
...Happy reading beloved readers...
Semalaman Zabina dan Oman menemani bunda Lisa, walaupun ayah Sahid memaksa ingin menemani istri tercintanya namun baik Zabina maupun Oman memaksa agar ayah Sahid pulang dan beristirahat di rumah saja. Mereka tak ingin jika pria yang masih terlihat tampan di usia yang sudah tak muda lagi kelelahan dan berakhir di rumah sakit pula.
“Sayang, mas ke kantor pagi-pagi, gak apa-apa kan kalau mas tinggal ?”
“Gak apa-apa, kak. Semangat bekerja biar semakin kaya dan aku sama bunda bisa shopping. “
“Pastinya sayang, semua buatmu dan anak-anak kita. “ ucapan Oman sontak membuat wajah Zabina bersemu merah kesekian kalinya.
Maksud hati Zabina ingin menggoda Oman, tapi ternyata malah sebaliknya. Siapa sangka jika Oman langsung menyinggung soal anak. Diam-diam Zabina meringis mendengar ucapan Oman. Apakah itu pertanda jika Oman sudah ingin meminta haknya ? Zabina tidak ingin menjadi istri yang durhaka pada suami, hanya saja untuk saat ini dirinya belum yakin dengan cinta Oman.
Bunda Lisa yang sudah terbangun namun berpura-pura masih tidur tersenyum mendengar pembicaraan anak dan menantunya. Dari sudut matanya bunda Lisa melihat raut kebahagiaan di wajah putra tunggalnya.
“Oh ya sayang, setelah bunda sehat kita harus menggelar resepsi pernikahan, sebelum dirimu benar-benar hamil. Kalau perlu mas akan mengucapkan ijab qabul kembali di depan keluarga besar kita.”
“Nanti aja bahas hal itu kak, ke depannya kita belum tau kan.” Zabina menghindari pembahasan pernikahan dengan wajah semakin merona.
__ADS_1
Mendengar Zabina seolah tak ingin membahas pernikahan mereka membuat bunda Lisa tercekat, ternyata menantunya belum sepenuhnya menerima pernikahannya. Ia mengkhawatirkan keadaan putranya, sampai kapan Oman akan bertahan ? Semoga saja Zabina segera mencintai suaminya. Bunda Lisa menatap sendu putranya. Hati ibu mana yang tega melihat kehidupan pernikahan putranya yang jauh dari kata bahagia ?
“Bunda kenapa ? Ada yang sakit ? Atau bunda menginginkan sesuatu ?” Zabina memberondong ibu mertuanya dengan pertanyaan dan rasa khawatir dan dijawab dengan menggelengkan kepalanya.
‘Semua kesalahan bunda, nak. Bunda berjanji akan membuat istrimu menerima pernikahan ini dan kalian akan berbahagia dan memberikan cucu buat bunda. ‘ dalam hati bunda Lisa berjanji dan bertekad ingin sembuh secepatnya.
Setelah mencium dahi Zabina, kemudian Oman menghampiri brangkar yang ditiduri oleh bundanya dan mengelus lembut pucuk kepalanya sambil berbisik.
“Oman berangkat dulu, bund. Istirahat ya, biar cepat sehat. “
“Gak apa-apa sayang, bunda malah senang ditemani sama menantu,4/ kapan lagi kami menghabiskan waktu bersama. “
Sebelum Oman keluar , tiba-tiba Zabina mengambil tangan kanan Oman dan menciumnya dengan senyum bahagia Oman kembali memeluk Zabina sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu.
“Hati-hati di jalan, kak. “ ucap Zabina dan di balas anggukan kepala dari Oman.
“Bunda mau bersih-bersih dulu atau sarapan dulu ?”
__ADS_1
“Mandi dulu deh, masak bunda sarapan masih bau jigong ?
“ Bunda belum boleh mandi, Nana akan membersihkan badan bunda dengan washlap.” Zabina tak ingin dibantah, ia tidak mau terjadi apa-apa sama mertuanya dan tak ingin disalahkan jika terjadi hal yang buruk pada wanita yang sangat menyayanginya.
Zabina kemudian menghampiri bunda Lisa untuk menyuapinya sarapan yang diantarkan oleh sopir keluarga Sahid karena semalam bunda Lisa berpesan jika sarapannya masakan rumah. Perlahan ia menyuapi mertuanya sesendok demi sesendok hingga buburnya habis.
“Sayang, boleh gak bunda bertanya hal yang pribadi ?”
Deggg
“Tentu saja, bund. “ walaupun jantungnya berdebar, namun Zabina berhasil menguasai dirinya.
Firasatnya yang terlatih dengan baik memberitahukan jika bunda Lisa pasti akan mempertanyakan kehidupan pernikahannya yang hambar.
🍒🍒🍒🍒🍒
Maaf up_nya dini hari. Othor masih nugas yang terakhir.
__ADS_1