
Tak terasa telapak tangan Khansa mulai basah karena keringat begitu juga dengan Vasko, Khansa mulai merasa risih, ia sangat tidak suka jika ada keringat di tubuhnya makanya anak ini jarang berkeringat, tapi belum ada tanda Vasko akan melepas genggamannya Vasko seolah memberi sinyal kepada Khansa bahwa Vasko sudah ada rasa padanya, Vasko malah berbicara keras dengan Defan dan Kevin tanpa peduli akan kedua telapak tangan yang basah karena sudah terlalu lama bersentuhan. Akhirnya Khansa menarik tangannya ia sudah tidak tahan ingin mengelap tangannya Vasko menoleh ke arahnya
"Ah maaf! Tanganku basah." ucapnya pelan, Khansa lalu meniup niup telapaknya tangannya berharap basah keringat cepat kering, Vasko hanya mengelus kepala Khansa seraya beranjak pergi menjauhinya dan mendekati Kevin dan Defan, Khansa tertunduk lesu apakah aku sudah merebut kebahagian Ratna? Rasa bersalah itu berkecamuk di dadanya sepanjang acara kembang api Khansa memilih diam tidak bicara banyak pada Ratna, sampai akhirnya tiba waktunya mereka berdua masuk kamar.
"Eh gimana gimana? gue liat tadi Vasko megang tangan lu Khan?" tanya Ratna begitu semangat sengat berbanding terbalik dengan yang Khansa pikirkan
"Maaf ya Rat, tapi tadi itu dia yang megang duluan pas gue mau narik dia malah makin erat megangnya." cerita Khansa penuh penyesalan bahkan ia langsung memegang kedua tangan Ratna
"Lu kenapa takut gitu, sih?"
"Kalian kan lagi PDKT terus tiba-tiba dia malah begini sama gue, gue engga mau lu salah paham sama gue." Khansa agak heran dengan reaksi Ratna barusan
"Dari awal, kan dia maunya pedekate ama lu Khan, tapi dia tanya-tanya gue dulu bukan karena dia suka sama gue." Ratna akhirnya mengungkapkan yang sebenarnya, Khansa langsung terdiam mematung bagai es lilin Ratna melambai lambaikan tangannya di depan Khansa.
"Ni orang pingsan apa kaget, sih?"
__ADS_1
Begitu tersadar Khansa langsung melayangkan tinjunya ke lengan Ratna, Ratna bukannya mengaduh malah ketawa cekikikan melihat ekspresi wajah kesal Khansa.
"Kok, lu gak ngomong anjoy!"
"Cie senengnya ya ditaksir Vasko lu." Ratna malah balik meledek dirinya seketika wajah Khansa memerah, ia langsung menarik selimut dan menenggelamkan dirinya si kasur
"Ye, awas lu engga bisa tidur!" Ratna masih meledeknya seraya rebahan di samping Khansa. Benar saja ledekan Ratna jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari tapi Khansa masih belum bisa tidur nyenyak bolak balik yang terus terlintas dikepalanya adalah momen Vasko menggenggam tangannya, ia berusaha memejamkan mata tapi tetap saja bayangan Vasko masih seliweran di pikirannya. Hal serupa pun dialami oleh Vasko ia sedari tadi masih senyum-senyum sendiri mengingat momen tadi.
Terdengar ayam berkokok dari kejauhan sana, Khansa sudah bangun dan membersihkan dapur bekas peralatan tadi malam berniat bangun sholat subuh lalu balik lagi ke kamar malah engga bisa tidur lagi akhirnya dia memutuskan bangun dan membereskan dapur yang penuh dengan piring kotor dan sampah-sampah plastik dan botol minuman. Tak beberapa lama Ratna bangun langsung duduk di meja makan
"Masak apa?" tanya Khansa seraya mengecek isi lemari pendingin
"Cuma ada sosis sama telur." Khansa memperlihatkan sosis pada Ratna yang berjalan sempoyongan mendekati Khansa
"Bikin nasi goreng aja!" Usul Ratna kembali ke tempat duduknya, Vasko keluar dari kamar dan menghampiri Ratna dan Khansa di dapur. Melihat Khansa berdiri di depan kulkas Vasko terhenyak dan cepat cepat membuka pintu kulkas ia kaget karena kulkas tidak ada isinya selain beberapa potong sosis dan dua butir telur itupun sisa tadi malam.
__ADS_1
"Gue pergi ke market sebentar?!"
Khansa buru-buru memcegahnya
"Engga usah aku cuma mau bikin nasi goreng, sisa nasi tadi malam masih banyak sayang kan kalo engga dimakan."
"Sayurnya gimana?" Vasko nanya lagi
"Engga usah pake sayur telor sama sosis aja udah cukup." Khansa mengeluarkan sosis dan telur dari kulkas
"Tenang aja dia pintar masak, kok!" Ratna menepuk bahu Vasko
"Gue bantuin?" Baru saja Vasko akan mendekat Khansa sudah dulu mengibaskan tangannya ke arah Vasko
"Gue engga mau di bantu, sana sana!"
__ADS_1
Vasko memanyunkan bibirnya seraya pergi Khansa tertawa geli, aku pikir jatuh cinta itu sekali saja seumur hidup saat kita sudah menikah tapi aku engga tau kalo ternyata bisa datang yang kedua kalinya, selama ini aku hanya mencintai Rafa dialah yang tak pernah menyakitiku aku percaya dan sepenuhnya hanya mencintai Rafa seorang tapi kali ini perasaan ini beda menyukai orang asing itu berbeda. Tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam Khansa tidak terlalu ingin menaruh harapan pada Vasko ia takut Vasko hanya ingin bermain dengannya sedangkan Khansa menginginkan hubungan yang lebih baik dari sebelumnya belum lagi dengan status mereka yang berbeda itu adalah salah satu faktor utama dia sulit untuk bisa percaya akan ketulusan seseorang.