
51
Ibunya Khansa tak langsung menjawab, entah kenapa ia berat untuk mengijinkan Khansa untuk menikah lagi, naluri Ibu yang ingin menjaga anaknya tak rela jika anaknya terluka walau setitik.
"Bu!" Panggil Vasko membuyarkan lamunan Ibu itu.
"Saya memang tak ingin Khansa menikah lagi, saya nggak mau melihat dia sakit hati ... tapi bukan berarti saya benar-benar melarangnya dekat sama orang, dia berhak menentukan jalan hidupnya saya hanya ingin dia berhati hati ... kalau kamu bisa menerima Rafa dan Khansa apa adanya saya nggak masalah." ungkapnya dengan hati-hati
"Saya janji, akan membuat mereka bahagia Bu ... saya udah memikirkan ini dengan sangat matang." ucap Vasko tampak tulus
"Iya, Ibu terima kamu ... kamu coba tanya Khansa dulu apa dia bersedia menikah lagi." saran Ibunya pada Vasko yang segera diiyakan oleh Vasko. Khansa mendapat pesan dari seseorang yang tak lain itu adalah Vasko, ajakan makan malam dari Vasko, Khansa tampak kaget tak biasanya lelaki itu mengajak dia makan malam, yang dia tau kan mereka sedang bermain petak umpet dengan Farna kalau cewek itu tau bisa berabe. Entah kenapa setengah hari itu terasa begitu lambat bagi Vasko, ia tak sabar ingin segera bisa mengutarakan keseriusannya pada Khansa. Akhirnya malam pun tiba menyapa Vasko sudah gagah dengan kaos yang dipadu dengan blazer informal, celana Jeans ia bahkan membelah poninya sehingga memunculkan jidatnya yang mulus pokoknya dia tampak rapi dan tampan malam itu. Bagaimana dengan Khansa wanita itu bergaya santai ala dirinya ia tak suka diributkan dengan berbagai jenis foundation, bb cream atau cc cream lah yang dia tau hanya bedak dan lipstik untuk memberi warna sedikit ke wajahnya dengan memakai baju favoritnya.
"Mau kemana?" tanya Ibunya saat melihat Khansa tampil beda malam itu, biasanya dia tampil urak urakan dengan daster yang mulai keriting tapi kali ini dia tampak lebih segar
"Diajak temen makan." jawabnya masih beradu gaya dicermin
"Temenmu yang cowok itu?!"
"Kok, Ibu tau."
"Hati-hati kalo jalan cuma berdua sama cowok, orang ketiganya setan!"
"Tenang aja Bu! Ini tuh bukan pertama kali aku ngadepin cowok."
"Ya masalahnya cowok yang kali ini tampan, mana tau tiba-tiba kamu terlena malah lupa diri." Balas Ibunya tak mau berhenti membekali Khansa dengan warning yang keras.
"Insya Allah dia baik Bu, nggak akan macem-macem."
Entahlah tapi dia udah bukan anak gadis lagi tapi larangan itu terasa seperti dia masih menyandang status gadis. Tak beberapa lama terdengar bunyi klakson mobil dari depan rumah, Vasko sudah tiba disana. Khansa segera keluar dan tanpa berbasa basi mereka langsung menuju tempat yang sudah dipesan oleh Vasko, yakni makan malam mewah nan romantis bahkan Khansa sempat merasa jika dia salah kostum dimana harusnya dia memakai pakaian yang lebih wah lagi biar nggak keliatan kontras dengan background dari Restoran bintang lima yang desainnya begitu elegan.
"Kayaknya aku salah kostum deh!" Bisik Khansa selagi pelayan menyiapkan pesanan mereka.
"Nggak pa-pa, yang penting kamu tetap cantik." ucapnya sambil melempar gombalan membuat Khansa berusaha menyembunyikan rasa malunya dengan mengulurkan bibir bawahnya.
"Aku tadi ke rumah!" ucap Vasko membuka percakapan mereka sambil menikmati makan malamnya
"Ngapain?"
"Main..."
"Tumben amat!"
"Tapi, Rafa malah lagi tidur nyenyak banget jadinya ngobrol sama Ibu."
"Ngobrol apa? Ngomongin aku pasti?" tebak Khansa penuh percaya diri
"Pede, tapi bener."
"Ibu suka ngomongin kejelekan aku sama orang, apalagi sama cowok yang deket sama aku."
__ADS_1
"Tapi Ibu bicara gitu, kan mau lihat seberapa serius cowok itu sama kamu?"
"Aku ... seneng aja sih diomongin gitu."
Selesai sesi makan, pelayan membawakan segelas anggur merah sebagai makanan penutup.
"Apa ini?" tanya Khansa kurang yakin dengan terkaannya bahwa itu adalah anggur.
"Anggur!" jawab Vasko begitu enteng
"Aku nggak minum ini." Khansa menaruh kembali gelas anggur yang dipegangnya itu.
"Kamu nggak akan mabuk hanya minum sesedikit itu." ucap Vasko meyakinkannya, Khansa tampak mendelik ke arah Vasko sambil kembali meraih gelas anggur yang memang hanya terisi seperempat gelasnya, ia melihat ke dalam gelas beberapa saat sampai akhirnya mendekatkan gelas ke bibirnya dan seteguk anggur masuk ke tenggorokannya
"Gimana?" tanya Vasko dengan wajah penasaran dengan reaksi polos Khansa
"Manis!" jawabnya sambil meneguk lagi untuk kedua kalinya dan tibalah ditegukan terakhir Khansa melihat ada sesuatu yang berkilau menempel dibibirnya, ia pun menurunkan gelas dari mulutnya dan mengambil cincin putih dengan mata berkilau menyala
"Apa ini?" tanya Khansa tanpa beralih pandangan dari cincin indah itu ia bahkan memutar mutar cincin tersebut
"Buat kamu."
