Cinta Terakhir

Cinta Terakhir
Episode 43


__ADS_3

43


Khansa menatap Vasko yang tengah memasangkan jam ditangannya, direlung hatinya yang paling dalam ia menyimpan rasa untuk pria itu, tapi ia tak yakin dengan perasaan yang tengah dirasakannya, kehancuran hubungan dimasa lalu cukup menyisakan rasa takut baginya untuk membangun lagi suatu hubungan, apalagi Vasko pria berstrata tinggi Khansa merasa mustahil untuk mereka bisa bersatu.


"Cocok!" puji Vasko yang sudah selesai melingkarkan jam ke tangan mungilnya, Khansa memutar-mutarkan pergelangan tangannya hingga terciptalah cahaya kilauan dari barisan batu permata yang menempel di jam itu. Tanpa ia sadari bibirnya membentuk garis lengkungan tipis penuh haru. Ia juga tak menyadari bahwa ada sepasang mata sedang menikmati ekspresinya tadi.


"Kayaknya aku nggak salah pilih jam." ucap Vasko dengan bangga menyadarkan Khansa


"Iya, aku suka banget! Makasih ya ... ini mahal nggak sih!" Seketika suasana romantis berubah total


"Murah, kok!"


"Tapi keliatannya mahal!" ucapnya lagi sambil kembali memutar-mutar tangan yang dilingkari jam itu sambil mengecek secara detail tali jam


"Lebih mahal ginjalmu!" canda Vasko disertai tawa renyahnya


"Awas aja kalo mahal banget!" ucapnya tak membuat lawan gentar.


Vasko meraih tangan lentik Khansa menggenggamnya, ia begitu lama tak memegang tangan pekerja keras itu. Vasko kembali menciptakan lagi suasana romantis yang tadi terpotong oleh adegan lawakan polos Khansa, meskipun mereka sedang didapur, tapi kali inipun keromantisan itu lenyap seketika Raiden masuk kesana. Khansa yang kaget dengan cepat menarik tangannya dan pura pura membuang muka.


Raiden tak langsung berkomentar ia melirik tajam ke arah dua sejoli itu sambil mengambil botol minuman kemasan dari lemari pendingin


"Pacaran ya!?" tebak Raiden penuh percaya diri karena berhasil memergoki Khansa menarik tangannya


"Kenapa?" Semprot Vasko balik


Raiden langsung melayangkan senyum nakal ke arah Khansa yang juga sedang menatapnya.


"Nggak ngaku lu!"


ucapnya menyudutkan Khansa yang merona merah


"Ngaku apa?" jawabnya pura-pura tak tau


Raiden keluar dengan masih menyeringai nakal ke Khansa yang menatapnya dengan aneh.


"Ngaku apa sih?" tanya Vasko mengerut dahi setelah Raiden benar benar menjauh dari lorong dapur.


"Kamu pernah cerita apa sama dia?" Khansa balik nanya, Vasko menyatukan alis menggali ingatan lama


"Cerita apa?" Vasko nampak kebingungan


"Dia nuduh aku pacaran sama kamu."


Vasko berpikir sebentar


"Ooh! Iya dulu yang habis acara kencan buta! Kamu masih ingatkan?"

__ADS_1


Khansa mengangguk ingat


"Kamu tau kan cowok? nggak banyak yang niatnya baik kayak aku." ucapnya lagi


Khansa hanya terdiam sampai situ dia sudah mengerti maksud Vasko, apa boleh buat dia sudah terlanjur memberikan nomernya ke Raiden dan lagi kan mereka baru ketemu mau nolakpun nggak enak.


Sebulan berlalu Khansa kerja disana tentu saja gaji yang ia dapat lebih memuaskan dari sewaktu bekerja jadi petugas kebersihan kota, dan kali ini Khansa berniat untuk menjenguk Rafa ke rumah orangtuanya, karena dia sekarang kerjanya di kantor jadi Rafa terpaksa harus ikut Neneknya karena nggak mungkin rasanya dia membawa Rafa kerja disana, biarlah dia mengalah berpisah demi masa depan anaknya itu. Hendy juga masih mengirim uang namun tak menentu kadang sebulan ngirim bulan depan nggak dan itupun nominalnya tidaklah banyak, Khansa enggan mengeluh toh dia dari awal tidak memaksa atau menuntut Hendy harus mengirim uang setiap bulannya, dia akan berusaha sebisa dirinya untuk mencukupi kebutuhan Rafa.


