduk di bawah. “ tutur Zabina sopan,  meskipun dirinya adalah pemilik perusahaan akan tetapi Byan lebih tua darinya.


Byan segera menuju meja kerjanya kemudian menelpon resepsionis sesuai permintaan Zabina.  Tak menunggu lama,  Sarah telah berdiri di depan meja Byan bersama Oman. Sekilas Oman mengedarkan pandangannya mengagumi interior lantai tertinggi dari gedung yang dari luar memang sudah terlihat mewah.


“Selamat siang pak Byan, saya mengantar tamu yang bapak maksud.” Sambil menundukkan wajahnya, Sarah menghindari kontak mata dengan Byan karena berpikir melakukan kesalahan dengan membiarkan tamunya menunggu.


Byan hanya mengangguk sebagai jawaban dan Sarah pun mengerti dan segera meninggalkan Byan yang berdiri menyambut tamu bos barunya.


“Mari pak, saya antar ke ruangan ibu Zabina.” Sambil berdiri dan melangkah mendahului Oman.


Setelah terdengar suara yang sangat Oman rindukan mempersilahkan masuk, Byan memberikan jalan agar Oman bisa melewatinya.


“Duduk dulu, kak. Aku ada urusan penting dengan bapak ini.” Kemudian kembali Zabina mencecar pertanyaan pada Alex. Pasalnya laporan keuangan yang dikirim oleh pak Sapto berbeda dengan yang berada ditangannya saat ini. Salahkan Zabina yang memiliki ingatan kuat walaupun hanya sepintas membacanya atau melihatnya maka akan tertinggal dengan tenang di dalam ingatannya. Entah seberapa besar kapasitas otaknya atau mungkin selalu ia update setiap hari. Othor juga gak ngerti.


Tanpa berbicara Oman duduk sesuai dengan permintaan Zabina dan mengambil majalah bisnis yang berada di meja dan menyibukkan diri dengan membaca setiap lembarnya.

__ADS_1


“Jadi pak Alex, penjelasan apa yang bisa bapak berikan pada saya mengenai selisih yang tertera pada laporan bapak dan laporan pak Sapto.” Dengan suara yang terdengar datar dan sangat dingin sehingga pak Alex tidak mampu bersuara.


Tangan Oman yang sedang membuka majalah bisnis menggantung dan kepalanya terangkat menatap wanita yang berstatus sebagai istrinya, matanya membulat dengan mulut menganga tak percaya dengan pendengarannya jika tak mendengarnya langsung.


‘Kenapa istriku seperti seorang mafia ?’ gumamnya pelan.


Zabina terus menatap tajam pria 50 an tahun yang duduk dengan gelisah di depannya sambil tangannya mengambil laptop dan kemudian menyalakannya. Menyodorkan laptop pada pak Alex agar melihat perbedaan antara laporan yang dikirim pak Sapto dengan laporan yang dibuat oleh pria yang sedang tertunduk lesu.


“Pak Alex gak punya jawaban atau gak ingin mengakui penggelapan uang yang bapak lakukan ? bapak tahu kan kerugian perusahaan akibat perbuatan pak Alex ? beruntung perbuatan bapak cepat ketahuan atau jangan-jangan pengajuan proposal kerja sama dengan perusahaan Alif juga bagian dari rencana pak Alex ?” tebakan Zabina sontak membuat pak Allex menegang ketakutan, pun halnya dengan Oman, ia menghentikan aktivitasnya lalu memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibir mungil Zabina.


Kembali Zabina meraih laptopnya yang berada tepat di depan pak Alex kemudian tangannya menekan interkom yang menghubungkan dengan ruangan Radit.


“Baik bu bos.” Singkat dan jelas jawaban Radit.


Mendengar perintah Zabina membuat pak Alex tertunduk lemas, inilah yang dia takutkan. Tak pernah puas dengan apa yang ia miliki  dan selalu merasa kekurangan. Ia tak ingin melimpahkan kesalahannya pada putri semata wayangnya yang selalu hidup mewah dan berfoya-foya karena “seperti itulah bentuk kasih sayangnya pada putrinya.


“Kak Byan, tolong siapkan surat pemecatan pak Alex. Sekarang !!” perintah Zabina tegas dan tak ingin dibantah.


“Laksanakan bu bos.”  Terdengar jawaban Byan yang sama dengan Radit


“Silahkan pak Alex keluar.”

__ADS_1


Rasa penasaran Oman mendengar nama Alif disebut oleh Zabina tak dapat di tahan lagi. Begitu pintu ruangan tertutup, Oman segera mendekati Zabina dan duduk di kursi bekas pak Alex.


“Maaf kak, aku berangkat tanpa memberitahu terlebih dahulu dan membuat kak Oman menunggu, tapi kok kak Oman tau aku disini,,,” dengan wajah bersalah Zabina menundukkan kepalanya sambil mer**as jemarinya.


“Semalam mas bertanya sama Zayyan keberadaanmu, kemudian dia menceritakan semuanya dan akhirnya mas disini.” Penjelasan singkat Oman menghilangkan rasa penasaran Zabina.


Melihat Zabina terdiam, Oman segera bertanya dengan wajah serius menuntut penjelasan Zabina terkait dengan ucapannya tentang kerjasamanya dengan Alif.


“Sayang, perusahaanmu dengan perusahaan Alif akan bekerjasama ? tadi mas gak salah dengar, kan ?”


“Emang bener kak, barusan meetingnya selesai. Hanya saja persentasenya kurang meyakinkan dan yang paling penting gak ada keuntungan yang berarti bagi perusahaan ditambah lagi yang merekomendasikan pak Alex yang terbukti melakukan penggelapan dana. Aku masih ingin menjaga dengan baik warisan oma.” Jelas Zabina panjang lebar.


Oman segera berdiri dan memeluk kemudian mencium pucuk kepala Zabina menghirup wangi rambut yang sudah menjadi candu baginya. Ia bersyukur Zabina tidak menerima kerja sama yang diajukan oleh Alif. Oman sudah bisa menebak jika hubungan mereka tak seperti dalam bayangannya. Diam-diam Oman tersenyum bahagia, kesempatan untuk meraih hati istrinya semakin terbuka lebar dan ia berjanji akan menceritakan semuanya agar kesalahpahaman diantara mereka tidak berlarut-larut.


🍒🍒🍒🍒🍒


Nah semakin seru kan ceritanya ???? yuk beri dukungan buat othor agar semakin semangat untuk up setiap harinya.


Othor sih gak minta dukungan koin, masa pandemik semua mahal. Bertahan untuk hidup aja sudah cukup. Othor hanya minta sekuntum bunga atau secangkir kopi buat teman begadang


Salam hangat dari dunia halunya othor

__ADS_1


__ADS_2