
50
Farna sedang berada di salon bersama salah satu sahabat karibnya Lia, sebagai seorang artis dirinya rutin pergi ke salon untuk merawat dirinya. Ya namanya juga artis. Emang Author ke salon aja nggak pernah 😆
Farna duduk sambil memainkan handphonenya membaca berita-berita sensasional diakun gosip.
"Far Lu nggak niat bikin sensasi juga?" tanya Lia padanya yang juga nangkringin akun gosip tanah air
"Kurang kerjaan banget, sih!"
"Tapi kan jadi lebih terkenal."
"Ya terus lu mau gue ngapain?" tantang Farna acuh
"Ya lu deketin Bos lu lah."
"Lu ngasih ide yang bener aja, kalo gue ditendang gimana? Ngadi Ngadi lu!" sungut Farna
"Lagi ada cewek aneh yang deketin Vasko!"
"Siapa?" tanya Lia begitu penasaran
"Tukang sapu!" jawabnya dengan ketus
"Astaga! Pede banget tuh cewek. Gue yang gini aja mikir-mikir mau deketin orang apalagi Bos tajir kayak Vasko."
"Itu dia, dia kerjanya dikantornya Vasko. Gue pengen banget nendang tuh orang dari kantor tapi Vasko malah nggak mau."
"Ya jelas nggak mau lah, trus Bos lu gimana?"
"Kayaknya dia suka juga sih sama tuh cewek."
"Selera Bos lu rendah juga ya."
Farna hanya mendelik Lia dengan juteknya, misinya sekarang hanyalah gimana caranya merebut hati Vasko dari Khansa.
Vasko agak siang pergi ke kantornya ia lantas keluar kamar bersiap-siap akan berangkat ia melirik sebentar ke arah kamar Beno yang tak tertutup rapat dan ada suara slerekan lakban juga terdengar dari sana Vasko lantas menghentikan langkahnya dan memutuskan mengintip Beno, tumben sohibnya itu jam segitu belum berangkat ke kantor. Vasko melongokkan kepalanya dari celah pintu kamar, Bemo tampak sedang mengepak beberapa perkataannya ke dalam kardus besar.
"Lu mau ngapain?" tanya Vasko mengagetkan Beno, pria itu mengelus-elus dadanya
"Ya Allah! Lu bikin kaget aja!" seru Beno
"Sori, tapi ini apa maksudnya?" tanya Vasko lagi melihat barang-barang Beno yang sudah tersusun rapi didalam kardus besar.
__ADS_1
"Sori, gue baru ngomong sekarang ... gue mau pindah ngekos, gue udah dapat kosnya tinggal pindahan aja
"Ah! Lu yang bener aja? Enakan di rumah gue Ben."
"Gue ngerti bray, gue nggak mungkin selamanya numpang dirumah ini." ucapnya seperti meminta pengertian Vasko, Vasko tampak menghela nafas
"Ya udah gue bantuin lu pindahan, kapan?"
"Pengennya sih hari ini, lagian nggak banyak juga sekali jalan juga udah bisa habis. Paling tinggal beli alat masak."
"Ntar gue beliin ... apa aja yg lu butuhin?"
"Kalo lu maksa boleh lah, Magic Jer sama galon air aja." jawab Beno dengan senyum khasnya
"Gue pesen lewat online kalo lu dah nyampe kos baru."
"Ok! thank sebelumnya, gue nggak akan melupakan jasa-jasa lu bray." ucapnya sambil memeluk Vasko yang tampak murung itu
"Sering-sering lu main kesini." Pesan Vasko pula, ia pun mengurungkan niatnya pergi ke kantor pagi itu ia lebih memilih membantu Beno memindahkan barang ke mobilnya Beno dan benar saja barang sekamar itu muat dalam mobil sekali angkut. Vasko ikut mengantar Beno menuju kos barunya yang jaraknya tak jauh dari kantornya Beno. Baru saja tiba dirumah kosnya si Beno, Vasko merasakan kalo hapenya bergetar dan ia pun dengan cepat mengambil hape disaku tas weistbagnya.
"Lagi dimana?" Terdengar suara Farna dari seberang sana
"Lagi dirumah temen, kenapa?"
"Bentar lagi, sekarang masih jam 10." Tukas Vasko, membuat Farna mencibirkan bibirnya
"Oke, nanti aku chat lagi!" Farna mematikan sambungan telpon dengan keselnya karena mendengar balasan dingin dari Vasko
"Lu denger kan manusia ini tuh dingin dan cuek ke gue, pasti gara-gara si tukang sapu itu!" Gerutu Farna pada Lia yang mereka sedang berada diparkiran mobil.
"Penasaran kayak apa emang tuh tukang sapu?"
"Lu mau kenal, gue ajak lu ke kantor." Farna menghidupkan mesin mobil dan perlahan meninggalkan pelataran parkiran salon. Farna meluncur ke kantor bersama Lia. Setibanya disana, Khansa tengah asik bercerita bersama Ratna di meja resepsionis, Farna dan Lia memasuki kantor dengan langkah tegas mendekati Khansa dan Ratna keduanya tampak menaruh tanda tanya besar akan kehadiran Farna disana. Farna lantas membawa Lia duduk di sofa ruang tamu lobi, menyilangkan kedua kakinya.