"Serius ini punya siapa?"
"Itu buat kamu."
"Kamu ... mau, kan nikah sama aku?" tanya Vasko tampak begitu penasaran menanti jawaban Khansa
"Nikah?" ulang Khansa, tiba tiba wajahnya tampak redup
"Kenapa?" Vasko mulai gelisah
"Aku takut ... aku nggak bisa menjadi seperti yang kamu harapkan."
Vasko meraih kedua tangan Khansa
"Aku nggak meminta kamu untuk jadi siapapun, aku menyukai kamu yang apa adanya ini, kita jalanin bareng susah senang tetap bersama, aku mohon!" Pinta Vasko berusaha meyakinkan keraguan Khansa, ia tau kalau Khansa juga mencintainya tapi luka lama itu yang membuatnya berupaya menolak. Tiba-tiba terselip keraguan dihati Khansa, dulu juga Hendy pernah berkata demikian ia memejamkan matanya sebentar berusaha merubah pola pikir yang mengatakan bahwa semua lelaki itu sama saja, menggantikannya menjadi bahwa tak semua lelaki seperti Hendy dan ia harus meyakinkan dirinya bahwa Vasko tidaklah sama seperti Hendy.
"Aku udah punya anak..."
"Kita rawat dia bersama."
"Kamu yakin bisa nerima Rafa?"
"Rafa itu adalah kamu, aku merasa kamu dan Rafa itu adalah satu jadi saat aku nerima kamu aku sudah bisa merasa Rafa juga ikut hadir di kehidupan aku, setelah kita menikah kamu fokus urus Rafa dan aku aja."
Vasko mengelus hijab Khansa dengan lembut.
"Kepalaku pusing!" ucapnya mengubah topik pembicaraan, karena memang kepalanya terasa berat dan nyut-nyutan setelah menghabiskan sepermili anggur tadi, Vasko membantu Khansa untuk berdiri.
__ADS_1
"Pusing banget?"
"Pusing iya, agak berat juga iya rasanya."
"Masih bisa jalan?"
"Masih, cuma pusing aja."
Khansa mulai merangkul lengan Vasko, bukan tanpa sebab kepalanya memang teras begitu berat dan takutnya dirinya oleng dan jatuh daripada malu-maluin mending pegangan aja kan.
"Kamu nggak pa-pa?" tanya Khansa padanya saat mereka sudah akan menaiki mobil
"Kenapa? Aku nggak pa-pa!"
"Kamu beneran nggak pusing, kan kamu bawa mobil gimana?"
"Aku minum sebotol juga baik-baik aja." ucap Vasko setengah meledek dirinya
"Issh!" Sungut Khansa masuk kedalam mobil, sepanjang perjalanan Khansa tak banyak bicara ia menyandarkan dirinya disandaran mobil sesekali memejamkan mata menikmati pusing yang seperti memijat seluruh isi kepalanya
"Pusing banget?" tanya Vasko mulai khawatir, ia agak sedikit menyesal telah memesan segelas anggur ia mengira tak akan terjadi apa-apa karena gelas Khansa itu sengaja airnya sedikit karena memang tujuannya ngasih surprise cincin berlian yang sudah ia taruh didalam gelas.
"Mm." Khansa mulai terkulai lemas di jok mobil, bahkan untuk sekedar menopang kepalanya sendiri pun dia hampir tak mampu. Vasko menepikan mobilnya didepan minimarket dan keluar sebentar untuk membeli susu, beberapa saat kemudian Vasko kembali dengan membawa sebotol susu steril untuk Khansa.
"Minum ini."
Vasko menyodorkan kaleng susu pada Khansa ia menerima kaleng itu dengan begitu lemasnya. Khansa langsung meminum habis sekaleng susu itu dalam sekali tegakan. Ia tak mau pulang dalam keadaan demikian yang ada Ibunya malah makin panjang lebar menceramahinya.
"Jangan pulang dulu deh!" Pinta Khansa ditengah jalan menuju rumahnya
"Kenapa?"
"Kalo aku pulang dengan keadaan gini, malah diceramahin sampai besok."
"Nggak pa-pa lah, mending kamu pulang kayak gini daripada kamu nggak pulang semalaman." ucap Vasko terdengar bijaksana, Khansa hanya memasrahkan diri menyiapkan telinga setebal mungkin. Mereka tiba dirumah, Vasko membantu Khansa turun dari mobil, saat mendekati pintu Khansa mendorong Vasko untuk tidak terlalu menempel padanya. Ibu membukakan pintu Khansa berusaha berjalan dengan normal masuk ke dalam rumah.
"Aku langsung pamit pulang."
Pamit Vasko pada Ibunya Khansa
"Iya, makasih banyak ... hati-hati dijalan!"
Ibunya segera menutup pintu saat mobil Vasko sudah menghilang dari pandangan matanya.
"Dari mana aja?"
"Makan aja Bu." jawabnya dengan sekuat tenaga
"Udahlah, aku ngantuk." Khansa langsung menuju kamar dan ambruk di kasur kepalanya hampir pecah karena berusaha normal didepan Ibunya, beberapa detik kemudian Khansa sudah tak mendengar apa-apa ia sudah tenggelam ke alam mimpi.
__ADS_1