
...Happy reading beloved readers...
Pulang dari rumah sakit mengunjungi pak Sapto, sekaligus memperkenalkan Oman dan meminta izin untuk menginap di hotel sesuai permintaan Oman yang merasa tak enak jika harus menginap di rumah pak Sapto. Namun sebelumnya mereka mampir di Marina Bay Sands Mall untuk berbelanja, Oman ingin secepatnya istirahat, sejak kemarin ia belum mendapatkan istirahat yang cukup dan Zabina memaklumi hal itu. Kini mereka telah berada di kamar salah satu hotel termewah di negara Singa.
“Aku dulu yang mandi, kak.” Seraya mengambil paper bag belanjaannya
“Gak sekalian mandi bareng, sayang ?” goda Oman dengan senyuman yang menambah kadar ketampanannya
Zabina mendelik kesal kemudian menyambar handuk dan menghilang di balik pintu kamar mandi. Sedangkan Oman memilih merebahkan badannya dengan senyum yang masih menghiasi wajah tampannya sambil menunggu Zabina menyelesaikan ritual mandinya. Mungkin karena benar-benar terlalu capek sehingga tanpa harus berlama-lama mata Oman semakin berat dan akhirnya tertidur dengan wajah yang tenang dan terlihat damai.
“Kak, kak Oman, bangun.” Sambil menggoyang-goyangkan kaki Oman yang menjuntai di pinggir tempat tidur.
‘Ternyata kak Oman tampan juga jika sedang tidur. Tapi apa benar yang dikatakannya ? aku koq masih ragu. Ah sudahlah.’ Gumam Zabina pelan namun entah sejak kapan Oman tersadar dari mimpi indahnya dan mendengar semua ucapan Zabina.
__ADS_1
“Hoaaammm, jangan melihatku seperti itu sayang, jatuh cinta mas gak tanggung jawab loh.” Kemudian Oman berjalan santai masuk ke dalam kamar mandi
Pipi Zabina bersemu merah menahan malu kedapatan sedang menatap Oman yang sedang tidur. ‘Bodoh kamu, Zabina. Ngapain harus menatapnya seperti itu, gimana kalo kak Oman mendengarnya. ‘gumamnya sambil menutup wajahnya malu.
Menyelesaikan ritual mandinya hanya dalam waktu lima belas menit, Oman kemudian keluar dengan handuk melilit pinggangnya. Zabina sesaat tertegun melihat ciptaan Tuhan berjalan dengan santai, lengan kekar, dada bidang dan perut yang sixpack, terlihat jika orang ini sangat memelihara tubuh idealnya. Secepat kilat Zabina menutup matanya pura-pura tertidur, namun pikirannya mengembara kemana-mana. Oman hanya tersenyum penuh arti melihat kelakuan wanita yang tak henti-hentinya membuatnya berjuang untuk mendapatkan hatinya.
Selesai memakai piyama tidurnya, Oman lalu berbaring di sisi kanan tempat tidur dan menghadap Zabina yang masih berpura-pura tertidur. Wangi sabun dari tubuhnya menguar memasuki indra penciuman Zabina, perlahan ia membuka matanya sehingga mata mereka saling mengunci.
“Kak Oman pakai sabun aku, ya. Itu kan wangi perempuan.” Sungut Zabina memutuskan kontak mata mereka.
Kata-kata Oman menohok seonggok daging yang selama ini ia bentengi agar tidak menyimpan rasa untuk suaminya. Zabina kehabisan kosa kata untuk membalas ucapan pria yang sedang menatapnya dengan lembut, walaupun nada suaranya lembut namun tetap nyelekit menghantam Zabina.
“Maaf kak.” Cicit Zabina merasa bersalah
__ADS_1
“Ssssttt, gak apa-apa. Mas akan menunggu dengan sabar.” Mengecup sekilas bibir Zabina
“Kakakkkk !!!” teriak Zabina memekakkan telinga Oman.
“Jangan teriak-teriak, mas takut akan mengulanginya. Bibirmu terlalu manis rasanya.” Seraya mengusap bibir Zabina dengan lembut.
Dug dug dug
Jantung Zabina lagi-lagi mengkhianatinya, kali ini jantungnya seolah akan melompat keluar dari rongga dadanya. Hal yang sama dirasakan oleh Oman. Jantungnya pun bekerja keras hingga tanpa sadar ia memegang dadanya agar daging yang merupakan sumber kehidupannya tidak meninggalkan tempatnya.
🍒🍒🍒🍒🍒
Terima kasih sudah menjadikan karya othor sebagai pilihan bacaan
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya
Salam hangat dari dunia halu