
46
"Kayaknya Farna nggak suka dengan adegan tadi." Tebak Khansa memotong, Vasko menelan salivanya hingga membuat jakunnya bergerak naik turun.
"Kenapa juga kamu memaksa untuk suka sama aku, kalau ada orang cantik dan baik yang juga berharap sama kamu." ucapan Khansa itu lagi lagi membuat Vasko membisu seakan memberi waktu Khansa untuk menghabiskan unek-uneknya
"Emang kamu udah nggak suka sama aku?"
"Aku suka sama kamu, tapi kita nggak akan bisa bersatu aku menyadari itu...,"
"Kenapa?"
Vasko mencoba menatap Khansa, ia malah menundukkan pandangannya
"Kenapa kamu bisa seyakin itu kita nggak bisa bersatu?"
"Aku ini orang biasa, aku nggak punya kelebihan yang bisa aku banggakan sama keluargamu...,"
"Kamu baik!" Tukas Vasko memotong ucapan Khansa
"Baik aja nggak cukup sebagai alasan."
Keduanya saling diam tak bersuara,. Khansa masih tertunduk ia masih takut bertemu pandang dengan Vasko, ia juga merasa bersalah karena lagi lagi harus berkata demikian. Khansa hanya menebak-nebak apakah Vasko akan marah atau bagaimana yang jelas dia tak ingin bertatapan dengan pria itu. Di luar dugaannya Vasko malah merangkul leher Khansa sehingga bibir mereka saling bertemu, Khansa reflek mendorong tubuh Vasko namun Vasko lebih erat merangkulnya, bahkan kini tangan kanannya sudah melingkar di pinggang Khansa yang masih berusaha berontak melepaskan diri, ia takut jika ada yang memergoki aksi Vasko tersebut. Lama kelamaan aksi berontak Khansa melemah ia pasrah menghanyutkan dirinya dalam syahdunya ciuman panas itu. Hingga akhirnya dia sudah tak bisa menahan nafasnya dan Vasko melepas ciuman panas itu, Khansa nampak tersengal sambil menyeka bibirnya yang basah, Vasko kembali mendaratkan ciumannya namun tak sebrutal yang pertama karena Khansa sudah tak merasa segan lagi menerima ciuman itu, sampai Khansa tersadar dan mendorong tubuh Vasko, wajahnya tampak cemas.
"Kenapa?" Bisik Vasko lembut
"Takut ada yang liat." Khansa celingukan melihat sekeliling mereka.
"Aku mau balik ke kamar dulu." pamit Khansa padanya seraya bangkit dari sana, diikuti Vasko melangkah menuju kamar. Sebelum sempat Khansa memutar handle pintu Vasko lebih dulu meraih tangannya menyeret tubuh mungil itu hingga tubuh Khansa mentok ke daun pintu. Lagi lagi Vasko menciumnya dengan hangat sambil memeluknya, lama sekali dirinya tak merasakan hangatnya pelukan seseorang yang dia cintai, Khansa dan Vasko sama sama menenggelamkan dirinya dalam ciuman hangat itu.
"Udah masuk sana!" Bisik Vasko masih memeluknya
"Mm."
Vasko pun melepas pelukannya dan melayangkan ciuman terakhir di kening Khansa, membuat wanita itu memerah.
"Aku tidur bareng yang lain di kamar tamu." ucap Vasko tak ingin membuat Khansa salah paham
"Oh! Oke selamat malam."
__ADS_1
"Malam."
Pagi menyapa mereka lewat suara ayam yang berkokok dari kejauhan, eh sori emang kawasan rumah elit melihara ayam?? Pokoknya ada lah ya namanya juga ayam, dibenua manapun ada.
Khansa baru terbangun dari tidurnya ia melirik Ratna sudah tak ada disampingnya, terdengar hanya ada dia seorang disana, ia tak tahu sekarang jam berapa tapi yang jelas matahari sudah bersinar terang menembus kaca jendela yang masih tertutup tirai. Ratna masuk dari luar dengan sudah memakai baju baru ia tampaknya baru selesai mandi.
"Udah mandi?" sapa Khansa sambil masih tiduran, ia masih mengantuk karena tadi malam hampir tak bisa tidur karena masih kasmaran dengan adegan panas tadi malam.
"Iya dong, habis ini kan jalan-jalan!"
ucap Ratna sambil membuka tas make up miliknya.
"Orang sebelah nggak balik?" tanya Ratna berbisik didekat telinga Khansa.
"Begitulah!"
"Aneh! Mentang-mentang artis jadi seenaknya." Sungutnya berbisik pelan, Farna memasuki kamar dengan muka bantalnya yang tetap terlihat cantik. Ratna dan Khansa kembali ke mode senyap. Setelah berganti pakaian mereka semua lalu berkumpul kembali ke ruang makan untuk sarapan pagi, Vasko sudah berada disana bersama kedua orangtuanya, sedangkan beberapa pelayan sedang menata makanan dimeja makan.
