
...Happy reading beloved readers...
Tak terasa Zabina dan Oman telah berada di Singapura selama tujuh hari dan selama itu mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama, kemana pun Zabina pergi Oman selalu mengikutinya dan Zabina pun perlahan menerima dan menikmati kebersamaan mereka. Oman tak memperdulikan keluhan Rangga dan Dirga yang setiap hari meneleponnya, bagi Oman kebersamaannya dengan Zabina adalah yang terpenting.
Drrrrttttt drrrrttttt
“Tumben ayah telepon. “ gumamnya perlahan namun terdengar di telinga Zabina
“Angkat cepat, kak. Mana tau penting. “ tanpa pikir panjang Zabina mendekatkan telinganya penasaran dengan pembicaraan ayah dan anak.
“Assalamualaikum, Yah. “
“Waalaikumsalam nak, bisa kalian pulang secepatnya, bunda sakit dan saat ini sedang ditangani oleh dokter. “ terdengar suara berat menahan kesedihan.
“Oman pulang malam ini, Yah. Assalamualaikum. “ seraya memutuskan panggilan setelah terdengar jawaban salam dari seberang telepon.
Melihat wajah Zabina yang terlalu dekat dengan wajahnya, otak jahil nan mesum Oman tiba-tiba memberikan isyarat. Sebelum Zabina menjauhkan wajahnya, Oman segera mencium pipi mulus Zabina.
Cup
__ADS_1
“Siap-siap sayang, kita pulang malam ini. “
Blussshhh
Wajah Zabina lagi-lagi merona dan salah tingkah dengan perlakuan Oman yang selalu seenaknya menciumnya, entah itu di bibir ataupun di pipi, jantungnya kembali bekerja keras. Tanpa banyak bicara, Zabina segera merapikan dan memasukkan bajunya ke dalam koper dan mengirim pesan pada pak Sapto.
“Aku sudah siap, kak. “ menatap kesal Oman yang menatapnya dengan tersenyum.
Oman segera berdiri dan mengambil alih koper yang sedang di tarik oleh Zabina sedangkan tangan satunya menggandeng pinggang ramping Zabina keluar dari kamar hotel.
“Gak usah kayak gini, kak. Jalan biasa aja. “ tolak Zabina risih
“Kenapa harus risih ? Orang pacaran saja ciuman dan berpelukan di jalan, masa hanya memeluk pinggang istri sendiri gak boleh. “ dengan tenang Oman membalas tak peduli alasan Zabina.
Tiba di bandara Internasional Soekarno Hatta, keduanya langsung menuju rumah sakit Medistra Care dimana bunda Lisa dirawat. Dua jam berikutnya mereka tiba di parkiran rumah sakit, sopir keluarga Oman segera pulang membawa koper mereka.
“Assalamualaikum bunda. “ Zabina mendorong pintu kamar rawat inap bunda Lisa
“Waalaikumsalam sayang. “ walaupun kondisinya masih lemah, namun bunda Lisa tetap membalas salam menantunya
__ADS_1
“Maaf bunda, Nana tiba-tiba berangkat ke Singapura gak pamit sama bunda dan ayah. “ Dengan nada dan wajah bersalah
“Apa-apa nak, kamu kan pergi karena sesuatu hal. “ Ayah Sahid ikut menenangkan menantu kesayangannya.
“Man, kamu memperlakukan istrimu dengan baik kan ?” entah mengapa bunda Lisa tiba-tiba bertanya seperti itu pada anak semata wayangnya.
“Iya dong, bund. Masa jahat sama istri sendiri. “ balas Oman tak terima pertanyaan tapi seperti menuduhnya
“Tapi kalian baik-baik aja, kan ?” sambil menatap pasangan muda itu bergantian
“Kami gak ada masalah kok, bund. “
“Kok bunda aneh-aneh sih pertanyaannya. Kalau kami gak baik-baik aja pastinya gak akan datang bersama, kan. “
“Kak, biasa aja jawabnya, gak usah ngegas gitu. Gak sopan banget. “
“Bunda sebaiknya istirahat aja dulu. Nana akan nungguin bunda. “ lanjutnya dengan kasih sayang bagaikan putri kandung membujuk bunda Lisa.
Walaupun banyak yang ingin ditanyakannya, namun mendengar suara lembut menantunya akhirnya bunda Lisa menuruti kata-kata Zabina untuk istirahat. Dengan perlahan membaringkan tubuhnya lalu diselimuti oleh Zabina. Oman tersenyum bahagia melihat interaksi kedua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Tak berbeda dengan ayah Sahid, senyum bahagia pun tercetak jelas dibalik wajahnya yang sudah tak muda lagi.
__ADS_1
🍒🍒🍒🍒
Jangan lupa dukungannya