Cinta Terakhir

Cinta Terakhir
Episode 19


__ADS_3

Pukul 6.30 pagi Vasko masih tertidur di kamarnya, tanpa dia sadari seorang perempuan masuk ke kamar mengendap endap berjalan mendekati sisi ranjang. Cewek itu lalu mencubit pipi Vasko sampai ia terbangun, ia cukup kaget saat mengetahui siapa yang membangunkannya itu


"Lidya! ... kok lu disini?!" Seru Vasko kaget Lidya tertawa kecil melihat reaksi kaget Vasko


"Mainlah, cepat bangun." Lidya duduk disisi ranjang, Vasko kembali menenggelamkan dirinya dalam selimut tebalnya


"Vasko!" Lidya menarik selimut Vasko sampai mengekspos paha putih Vasko yang hanya menggunakan celana boxer itu, Vasko cepat-cepat menutup kedua kakinya dengan selimut seraya duduk mengusap matanya.


"Ngapain, sih ke sini pagi-pagi?" gerutu Vasko agak kesal udah datang pagi main nyelonong aja masuk kamar


"Lu engga liat ni dandanan gue." Lidya berdiri sambil menunjuk bajunya celana training dan jaket beserta sepatu olahraga


"Mau ngajak lari pagi!" ujarnya lagi


"Ini, kan bukan hari libur."


"Ya, emang kalo mau lari pagi harus nunggu hari libur? Buruan Vas!" Lidya menarik lengan Vasko sampai akhirnya Vasko bangkit dari tempat tidur.


"Sana! Gue mau ganti baju!" Usir Vasko yang rada kesel terpaksa bangun menuruti kemauan Lidya. Lidya bertepuk tangan senang seraya pergi keluar kamar


Mereka berdua sudah tiba di track jogging taman xxx, Vasko dengan lemesnya keluar dari mobil ia melakukan perenggangan sebentar agar lebih segar dan nggak kaku, tampak beberapa kawanan petugas kebersihan sedang membersihkan sudut-sudut taman.


"Ayo!" ajak Lidya yang segera berlari kecil di lintasan diikuti Vasko, tiga kali putaran Vasko sudah kelelahan ia terduduk dipinggir track dengan nafas tersengal


"Tiga putaran aja udah capek." Ledek Lidya

__ADS_1


"Lu kira gue atlet lari!" gerutu Vasko yang kesalnya belum sepenuhnya hilang, Lidya hanya tersenyum seraya ikut duduk disamping Vasko. Pandangan Vasko terarah pada sekelompok pembersih jalan ia tampak mengenali siluet salah satu dari petugas yang ada disana


"Khansa!" serunmnya dengan agak ragu, Khansa menoleh dengan rona kaget


"Loh! Ngapain disini?" tanya Khansa


"Kebetulan lagi jogging sama ... Lidya " ujarnya agak pelan, Khansa melihat sebentar ke arah Lidya yang juga kebetulan melihat kearahnya dengan tatapan jengkel Lidya dengan cepat mengalihkan pandangannya dari tatapan Khansa.


"Sori! Tadi dia maksa banget ngajak, tapi engga nyangka malah ketemu kamu disini."


"Ya udah temenin dulu sana! Aku juga belum selesai kerjanya."


"Kamu engga pa-pa?" Vasko bertanya lagi seakan tau kalo perintah itu seperti nada usiran


"Kenapa? Aku kan bukan siapa-siapa, untuk apa aku melarang kamu dekat dengan orang lain." ujar Khansa datar sembari memberi senyum kecil ke Vasko tanda bahwa dia baik baik saja, keduanya saling tatap beberapa saat, Khansa lalu pergi meninggalkan Vasko duluan, bagaimanapun dia sedang bekerja nggak enak dilihat yang lain.


"Ayo! Balik." Ajak Lidya yang langsung diikuti Vasko. Lidya menoleh sebentar ke arah Vasko yang sedang fokus menyetir


"Lu suka sama Khansa?" tanya Lidya akhirnya, Vasko masih diam terlihat raut wajahnya yang sedang serius menyetir.


"Laku kenapa? Nggak boleh?" Tanya Vasko dengan sinis


"Ya ngga ... gue pikir pertemuan kita kemarin adalah takdir, setelah sekian lama kita engga pernah ketemu..." ungkap Lidya dengan pedenya Vasko hanya diam memilih fokus ke jalan.


"Apa engga ada rasa sedikit pun untuk gue Vas?"

__ADS_1


Vasko menginjak pedal rem dengan mendadak, Lidya kaget ia baru saja akan memarahi Vasko karena ngerem mendadak saat ia melihat ke depan lampu lalu lintas sedang merah. Vasko masih diam sampai lampu berubah menjadi hijau


"Gue engga menganggap lu lebih dari teman, kita hanya teman!" Vasko menegaskan kembali status mereka berdua dengan ekspresi begitu tegas. Lidya akhirnya diam dan memandang keluar jendela.


Khansa masih duduk di taman teman teman petugas yang lain p0sudah pulang, ia memutuskan untuk duduk sebentar merenungi ucapanya tadi ke Vasko, ia seharusnya tak mengucapkan kata kata itu tadi, memang tidak kasar tapi cukup menyakitkan bagi Vasko. Khansa tertunduk lesu menyesali ucapanya tadi, seseorang datang mendekatinya, Khansa bangkit saat melihat ada langkah kaki yang mendekatinya.


"Kenapa belum pulang? Aku cariin ke rumah malah masih disini." ujar Vasko sambil membawa dua botol minuma dingin, Vasko duduk di sebelah Khansa memberikan botol minuman padanya. Taman sudah sepi tapi ia malah sendirian disana


"Udah sunyi begini masih belum pulang ntar ada yang nyulik." Canda Vasko seolah tak mengingat sesuatu hal terjadi sebelumnya. Khansa malah terlihat canggung dan malu-malu


"Lagi engga bawa motor?" tanya Vasko lagi


"Bawa, kok!" jawabnya singkat, Khansa masih memutuskan untuk diam saja. Bukan karena marah tapi takut salah ngomong lagi.


"Kok diem? Kamu lagi marah?"


"Marah? Sama siapa?" Khansa nanya balik


"Jangan pernah lagi bilang kalo kamu bukan siapa-siapanya aku, hubungan kita bukan hanya sedekar teman!" urai Vasko membuat Khansa tertunduk diam


"Maksudku bukan kayak gitu ... aku cuma nggak mau kamu jadi terkekang hanya karena aku, kamu bebas kok dekat dengan siapa aja."


"Aku nggak berniat mendekati siapa siapa!"


"Ya itu, kan menurutmu. Tapi pihak yang lain ... intinya kamu nggak perlu merasa nggak enakan sama aku, bergaul aja sesukamu."

__ADS_1


"Iya iya aku ngerti Bos!"


__ADS_2