Sejak kejadian tadi malam, Khansa tiba-tiba menjadi malu saat bertemu Vasko biasanya ia tak merasa begitu, bahkan untuk sekedar menatap pria itupun dia malu.
Skip cerita mereka sudah 4 hari disana, dan sore itu Vasko men-chat Khansa bahwa malam ini dia akan mengajak Khansa makan malam rahasia. Vasko juga memberitahukan bahwa ia meninggalkan kotak berisi gaun dibawah tempat tidur Khansa, Khansa memberitahukan chat itu pada Ratna. Ratna langsung membungkuk melihat ke kolong ranjang dan benar saja ada sebuah kotak kado disana mereka pun diam-diam membuka kado tadi dan tampaklah gaun berwarna krem panjang layaknya gamis dengan bentuk lengan balon memanjang dengan beberapa payetan permata dibagian dadanya.
"Wah!" Ratna berdecak kagum
"Iya lah! ... tenang aja alat make up gue lengkap gue dandanin lu secantik mungkin hingga tak ada celah." ucap Ratna berapi-api. Malam pun tiba Vasko men-chat lagi Khansa yang sedang berdandan di kamar, sebisa mungkin Farna jangan sampai melihat dia keluar dengan dandanan glamor begitu, Vasko pun memberikan jalan tikus untuk mereka bisa keluar lewat belakang menuju parkiran dimana Vasko sedang menunggunya didalam mobil. Keduanya berlari kecil menuju mobil Vasko, Vasko segera keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Khansa segera masuk.
"Sori, kita harus kucing-kucingan kayak gini." Sesal Vasko saat mereka sudah berada dalam mobil
"Nggak pa-pa!"
"Kamu, cantik banget pakai baju itu. Lagi-lagi aku nggak salah pilih." pujinya membanhv VB ccbbvmlggakan diri.
"Makasih." ucapnya singkat
Tak berlama-lama Vasko melajukan mobilnya menuju Restoran bintang lima di daerah xxx, tak beberapa lama mereka tiba di depan Restoran yang dimaksud, Khansa dibuat takjub saat tiba disana, para pengunjung disana pun tak kalah takjub memandangnya tampil cantik berhijab dinegara mayoritas itu. Vasko menggandeng tangan Khansa menuju meja yang sudah dia persiapkan, ada dua orang yang sudah duduk manis disana menunggu mereka.
"Maaf menunggu!" Sesal Vasko seraya menarik kursi untuk Khansa duduk, wanita itu cukup terkejut mendapati kedua orangtua Vasko itu duduk manis menunggu mereka dengan pakaian rapi nan indah. Khansa melempar senyum malu-malu duduk berhadapan dengan orangtua Vasko.
"Udah lama nunggu Om?" tanya Khansa pelan
__ADS_1
"Nggak apa, aku sama Ibunya Vasko memang rencana mau makan malam berdua disini. Dan tiba-tiba saja mau mengundang kamu sekalian!" Ungkap Ayahnya Vasko dengan senyum lebar dan ramah tidak seperti Ibunya yang hanya diam saja.
"Terima kasih banyak, jadi ngganggu acara dong ini." pungkas Khansa merasa segan dengan kebisuan Ibunya Vasko
"Nggak pa-pa, mumpung lagi disini."
Mereka pun memesan makan dan menikmati makan malam keluarga kecil itu, ia niatnya Vasko memang untuk mengenalkan lebih dekat Khansa pada Ibunya.
"Kamu umur berapa?" tanya Ibunya Vasko disesi makan penutup makanan kecil seperti dessert dan buah
"Saya- 25!" jawabnya agak terbata
"Anakmu?"
"3,5 tahun!"
"Kamu asli mana?"
"Desa xxx!"
"Apa pendidikan terakhirmu?"
"Mama?" Potong Vasko merasa tidak enak dengan Khansa
"Kenapa? Pendidikan itu penting!" Semprot Ibunya dengan tenang, karena backgroundnya dirinya yang lulusan luar negeri
"Saya sempet kuliah sebentar..."
"Berhenti atau sedang cuti?"
"Berhenti!" jawabnya pelan tertunduk malu
"Pendidikan itu bisa dikejar kapanpun Ma!" tambah Vasko mencoba menetralkan suasana, perempuan cantik itu mendelik ke arahnya tanpa berkata-kata, ia merasa Vasko benar-benar telah disihir oleh Khansa.
"Iya, Vasko benar pendidikan itu bisa dikejar lagi, yang penting masih ada niat." tambah Ayah Vasko mendukung anak lelakinya itu. Khansa hanya mengangguk pelan seraya melempar senyum hambar. Setelah acara makan malam selesai Vasko dan Khansa berpisah dengan orangtua Vasko yang lebih dulu meninggalkan tempat itu.
"Mau kemana lagi? Langsung pulang atau kita jalan-jalan dulu?" tanya Vasko padanya saat mereka menuju parkiran mobil Khansa berjalan dengan gontai tanpa ekspresi.
"Jalan-jalan? Kemana?"
__ADS_1
"Kamu mau kemana?"
"Ke tempat yang indah?!"