Cinta Terakhir

Cinta Terakhir
Episode 29


__ADS_3

3


Terdengar ketukan pintu dari luar, Vasko sempet ngedumel siapa lagi yang datang? Pikirnya. Ia pun segera membuka pintu, tampak wajah sumringah Lidya sedang berdiri didepan pintu, Vasko hanya memejamkan matanya seraya pergi dari depan pintu menuju tempat duduknya kembali. Lidya pun masuk ke dalam menyusul Vasko, membuka cardigan yang menutupi lengan dan bahunya, ia bahkan datang dengan berpakaian tipis, Vasko berusaha mengalihkan pandangannya dari Lidya mencoba fokus ke layar komputer. Lidya mendekati Vasko ke meja komputer, mencoba mengintip apa yang dilakukan pria itu.


"Lu lagi ngapain?" Bisik Lidya tepat didekat telinga Vasko, membuat lelaki itu reflek memundurkan wajahnya, tampaklah belahan jiwa Lidya yang menyeruak dari balik baju crop top yang ia kenakan.


"Jangan deket-deket ngapa?" Protes Vasko membuat Lidya bergeser beberapa inci darinya.


"Sori!"


Ia sebagai laki-laki normal, siapa yang tidak panas dingin mengalami situasi seperti itu. Lidya mengelus lembut leher Vasko dengan jari jari lentiknya lalu beranjak duduk kembali ke sofa yang menghadap ke meja kerja Vasko, ia duduk dengan posisi yang agak memancing. Membuat Vasko berpikiran liar. Lidya hanya tersenyum liar ke Vasko yang memandang lekat ke arahnya malaikat dan iblis tengah bertengkar hebat mengompori otaknya. Lidya akhirnya bangkit dari duduknya menemui Vasko yang masih duduk didepan komputer dengan pandangan yang tertuju pada dirinya, Lidya merasa ia sudah hampir bisa mendapatkan Vasko, ia lalu duduk dikedua belah paha Vasko lalu merangkul pria itu dari depan. Vasko benar benar tak bisa berbuat apa apa, Iblis telah memenangkan pertarungan dikepalanya. Ia bahkan tak menolak, pasrah saja saat Lidya duduk di pangkuannya, sesaat sebelum keduanya benar benar hanyut lebih dalam lagi, hape Vasko bergetar mengejutkan keduanya. Mata Vasko membesar saat tau siapa yang menelponnya barusan, belum sempat dia menerima telpon itu sambungan sudah dimatikan. Vasko segera bangkit dan berjalan keluar dari studio, Lidya hanya menggerakkan marah.

__ADS_1


Khansa dengan paniknya mematikan sambungan telpon tadi.


"Jangan sembarang pencet Rafa!" Gerutu Khansa anak itu hanya memasang tampang tak mengerti, karena dia tadi sedang menonton video di hape itu lalu tangannya rese memindah mindah sehingga ke pencet nomer Vasko. Tak beberapa lama Vasko kembali menghubunginya, Khansa menghela nafas benar saja dugaannya. Khansa menolak panggilan itu dan segera kirim chat pada Vasko.


"Sori! Tadi Rafa salah pencet!" Isi chat Khansa, dia males harus mendengar suara Vasko lagi. Lagi lagi Vasko menelponnya sekali dua kali tiga kali, Vasko sampai mengirim chat lagi pada Khansa.


"Angkat, plis!" Khansa membuka chat dari Vasko, beberapa detik hape itu berbunyi lagi. Khansa menempelkan hape ke telinganya tanpa berbicara duluan.


"Iya!"


"Gimana kabar kamu?"

__ADS_1


"Baik! Kamu?"


"Baik!" Percakapan itu terdengar kaku


Keduanya cukup lama diam, sampai terdengar suara Rafa merengek meminta pinjam hape.


"Udah dulu ya, Rafa lagi nonton tube tadi."


"Iya iya!" Khansa mematikan sambungan telpon dan memberikannya pada Rafa. Sementara Vasko masih tak percaya Khansa akan menyelamatkan dirinya dari godaan Lidya. Vasko kembali masuk studio, Lidya tampak sedang duduk disofa dengan raut wajah jengkel. Vasko segera meraih jaket dan kunci mobilnya.


"Kamu mau pulang apa mau nginep disini?" tanya Vasko kembali dingin, Lidya dengan ketus menyambar tasnya dan mendahului Vasko keluar dari sana.

__ADS_1


__ADS_2