
Khansa masih terduduk di depan rumah, ia membuka galeri handphonenya melihat lihat foto Rafa disana ia sangat merindukan anak itu beberapa minggu lagi baru bertemu anak semata wayangnya itu. Khansa menerima pesan baru dari grup tempat kerjanya bahwa besok jadwalnya di taman xxx pukul 6 pagi, seketika pikirannya melayang andai saja ia di lahirkan dari keluarga yang kaya mungkin ia tak perlu harus bekerja keras hanya untuk menafkahi Rafa seorang, badannya capek tapi yang berusaha kuat adalah hatinya, diluar kerja sambil bawa dan jaga anak sampai rumah pun rumah masih dalam keadaan berantakan, Khansa bukanlah tipe orang yang membiarkan rumah berantakan meskipun dalam keadaan capek ia tetap akan membersihkannya. Klakson mobil Vasko baru saja membuyarkan lamunan Khansa, Vasko keluar dari mobil dan duduk disamping Khansa.
"Katanya mau nelpon? Malah yang datang orangnya." gerutu Khansa
"Engga suka aku datang?"
Khansa memanyunkan bibir
"Mau jalan-jalan engga?" Ajak Vasko, Khansa menggelengkan kepala
"Kalian berdua keliatannya cocok."
Vasko tak langsung merespon apa yang di katakan Khansa tadi, ia tahu kalau Khansa masih terbawa suasana canggung yang tadi.
"Trus, kamu mau aku sama dia?"
Khansa menghela nafas panjang, dia sebetulnya males berurusan dengan Masalah percintaan begini, udah muak rasanya, batin Khansa
"Aku udah muak dengan urusan percintaan." Vasko tak mengerti arah pembicaraan Khansa
"Maksudnya?"
Khansa seperti menilik kembali luka lamanya, saat Hendy hadir menjadi sosok yang baik tiba tiba berubah menjadi orang lain. Hanya karena masalah sepele yang bisa saja diperbaiki dengan diskusi.
"Kamu engga pa-pa?" Vasko tak tau menahu apa yang membuat perempuan itu tiba-tiba terdiam mematung untuk waktu yang lama.
__ADS_1
"Aku minta maaf kalo aku salah ngomong!" Akhirnya Khansa tersadar kalo ia sekarang sedang berdua dengan Vasko, ia seperti terbawa emosi lama saat berhadapan dengan Hendy
"Maaf, ya! Aku terbawa luka lama." ungkap Khansa
"Ada apa? Cerita aja mungkin bisa bikin kamu lebih nyaman."
"Aku cuma ke ingat situasi ini sama seperti waktu lalu."
Vasko meraih tangan mungil Khansa, menggenggamnya erat seperti sedang menyalurkan semangat baru ke tubuh Khansa.
"Aku minta maaf! Aku engga seharusnya ngomong kayak tadi."
"Aku juga ngga seharusnya mancing kamu untuk ngomong begitu."
Sesal Khansa
"Makasih Vas, kamu juga jangan terlalu memaksa diri untuk tetap nungguin aku, jika kamu bosan, kamu boleh mencari yang lain."
"Jangan ngomong gitu lah! Aku orangnya setia nunggu tau."
"Masa?" respon Khansa lebih santai tidak sekaku tadi
"Tuh, kan! Seriuslah, sebagai laki laki sejati." Vasko dengan pedenya menepuk-neput dadanya yang bidang.
"Jangan banyak gaya, deh!"
__ADS_1
"Aku berharap, kamu cepet-cepet bisa nerima aku, kalo kelamaan takutnya kamu kecantol orang lain."
"Kecantol siapa emang? Sejauh ini cuma kamu yang kecantol cewek burik kayak aku."
"Siapa yang bilang kamu burik?"
"Aku lah, kan barusan aku yang ngomong ... Hendy juga udah bahagia dengan hidup barunya, jadi nggak akan mungkin dia tiba-tiba ngajak balikkan." terang Khansa disela candaan mereka
"Jangan sampai, deh!" tambah Vasko
" Aku malah takutnya kamu yang bakalan kecantol cewek lain." Khansa mengubah topik bahasan, membuat Vasko terperangah
"Sama siapa?"
"Lidya! Kayaknya dia naksir sama kamu."
"Aku sih nggak!"
Tak terasa perbincangan mereka menyita lebih banyak waktu hingga keduanya tak sadar malam sudah semakin larut Vasko pun berpamit pulang, Vasko menurunkan kaca mobilnya.
"Sini bentar, deh!" Panggil Vasko dari dalam mobil, Khansa menurut saja mendekat ke sisi mobil
"Masuk bentar!" Khansa heran dan menurut saja masuk setengah badannya ke mobil
"Awas lu macem-macem!" Gertak Khansa saat Vasko mulai bertingkah nakal
__ADS_1
ia merangkul leher Khansa dan mendaratkan ciuman dipipinya. Khansa dengan cepat menepisnya.
"Tuh, kan! Rese, sana balik." seru Khansa dengan kesal seraya menutup pintu mobil, Vasko hanya tertawa melihat reaksi wanita itu.