Cinta Terakhir

Cinta Terakhir
Episode 42


__ADS_3

"Besok temenin aku belanja! Boleh?" tanya Farna mengarah ke Vasko, Vasko hanya menjawab dengan isyarat anggukan kepala.


Keesokan harinya, Vasko tiba di apartemen Farna, ia lantas mengetuk pintu, selang beberapa lama Farna datang membukakan pintu dengan badan diselimuti handuk baju. Vasko dengan cepat memalingkan pandangannya


"Aku baru selesai mandi, ayo masuk dulu!" Ajak Farna berjalan mendahului Vasko yang mengekor di belakangnya. Farna langsung menuju kamarnya sementara Vasko menunggu dirinya diruang tamu.


Selang beberapa menit Farna sudah siap dengan atasan croptop hitam dengan aksen kancing keemasan dibagian dada dipadu dengan celana cutbray semata kaki membuat tampilannya semakin terlihat imut. Ia meraih tas mungil yang berada di meja riasnya dan menghampiri Vasko, ia tak ingin membuat Vasko berlarut-larut menunggunya.


"Aku udah siap!" sapanya menyadarkan lamunan Vasko


"Ayo!"


Keduanya pun keluar dari sana menuju parkiran.


"Mau beli apa, sih?" tanya Vasko saat keduanya tengah melaju dijalan


"Beli jam!" jawabnya singkat


Tanpa bertanya lagi Vasko sudah tau harus mengarahkan mobilnya kemana, ia menepikan mobilnya didepan toko jam bermerek. Farna turun dengan mengenakan kacamata hitam agar menyamarkan identitasnya, keduanya masuk menuju ke dalam toko. Farna tengah asik memilih jam Vasko pun sibuk melihat-lihat, sampai pandangannya berhenti pada jam mewah berwarna pink dengan beberapa aksen permata dibagian tali jam dan didalam lingkaran jam.


"Mba, yang ini berapa?" tanya Vasko pada pelayan toko tersebut.


"Ini jam xxx, harganya xxx." Pelayan itu mengeluarkan jam dari etelase kaca disana untuk di cek lebih detail lagi oleh calon pembeli


"Aku mau yang ini ya Mba!" Pinta Vasko setelah sekian menit mengecek kondisi jam tangan tersebut


"Oh! Iya tunggu sebentar ya Mas!"


Lantas si pelayan pun membawa jam tersebut untuk dikemas ke dalam kotak dan menuliskan nota harga untuk Vasko, Farna yang baru saja selesai memilih jam yang sesuai keinginannya ia segera mendekati Vasko.


"Kamu beli juga?"


"Mm." jawabnya menggumam


Keduanya keluar dari toko dengan menenteng tas belanja masing-masing.


Khansa membawa sapu ke ruang studio, Raiden tampak sedang duduk atas disofa sambil memainkan hapenya.


"Permisi!" ucap Khansa saat masuk kesana, Raiden hanya menjawab dengan singkat "Ya!" Tanpa beralih pandang dari hapenya.


Khansa menyapu setiap sudut ruangan itu hingga sampailah dia ke sofa yang tengah diduduki oleh Raiden, sesaat Raiden menatap Khansa yang tengah sibuk membersihkan bawah meja yang ada didepan sofa, Khansa yang menyadari dirinya ditatap sedari tadi pun menegur Raiden.


"Ada apa?" tanya Khansa sangat penasaran, apakah ada sesuatu diwajahnya atau jilbabnya yang menceng

__ADS_1


"Kamu ... uaah!" Serunya kaget saat mendeteksi wajah berjilbab itu, ia sampai memundurkan wajahnya beberapa inci, Khansa mengelus dadanya karena kaget.


"Lu pacarnya Bos, kan?"


"Bos?" ulang Khansa tak mengerti


"Pacar Bos jadi tukang sapu!" ucapnya setengah memekik tak percaya


"Bos siapa?" Khansa masih bego tak mengerti


"Jangan sok polos deh, siapa lagi Bos kita kalo bukan Vasko doang!"


"Maksudnya gue pacaran sama Vasko?"


"Oalah! Lah itu to, kan gue ngomong cuma sama lu."


"Gue bukan pacarnya Vasko!"


"Udah putus?"


"Emang nggak pernah jadian!"


Raiden mengelus-elus kepalanya ada yang salah dengan memori dikepalanya,


"Bukan, Vasko sendiri yang ngomong!"


Khansa terdiam berusaha mencerna ucapan Raiden


"Oo! Lu dikerjain kali sama Vasko,"


Tunjuk Khansa dengan senyum ngeledek, Raiden masih memasang tampang penasaran campur aduk.