"Khansa! Ambilin air." Perintah Farna yang segera dilaksanakan oleh Khansa, Ratna langsung diam-diam mengikuti.
"Siapa tuh?" tanya Ratna berbisik saat mereka berjalan menuju dapur
"Temennya mungkin?!"
"Ngapain mereka kesini coba? Mau pamer paling."
Sementara itu diruang tamu lobi
__ADS_1
"Yang mana yang ngincer Bos lu? Yang cewek pake baju Cleaning Servis!"
tebak Lia, Farna hanya menggumam "Mm!"
"Sekilas cantik, sih." komentar Lia membuat Farna memanyunkan bibirnya, ada yang unik dari Khansa memang itu sekilas dia cantik tapi bila ditelaah dia biasa aja mungkin itulah yang namanya tinjau gunungan dari jauh nampak cantik dari dekat biasa aja nggak jelek nggak pula cantik tapi aslinya ya tetap cantik.
Selang beberapa lama Khansa datang bersama nampan berisi dua gelas es jeruk peras. Dan menaruhnya dengan sopan ke meja dihadapan Lia dan Farna, dan Lia itu tak sejutek Farna, ia membalas senyum Khansa dengan ramah.
"Silakan Mba!" tuturnya begitu ramah, Khansa memang cenderung ramah dan baik pada orang yang baru ditemuinya tapi bukan berarti dia aslinya jahat, tapi orang tak akan menyangka bahwa dia anak introvert yang cenderung pemalu dan susah akrab dengan orang baru.
"Dia emang kayaknya anaknya baik!" komentar Lia yang menuai protes dari Farna
"Perasaan lu dari tadi muji dia, suka lu ama dia?"
"Ya, bukan gitu maksud gue anaknya keliatannya baik banget pantesan Vasko suka sama dia."
"Serah deh!" ucapnya dengan nada pasrah sambil menyandarkan diri disandaran sofa, Vasko tiba dikantor menjelang makan siang
Farna langsung memasang wajah semenyenangkan mungkin.
"Vasko!" sapanya masih duduk diruang tamu lobi bersama Lia. Vasko melambat laju langkahnya dan menghampiri Farna dan Lia.
"Kenalin ini Lia temen aku." Farna memperkenalkan Lia yang dengan ramah menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Vasko yang juga dengan ramah menyambut uluran tangan itu keduanya saling bersalaman.
"Dari mana?" tanya Vasko berbasa basi
"Nemenin Farna ke salon!"
"Ooh! Silakan lanjut aja lagi, aku mau ke ruangan dulu." pamitnya pada Farna dan Lia yang hanya mengangguk mengiringi kepergian pria dengan tinggi badan 185 itu. Vasko tiba didalam ruangannya ia lantas menghempaskan diri diatas sofa ruang tamu, ia merasa akan kesepian karena kepindahan Beno dari rumahnya, tiba-tiba ia merasa capek dan mengantuk ia pun memejamkan matanya sebentar. Beberapa detik kemudian Vasko sudah terlonjak dari duduknya seperti ada sesuatu yang terlupakan olehnya ia pun bergegas keluar dari ruangannya, Farna yang masih berada dilobi bersama Lia tak sempat memanggil pria itu, Farna hanya bertanya-tanya apa yang membuat lelaki itu tampak tergesa-gesa. Vasko menghentikan mobilnya didepan rumah mungil Khansa, Ibunya Khansa yang masih ada dirumah pun mengintip keluar kaca saat mendengar adanya suara mobil berhenti didepan rumah. Wanita yang kira-kira berusia 50 an itu tampak heran apa gerangan yang membuat Vasko datang ke rumah bukannya Khansa sedang ada dikantor, jika perlunya dengan Khansa kan tinggal ngomong aja. Ditengah benaknya yang bertanya tanya ia dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar, si Ibu pun dengan cepat membukakan pintu, senyum ramah Vasko langsung menghilangkan segala perkiraan buruk Ibunya Khansa tentang kedatangannya
"Assalamualaikum Bu?" sapanya langsung mencium punggung tangan Ibunya Khansa.
"Waalaikumsalam! Masuk masuk." Ibunya langsung mempersilakan Vasko untuk masuk, Rafa tengah tertidur lelap diruang tamu tepat didepan tivi.
"Ibu ambilkan minum dulu!" Perempuan itupun pergi ke dapur sebentar dan selang beberapa saat kembali dengan membawa secawan teh hangat.
"Maaf kalau mengganggu waktu istirahat Ibu." ucap Vasko karena tampaknya wanita itu tiduran menemani sang cucu.
"Nggak apa, saya cuma lagi tiduran sambil nonton TV."
Vasko tak langsung mengatakan niatnya datang kesana, ia tampak grogi tak tau harus memulainya dari mana. Ia bahkan mengusap-usapkan kedua tangannya yang nggak kotor itu.
"Anu ... maksud kedatangan saya kesini..." ucapnya terpotong, Ibunya Khansa tampak mengangkat alis menunggu Vasko mengutarakan maksudnya
__ADS_1
"Ibu ... nggak keberatan kalau saya melamar Khansa?" ucapnya dengan segala keberanian yang ada, ia sudah siap dengan segala penolakan seandainya Ibunya Khansa tak merestui mereka.