
"Aku lebih tau tentang dia!" jawab Hendy membuat Delima terdiam, hubungan mereka memang berakhir tapi Rafa tetap menjadi tali penghubung bagi mereka berdua, dan Hendy tau betul Khansa, dia bukanlah tipe cewek egois yang hanya mementingkan diri sendiri, itulah pula kenapa Hendy mempercayakan Rafa diasuh saja oleh Khansa sekalipun Hendy tau mereka serba kekurangan dia percaya pada potensi Khansa dalam mendidik Rafa.
"Aku mau ajak Rafa keluar sebentar." Pamit Hendy pada Delima yang hanya diam tak bergeming, ucapan Hendy barusan baru saja merusak moodnya, dan Hendy malah pergi begitu saja tanpa peduli.
Vasko tampak uring-uringan di kantor pun dia jadi jarang ngomong, Beno yang sedari duli memperhatikan perubahan pada sikap sahabatnya itu mencoba mendekati Vasko di jam istirahat kantor, ia berniat menemui Vasko diruangnya tapi ruangan itu sudah kosong, ia tau kemana biasanya Vasko akan pergi menyendiri di rooftop. Ia mencoba mengecek keberadaan Vasko disana, dan benar saja tebakannya Vasko tengah duduk dengan memangku cup kopi.
"Gue cari di ruangan nggak ada ternyata disini!" Gumam Beno seraya duduk disamping Vasko
"Ngapain lu kesini?" tanya Vasko sepert menolak kehadiran Beno
"Kalo ada apa-apa cerita aja sama gue, nggak usah lu pendam-pendam."
"Sok tau lu!"
"Cerita cinta itu memang kadang rumit, tapi itulah ujian jika lu sabar lu bisa mendapatkan dia."
"Gue akhirnya sadar ... kenapa dia selalu mengatakan belum siap buat nerima gue, bukan karena dia belum bisa ngelupain mantannya, tapi karena menghindari kesalahpahaman ini ... aku yang ngerasa dia baik tapi tidak dengan orang tua gue."
"Jalanin aja dulu, kita nggak ngerti jodoh ... Khansa begitu kan karena dia udah tau sakitnya berharap pada seseorang, itulah kenapa dia nggak mudah terpancing. Keputusan balik lagi ke elu, mau diperjuangin atau mau menyerah!" Nasihat Beno barusan itu cukup membuat Vasko tetap memantapkan langkahnya mendekati Khansa.
__ADS_1
"Tumben lu bener Ben?" Ledek Vasko yang sudah kembali ke mode normal
"Ya bener lah, kalo gue nyuruh lu loncat dari sini itu baru salah." Balas Beno
"Karepmu lah! Gue laper mau cari makan."
Vasko segera bangkit untuk turun
"Ikut atuh!" Beno berlari kecil merangkul Vasko yang lebih tinggi dari tubuhnya.
Hari berlalu, Vasko dan Khansa belum pernah bertemu lagi pasca pertemuan di rumah Vasko beberapa hari yang lalu, Khansa pun bertanya tanya kenapa Vasko tak menghubunginya, tapi tak berani juga untuk menghubungi lebih dulu, lebih tepatnya gengsi. Khansa menjalani hari harinya seperti biasa pagi bekerja bersama teman segrupnya yang lebih didominasi kan Ibu-Ibu paruh baya. Tengah sibuk-sibuknya memangkas tanaman yang sudah memanjang, Khansa dikejutkan dengan kemunculan Lidya bersama Ibunya Vasko datang mendekatinya, pemandangan yang sangat kentara bagaimana tidak Lidya dan Ibunya Vasko berdandan rapi dan elegan sementara dirinya tampak menyedihkan. Khansa segera menghentikkan aktivitasnya memangkas rumput dan menghadap kedua wanita itu dengan rasa penasaran. Khansa melepas sarung tangan yang membungkus tangannya dengan niat ingin bersalaman, tapi Ibunya Vasko memilih merapatkan kedua tangannya didada.
"Apa nggak ada tempat yang lebih teduh?" tanya Ibunya Vasko, Lidya langsung celingak-celinguk mencari Kedai atau Kafe di dekat sana.
"Gimana kalo disana Tan?" Lidya menunjuk ke salah satu Kedai kopi kecil sederhana didekat sana
"Ya sudah! boleh juga ... boleh minta waktumu sebentar?" tanya wanita paruh baya itu bernada tegas namun tetap terkesan ramah
"Bo-boleh!" jawab Khansa terbata karena ini kali pertama dia berbincang secara dekat dengan wanita yang begitu dihormatinya, Khansa segera mengekor di belakang saat keduanya mengajaknya untuk singgah ke Kedai tadi. Bagaimanapun fashion kedua wanita tadi sangat berbanding dengan kondisi Kedai yang ala kadarnya itu, mereka hanya ingin menciptakan suasana ngobrol santai yang lebih nyaman daripada sambil berdiri di bawah terik matahari pagi.
__ADS_1
"Sejak kapan kalian saling mengenal?" tanya Ibu Vasko tanpa bertele-tele setelah mereka semua memesan minuman.
"...Kurang lebih dua bulan..."
"Ketemu dimana?" Lidya ikut penasaran
"Di tempat peramal di xxx."
Ibu Vasko tertawa mencibir tampak menyepelekan
"Ngapain lu kesana?" tanya Lidya lagi
"Gue cuma nemenin temen kesitu, Vasko juga kebetulan kesana sama Beno."
"Kamu suka sama Vasko?" tanya Ibunya lagi pada intinya, Khansa tak langsung menjawab, ia melirik Lidya sebentar.
"Kami nggak pacaran!" jawab Khansa tertunduk
"Saya bertanya perasaan kamu, bukan hubungan kalian?" Ibu Vasko lebih tegas
__ADS_1
"Iya, saya suka sama Vasko. Tapi kami benar-benar nggak pacaran." Akhirnya Khansa mengakuinya karena merasa ditekan dan berusaha meyakinkan kalo mereka tidak memiliki hubungan spesial.