Cinta Terakhir

Cinta Terakhir
Episode 24


__ADS_3

"Tadinya aku berniat menjodohkan Vasko dengan orang Seoul..."


Lidya mengerutkan keningnya mendengar penuturan Ibunya Vasko barusan


"Tapi dia bilang, mau memilih sendiri ... dan ternyata dia kurang pandai memilih!"


Lidya dan Khansa serentak terdiam


"Saya berkata begini bukan karena membenci status janda ... saya hanya ingin Vasko lebih teliti lagi, menikah itu bukan sekedar suka sama suka. Masa lalu mu, anakmu apa dia bisa menerima itu? Mungkin sekarang dia bisa terima, 5 tahun lagi apa dia masih sama seperti sekarang? Belum tentu!"


"Kamu pun pasti ingin hubungan yang lebih baik dari yang pertama, kan?"


Khansa hanya mengangguk


"Pikirkan lagi baik-baik, sebagai sesama wanita saya hanya mengingatkan, Vasko memang anakku aku menginginkan yang terbaik buat dia, tapi aku juga tidak suka jika dia membuat orang lain terluka ... saya rasa kamu pasti mengerti?!"


"Iya Tante, saya mengerti!" jawab Khansa mengangguk.


Khansa merapikan kembali pekerjaannya yang tadi tertunda, pandangan matanya nampak kosong dan lelah. Sayup sayup Khansa mendengar suara tak asing memanggilnya dari jauh.

__ADS_1


"Bunda!"


Khansa langsung mencari sumber suara, Rafa melambai lambaikan tangannya di parkiran bersama Hendy yang sedang menggendongnya, Khansa segera menemui mereka


"Bunda!" Rafa langsung memeluk Khansa penuh haru, begitu pula Khansa yang sudah sangat merindukannya.


"Kami tungguin di rumah, malah masih disini!"


"Ada sedikit lagi tadi ... ya udah ayo pulang."


"Bunda, mau ikut mobil Ayah?" tanya Rafa


"Bunda bawa motor sayang, Rafa aja yang ikut ya!"


Hendy lebih dulu tiba di rumah beberapa menit dari Khansa, Hendy mengeluarkan beberapa kantong kresek besar dari bagasi mobil berisi mainan dan beberapa jajanan Rafa.


"Bajumu bisa nambah banyak ya?!" ucap Khansa melihat tas yang berisi baju Rafa jadi penuh dan sesak padahal sebelumnya hanya beberapa lembar baju saja. Seketika dia sudah melupakan percakapan beberapa waktu lalu bersama Ibunya Vasko.


"Mau minum apa?" tanya Khansa pada Hendy

__ADS_1


"Nggak usah, bentar lagi mau balik juga."


"Ini dari Nenek, dan ini dari aku." Hendy menyerahkan dua amplop berisi uang pada Khansa, Khansa menerimanya dengan berkaca-kaca


"Makasih banyak ya! Salam juga buat Mama."


"Ayah langsung balik ya, kapan-kapan kita naik mobil lagi." ujar Hendy seraya mencium kening Rafa dan membelainya lembut


"Sama Bunda ya, Yah!"


"Iya iya ... Aku balik dulu!" Pamit Hendy pada Khansa yang hanya mengangguk saja, mobil Hendy menjauhi pelataran rumah mungil Khansa, mata Khansa mengekor kepergian mobil Hendy. Kesepian tentu saja, anak itu memang penghibur tapi kita tetap memerlukan pasangan untuk tempat berkeluh kesah. Selama ini yang menjadi teman curhat Khansa hanyalah Ratna.


"Aku kenal Khansa udah lama, sih! Dia itu dari kampung, dulu dia ngekos..." cerita Lidya saat berada di mobil, dia kebetulan saja main ke rumah Vasko dan tau tau Ibunya Vasko malah mengajak dirinya untuk menemui Khansa.


"Oh ya?!"


"Mm ... dia emang agak pendiam sih, aku juga kurang tau apa alasannya cerai dengan suaminya."


"Tante, ya tidak sepenuhnya menolak hubungan mereka hanya saja, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan secara matang terutama Vasko ... kamu tau sendiri kan budaya berpisah di Korea dan disini itu berbeda."

__ADS_1


"Iya ... kalau ... aku deket sama Vasko, gimana Tan?" tanya Lidya dengan pedenya


"Bagaimana Vasko menanggapi saja, aku nggak memihak siapapun, kamu atau perempuan tadi? Intinya sebuah hubungan itu yang terpenting adalah kenyamanan."


__ADS_2