
"Kamu suka sama dia?" Ayahnya balik bertanya.
"Papah tanya apa alasan kamu suka sama wanita itu?" tanya Ayahnya lagi, Vasko masih diam mencari jawaban dari pertanyaan Ayahnya barusan.
"Papah pernah nggak suka sama seseorang karena kebaikannya, bukan karena kecantikannya?"
"Mm ... pernah."
"Itu yang aku rasakan sama Khansa Pah...."
"Menurut Papah, ya ... dia memang anaknya baik, ramah, kalo kamu benar benar suka sama dia, kamu bisa menerima dia apa adanya ... hanya satu pesan Papah, jika kamu tidak bisa mencintai anaknya kamu tidak akan bisa mencintai Ibunya ... jika kamu bisa mencintai mereka berdua silakan saja, Papah dukung."
"Papah beneran?"
tanya Vasko memastikan lagi bahwa dia tak salah dengar.
"Untuk apa Papah mempermainkan kamu! Tentu saja Papah serius."
Vasko seketika merasa lega, sudah mengantongi dukungan dari Ayahnya.
"Gimana sama Mama?" tanya Vasko seketika suram
"Kamu bujuk dia!"
Vasko berpikir keras bagaimana membujuk Mamanya, tapi sebelum itu ada baiknya kalo dia pergi ke rumah Khansa dulu menjenguk wanita itu, namun saat ia tiba beberapa meter dari rumah Khansa, sudah terparkir mobil lain yang merupakan mobil Hendy, mereka terlihat sedang berbincang santai diteras rumah, Vasko memang belum pernah bertemu Hendy tapi ia bisa menebak kalo laki-laki itu adalah mantan suaminya itu tampak jelas dari cara mereka berbincang-bincang, Khansa bukanlah tipe orang sok asik jika pada orang yang baru dikenalnya. Vasko mengurungkan niatnya untuk bertamu, namun tak kunjung juga untuk pergi dari sana. Vasko akhirnya meneruskan mengendarai mobilnya dan berhenti dibelakang mobil Hendy, kali ini tekadnya bulat, sebulat kacang panggang.
Khansa lumayan kaget saat melihat kedatangan Vasko, tiba-tiba jantungnya berdebar kencang. Vasko hanya melempar senyum saat turun dari mobil.
"Vasko! ... silakan duduk!" Khansa mempersilakan Vasko untuk duduk di bangku yang masih kosong, ia juga tak menyangka akan kedatangan Vasko disaat sedang ada Hendy, sementara Hendy hanya menatap kedatangan Vasko hingga dia duduk disana dengan tanda tanya menghantui kepalanya.
"Ini Vasko! ... temen aku!" Khansa memperkenalkan Vasko pada Hendy yang keduanya saling memperkenalkan diri.
"Mau minum apa?" tanya Khansa
__ADS_1
"Apa aja boleh!"
"Bentar, ya!" Khansa beranjak sebentar dari tempat duduknya meninggalkan ketegangan antara keduanya. Keduanya memilih diam sampai Khansa kembali dari dapur dengan membawa minuman untuk Vasko.
"Tumben kesini, ada apa?" tanya Vasko
"Nggak, cuma kepengen main!"
Perbincangan itu semakin membuat Hendy penasaran siapa Vasko ini, namun ia tak mungkin menginterogasi Khansa disana.
"Ya udah! Aku balik duluan, ya ... santai aja disini!"
Hendy beranjak dari duduknya, dan menepuk bahu Vasko dengan akrabnya, Vasko hanya tersenyum seraya mengangguk pelan. Situasi itu sempat membuat Khansa berkeringat dingin, untungnya reaksi Vasko tak sedingin dia waktu kemaren. Hendy pun berlalu dari sana tinggalah mereka berdua disana.
"Itu ... mantan suami kamu?" tanya Vasko akhirnya
"Iya."
"Ngapain kesini?"
"Kan bisa lewat telpon?"
"Tadinya mau ketemu Rafa, tapi kan Rafa lagi di kampung sama Mama."
"Kenapa bakalan nggak kesini lagi? Dia mau pindah?" tanya Vasko udah kayak Intel
"Nggak ... istrinya nggak suka dia sering-sering kesini!"
Vasko langsung terdiam, Khansa pun ikut terdiam.
"Rasanya serba salah. Padahal, ya nggak ngapa-ngapain." Keluh Khansa dengan tatapan kosong karena selalu menjadi sasaran prasangka buruk.
"Nggak usah dipikirin, kan ada aku!"
__ADS_1
Khansa dengan terpaksa menyunggingkan senyum, malu-malu.
"Ngapain kamu kesini?"
tanya Khansa beralih pada Vasko.
"Aku ... liat keadaan kamu, Papah cerita katanya kamu baru balik dari kampung!"
"Iya, ketemu dijalan."
"Ngapain ke kampung?"
"Biasalah kangen orangtua, emang mau ngapain lagi?!"
Mobil Vasko baru saja keluar dari komplek rumah Khansa ia dihentikan oleh Hendy yang sedari tadi menunggunya didepan komplek, Vasko yang menyadari Hendy sepertinya sedang menunggu seseorang pun berhenti dan turun dari mobil menghampiri Hendy yang sedang bersandar disisi mobilnya.
"Ada perlu apa?" tanya Vasko
"Udah lama pacaran sama Khansa?"
"Kami belum pacaran."
"Tapi kami suka kan sama dia?"
"Kenapa? Nggak boleh?" tanya Vasko berusaha kalem
"Ya, silakan aku cuma nanya! ... bagaimanapun kami udah punya anak..."
"Tenang saja, aku akan menerima Rafa seperti aku menerima Ibunya ... aku juga tak masalah seandainya kamu ingin sering-sering menjenguk Rafa."
Hendy hanya tersenyum kecut
"Baguslah! Khansa wanita yang baik, semoga hubungan kalian langgeng!"
__ADS_1
"Aku juga mau berterima kasih, karena kamu sudah membuangnya, untukku!"
Vasko segera pergi dari hadapan Hendy yang masih menyerap ucapan Vasko tadi, ia sengaja mengucap demikian karena, ia paham betul perasaan Khansa tadi saat berbincang berdua. Dia yang merasa serba salah oleh istri barunya Hendy, karena Hendy yang sering ke rumah menjenguk Rafa.