Kali ini terdengar desas desus di kantor kalo Vasko akan pergi liburan ke Korea membawa Farna dan beberapa staff kantor terpilih seperti Raiden, kameramen dan asisten Farna. Rencana itu juga sampai ke telinga Ratna ia berniat ikut tapi engga mungkin dia bisa terpilih ikut kan posisinya nggak penting-penting amat batinnya.


"Khan, lu udah denger kabar Vasko mau jalan-jalan ke Korea bareng Farna!?" tanya Ratna memulai gosip didapur kantor


"Denger, lu ikut?" tanya Khansa yang tengah mencuci gelas kaca di wastafel


"Gue kan cuma tukang kontrol sosmed, posisi gue nggak penting-penting amat."


"Ya penting lah!"


"Nyatanya nggak ada yang ngajak, berarti nggak penting dong!"


"Dicariin kemana, malah disini!" Gerutu Raiden memasuki dapur.


"Gue?" tanya Ratna


"Iyalah ... lu mau ikut apa nggak?"


"Ya iyalah kemana lagi!" Sahut Raiden cuek ikut nimbrung duduk disebelah Ratna.


"Serius nih?" tanya Ratna kurang yakin apa yang didengarnya


"Lu nggak percaya sama gue! Nih lu liat chat si Bos." Raiden menyalakan handphonenya dan menampilkan isi chatnya bersama Vasko tadi malam. Ratna langsung terlonjak dari duduknya menari nari kegirangan


"Yeay Yeay Korea Korea!" ucapnya berselebrasi seperti pemain bola


"Udah ya, gue cuma ngasih tau doang!" Raiden kembali keluar dari sana, Ratna langsung memeluk erat Khansa sampai cewek itu tak bisa bernafas.


"Gue goes to Korea!" teriaknya sambil menari nari


"Jangan-jangan gue bakal ketemu xxx di sana trus foto bareng trus..."


"Menghayal aja terus tau tau besok nggak jadi berangkat habis deh mimpi lu jatuh berkeping-keping." Potong Khansa membuat Ratna manyun


"Jangan gitu dong!"


"Emang biasanya gitu, jika kamu menginginkan sesuatu jangan berangan-angan duluan. Ujung-ujungnya kecewa, kecewanya sama siapa? sama Tuhan." Dakwah Khansa bak seorang ustadzah


"Iya iya ngerti Bu!" ucap Ratna menghentikan ceramah Khansa.

__ADS_1


"Lu mau apa?"


"Tanda tangan BTS semua anggota!" Pinta Khansa menguji


"Ngaco!" Ratna keluar dari sana meninggalkan Khansa seorang diri. Khansa keluar membawa kemoceng berniat ngelus-ngelus debu tipis dilobi kantor. Vasko berjalan memasuki kantor dengan langkah besar, ia menghentikkan langkahnya sebentar menghampiri Khansa yang sedang ngelap tanaman.


"Kamu mau ikut nggak?"


Khansa yang menyadari ada yang mengajaknya berbicara lantas menghentikan kerjanya


"Ikut? Kemana?"


"Korea!"


"Korea!" Gumam Khansa, ia langsung berpikir cepat bak profesor menghitung biaya tiket dan anggaran selama disana


"Nggak lah, aku bulan ini banyak pengeluaran!"


"Kenapa? Jalan-jalan, kamu belum pernah ke luar negeri kan?"


Lagi-lagi ucapan Vasko itu seperti sedang mempengaruhi dirinya, ia sangat ingin pergi ke luar negeri tapi dia pikir itu hanya sebatas mimpi yang nggak akan tercapai mengingat kondisi ekonominya yang pas-pasan. Khansa tampak ragu,


"Mau, sih! Tapi..." ucapnya tertahan


"Kenapa? Masalah tiket, aku yang bayarin."


Khansa berpikir ulang lagi dan akhirnya memutuskan


"Nggak, deh! Aku nggak punya duit, kan nggak mungkin semuanya kamu yang tanggung." ucap Khansa terpaksa jujur memang kendala duitlah yang membuatnya ogah ikut.


"Kita nggak nginep di hotel tapi di rumah."


"Rumah siapa?"


"Kamu lupa Orangtuaku dimana?" tanya Vasko membuat Khansa terlihat kikuk.


"Oh iya ya!"


"Ikut, ya. Aku punya kejutan buat kamu disana!"


"Apa?"


"Ada deh!" ucapnya menyeringai nakal sambil berjalan menjauhi Khansa


"Vasko!" seru Khansa berbisik


Vasko terus berjalan seraya melambaikan tangan ke Khansa tanda jika dia tak mau memberi clue apapun, biar cewek itu penasaran.

__ADS_1


__ADS_2