
...Happy reading beloved readers...
Tiba di bandara Internasional negara yang terkenal dengan kepala singanya, Zabina kemudian menuju rumah sakit Mount Elizabeth yang memiliki jumlah Kardiologis dan bedah kardiothoracic terbanyak di Asia Pasifik dan dilengkapi dengan tehnologi moderen dan fasilitas berkelas berkelas dunia. Zabina tidaklah ingin sesuatu yang buruk terjadi pada pak Sapto yang telah berjasa selama ini. Bukan sebagai balas budi akan tetapi Zabina sangat menyayanginya sebagaimana pria itu menyayangi Zabina layaknya putri kandungnya sendiri.
Mobil yang menjemput Zabina atas perintah Retno akhirnya tiba dirumah sakit, Zabina langsung memasuki ruang perawatan pak Sapto, kemudian Retno menghampiri Zabina dan mereka berpelukan setelah itu Zabina mendekati pak Sapto yang masih berbaring lemah.
“Maafin Nana, ya pak. Sudah membebani pekerjaan hingga penyakit bapak amfal .” Dengan wajah bersalah dan menyesal, Zabina memeluk pria paruh baya itu.
Pak Sapto hanya tersenyum dan mengelus dengan sayang rambut hitam legam milik Zabina. Gadis kecil yang dulunya selalu ingin tinggal di Singapura bersamanya kini telah berubah menjadi seorang wanita yang cantik dan menarik meskipun terlihat cuek dan masa bodoh, namun memiliki aura yang kuat.
“Retno, panggil Radit kemari .” titah pak Sapto dengan suara yang masih lemah.
Tanpa banyak bertanya, Retno menelpon Radit sesuai perintah papanya. Radit adalah asisten pak Sapto yang handal dan sangat dipercaya oleh pak Sapto. Radit sangat disiplin dan konsisten dengan pekerjaannya hingga pak Sapto menjadikannya tangan kanannya.
“Setelah dipikir-pikir, sebaiknya Nana mengurus langsung perusahaan PT. Adhira, pak. Tapi bapak harus berjanji tetap membimbing dan memberikan masukan pada Nana terkait masalah perusahaan”. Kata-kata Zabina membuat pak Sapto tersenyum lebar. Hal inilah yang ia tunggu sejak lama.
__ADS_1
“Tapi gimana dengan kuliah mbak Nana. “ meskipun gembira mendengar keputusan Zabina namun Retno tetap menyayangkan kuliah Zabina yang belum kelar.
“Tenang aja, kak,,, aku bisa melanjutkan kuliah kapan-kapan. Yang penting bapak sehat dan bisa memantau pekerjaanku. “ dengan tenang dan tersenyum, Zabina berusaha memperlihatkan bahwa ia tidak menyesali keputusannya.
Walaupun keinginan Zabina terus melanjutkan pendidikannya sampai otaknya tidak mampu lagi untuk belajar akan tetapi ia tidak boleh egois dengan terus menerus membebani pak Sapto dengan memimpin perusahaannya. Zabina berpikir jika inilah saatnya ia harus mengambil alih tanggung jawabnya pada perusahaan yang semakin berkembang dibawah kepemimpinan pak Sapto.
Tok tok tok
Terdengar ketukan pada pintu kamar dimana pak Sapto dirawat. Retno segera berdiri dan membuka pintu. Seorang pria tampan berkulit sawo matang khas warna kulit Indonesia pada umumnya tersenyum ketika pintu telah terbuka.
Radit mengernyitkan dahinya melihat kehadiran Zabina. Seolah mampu membaca pikiran asistennya, kemudian pak Sapto segera memperkenalkan Zabina.
“Dit, kenalkan Zabina. Pemilik perusahaan PT. Adhira dan akan segera menggantikan posisi bapak. Semoga kalian bisa bekerjasama. “ Pak Sapto kini dalam posisi duduk meskipun punggungnya dilapisi bantal.
“Radit. “
__ADS_1
“Zabina.” Saling mengulurkan tangan dan menyebutkan nama masing-masing saat bersalaman.
“Dit, kamu bawa kan berkas untuk rapat lusa ? Berikan pada Zabina agar dapat dipelajari.”
“Ada pak, tapi di mobil.” Radit kemudian meminta ijin untuk mengambil berkas yang dimaksud oleh pak Sapto.
“Bapak yakin jika kalian bekerjasama dengan baik maka perusahaan akan semakin berkembang pesat. “ pak Sapto sangat yakin dengan penilaiannya.
“Insya Allah pak. Nana akan berusaha sebaik mungkin. “ ucap Zabina dengan memantapkan dirinya.
🎶🎶🎶🎶
Maafkan othor kemarin gak up, ide cerita mendadak ZONK
Selamat menikmati dan terus dukung othor 🙏🙏🙏
__ADS_1