Khansa kembali menyelesaikan pekerjaan yang hampir rampung itu, Raiden akhirnya hanya geleng geleng kepala ia tak mau ambil pusing, mungkin saja Vasko benar-benar hanya mempermainkan dirinya kala itu. Khansa keluar dari ruang editor dengan membawa peralatan sapu dan Pengharum lantai, ia berjalan dengan genggaman penuh dikedua tangannya. Vasko tiba di studio bersama Farna yang berseri-seri menyapa para staff yang dilewatinya, Khansa segera menepi saat tau ada orang yang akan melewati lorong studio namun ia tak tau jika itu adalah Farna dan Vasko hingga dia berbalik ujung dari sapu yang dibawanya hampir saja menyentuh wajah Farna, untungnya Farna dengan cepat menepis dan reflek menutup wajahnya.


"Hei!" Jerit Farna kaget, begitu pula Khansa mulut dan matanya terbelalak secara bersamaan


"Astaga! Maaf Mba maaf!" Sesal Khansa memucat, mana muka artis lagi yang hampir digencet sapu.


"Liat liat dong Mba!" ujarnya dengan lantang bahkan membuat beberapa staff memandang ke arah mereka, Farna melanjutkan berjalan dengan ketus Khansa hanya tertunduk malu dan takut, ia bahkan begitu jelas melihat ekspresi marah Farna yang cantik itu, samar-samar ia merasakan usapan lembut dipundaknya. Ia menoleh ke arah pria yang mengusapnya itu tengah berjalan tegap mengikuti Farna berjalan.


"Jangan kasar-kasar gitu! Dia kan nggak sengaja!" pinta Vasko mengikutinya


"Nggak sengaja gimana?!" Sentaknya acuh memasuki ruangannya dan langkah Vasko terhenti didepan pintu, ia melirik Khansa yang berjalan membawa sapu dan alat pel itu.

__ADS_1


"Aku benar-benar minta maaf!" ucap Khansa saat melewati Vasko yang masih berdiri didepan ruangan Farna.


"Nggak pa-pa, nggak usah dipikirin!"


Khansa kembali berjalan menuju dapur dengan perasaan yang masih bersalah. Sepanjang hari Khansa masih terbayang wajah kesal Farna saat memarahinya tadi, ia terduduk memangku dagunya, kerja itu memang nggak mudah pikirnya membatin. Vasko memasuki dapur tanpa mengetuk membuat Khansa terperanjat kaget memejamkan matanya.


"Kaget! Ya, sori."


Vasko lantas duduk dikursi kosong sebelah Khansa


"Mau apa?" tanya Khansa datar


"... air putih?" ucapnya spontan, Khansa dengan berat bangkit dari duduknya mengambilkan air putih dan memberikannya pada Vasko yang hanya cengar-cengir menatapnya yang lagi galau itu.


"Kamu kenapa?" tanya Khansa tidak santai


"Nggak apa, udah duduk aja lagi!" pintanya sambil meminum habis segelas air putih yang dibawa Khansa itu bagai orang kehausan, Khansa hanya heran apa pria ini emang lagi kehausan atau cuma mau menjaga perasaannya yang lagi galau perihal ujung sapu.


"Kamu masih mikirin yang tadi?"


"Kepikiran!" jawabnya kembali memangku dagu


"Mikirin aku aja!" Vasko ikut memangku tangan dihadapan Khansa membuat wanita itu kembali menegakkan wajahnya, didalam hati ia tersipu malu melihat penampakan wajah tampan sedekat itu.


"Mukamu merah?" tunjuk Vasko


Khansa segera memijat-mijat kedua pipinya.


"Ngapain kesini?" tanyanya tampak kembali ke mode normal, Vasko mengeluarkan kotak jam yang dibelinya tadi dan menyodorkannya kepada Khansa yang menerimanya dengan tampak kebingungan


"Apa ini?" tanya Khansa sambil perlahan membuka kotak jam tersebut, ia tak bisa menahan kekagumannya pada jam berwarna pink muda itu.


"Ini buat siapa?"


tanya Khansa lagi


"Buat kamu, masa aku pakai jam cewek! ... suka apa nggak?"


"Mm suka!" jawabnya mengangguk seperti anak kecil diberi mobil mobilan.


"Dipake!"


Vasko mengambil jam tadi dari tangan Khansa dan memakaikannya, perasaan ini seperti rasanya dunia hanya milikku batin Khansa.

__ADS_1


__ADS_2