Cinta Terakhir

Cinta Terakhir
Episode 14


__ADS_3

Khansa dikejutkan dering telpon hapenya, ia melihat sebentar ke layar hape ternyata Vasko. ia agak ragu untuk menjawab telpon barusan


"Ada apa?" Tanya Khansa singkat


"Ah! Lu engga balas SMS jadi ya ku telpon." Ucapnya begitu cemas


"Aku lagi ke warung, lupa engga bawa hape." Kilah Khansa


"Udah makan?" tanya Vasko lagi


"Iya udah." Lagi-lagi Khansa menjawabnya singkat, Vasko agak heran dengan nada datar itu. Besoknya Vasko pergi bertemu Khansa di tempat kerjanya, setelah berputar putar mencari keberadaan Khansa akhirnya Vasko menemukan titik kerja Khansa di jalan xxx sedang menyapu daun bekas pangkasan di jalan raya, Vasko duduk manis di atas motor bebek milik Khansa dipinggir jalan gaya pakaiannya yang seperti tuan muda sungguh sangat mencolok duduk dipinggir jalan beberapa pejalan kaki melihat kearah Vasko, merasa jadi pusat perhatian para pejalan kaki Vasko akhirnya melepas kacamata hitamnya. Khansa yang baru menyadari kedatangannya pun akhirnya menemui Vasko diparkiran.


"Ngapain kesini?" tanya Khansa


"Mau ketemu kamu!"


Khansa menyenderkan lengannya di atas motor.


"Ada yang mau aku omongin?"

__ADS_1


"Ngomong aja."


"Ngomongnya di mobil aja."


Vasko mengajak Khansa untuk ke mobil saja demi menghindari kebisingan, padahal masih pagi engga terlalu bising-bising amat tapi ya Khansa malas kalo harus mendebatkan masalah sepele akhirnya dia menurut saja.


Didalam mobil Khansa sudah siap mendengarkan Vasko bicara tapi Vasko malah urung berbicara dari tadi.


"Ngomong apa?" Akhirnya Khansa bertanya duluan


"Ini menyangkut perasaan ... gue ke lu...?" Vasko agak gugup untuk berbicara langsung ia beberapa kali melap jidatnya yang basah karena gerah ia menghidupkan AC mobil sebentar.


"Aku udah bisa nebak, sih! Kamu mau ngomong itu." Khansa berusaha bersikap datar padahal dalam hatinya sana dia tuh bagai ketimpaan bintang jatuh kalo saja statusnya masih bujangan mungkin dia bakalan jingkrak-jingkrak semalaman tapi sekarang tak semudah waktu single dulu.


"Lu harus mempertimbangkan lagi perasaan itu, gue ini udah punya anak."


"Gue akan nerima anak lu!" Vasko langsung menyela ucapan Khansa


"Kenapa lu engga cari yang single aja?"

__ADS_1


"Apa kalo orang sedang jatuh cinta itu harus memandang status dulu?" Vasko balik nanya dengan rona muka serius, Khansa menjadi takut untuk menatap matanya.


"Kenapa lu engga jawab?" Khansa masih terdiam


"Lu pikir lagi, deh! Gue gak mau gegabah tentang hal begini."


"Gue udah mikirin ini lama, sejak kita ketemu ditukang ramal dulu ... kecuali lu emang engga suka sama gue?"


"Cewek mana sih yang bakal nolak cowok sesempurna lu Vas."


"Lu?"


"Gue rasa ini terlalu cepat, baiknya kita temenan aja seperti biasa aku cuma engga mau tiba-tiba kita engga cocok ... gue bisa mengerti perasaan lu, tapi lebih baiknya jika tidak ada yang terluka di antara kita suatu saat nanti." ungkap Khansa


"Apa ... lu masih belum bisa lupain mantan lu?" Vasko mencoba memberanikan diri bertanya perihal mantan suaminya, Khansa membisu cukup lama. Sekalipun dia sudah bercerai dan Hendy sudah menikah lagi, Khansa belum bisa sepenuhnya melupakan sosok Hendy apalagi untuk menggantikan posisinya dihati Khansa cukup berat baginya bagaimanapun mereka sudah dikaruniai anak yang tampan, dan lagi niatnya untuk tidak menikah lagi demi kehidupan Rafa dan dirinya, 5 tahun kebersamaan itu bukanlah waktu yang singkat bagi Khansa, dan waktu setahun belum bisa sepenuhnya bisa menghapus memori 5 tahun itu.


"Gue bener bener minta maaf sama lu!"


"Yah, gue bisa ngerti, kok! Lupakan aja yang gue utarakan tadi, gue minta maaf karena udah lancang bertanya..."

__ADS_1


Khansa hanya menggeleng


"Nggak pa-pa ... gue balik kerja dulu ya?!" Khansa segera turun dari mobil, Vasko tak dapat mencegahnya untuk pergi karena bagaimanapun mereka hanya sebatas teman kenal, Vasko memandang kepergian Khansa dari dalam mobil hingga akhirnya melaju pergi meninggalkan parkiran, Khansa menatap kepergian mobil Vasko dengan segenap sesal yang tak bisa diungkapkan.


__ADS_2