
Khansa beristirahat dibawah pohon rindang ditepian taman bersama Rafa yang tengah makan roti, dia sangat bersyukur mendapatkan pekerjaan sekarang karena selain bekerja setidaknya dia bisa menikmati setiap sudut taman di kota itu, melihat tanaman yang bersih dan rapi seperti ada kepuasan sendiri baginya, duduk-duduk sambil menikmati pemandangan motor berlalu lalang. Khansa tiba tiba teringat akan kedua orangtuanya di kampung, sudah hampir enam bulan dia tidak kesana. Khansa meraih hapenya dan menekan nomor orangtuanya
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam! ... gimana kabar kalian? Rafa sehat?"
"Alhamdulillah sehat Bu! ... Ibu semua disana sehat?"
"Alhamdulillah! Kapan mau main kesini? kami semua sudah sangat kangen sama Rafa."
"Kepengennya, sih hari ini. Nunggu balik kerja."
"Emang belum pulang?"
"Udah, sih tapi emang masih pengen nyantai dulu aja."
"Oh! Ya udah yang hati-hati di jalan, pulang dulu sana kasian Rafa capek!"
"Iya Bu, ya udah ya Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
"Rafa ayo! Kita otw ke rumah Nenek!" Ajak Khansa seraya beranjak bangkit dari duduknya dengan semangat menggebu bak semangatnya Bung Tomo! Rafa langsung berloncat-loncat kegirangan. Jarak tempuh dari kota menuju kampungnya Khansa itu kurang lebih 2 jam. Dan kali ini Khansa mencoba menekadkan diri membawa motor sendiri, karena ingin lebih hemat duit. Biasanya naik bis tapi kali ini dia ingin menantang dirinya naik motor sendiri bersama Rafa, toh jalannya rame pikir Khansa, dengan segala kesiapan yang matang keduanya lalu meluncur ke rumah orangtua Khansa di kota xxx.
Keduanya begitu menikmati perjalanan mereka sambil bercerita, dan sesekali singgah di Pom Bensin untuk sekedar beristirahat minum atau buang air kecil.
Namun satu hal yang terlupakan oleh Khansa yaitu ban motornya yang tiba tiba kempes ditengah jalan tepatnya ditengah-tengah sawah, sedangkan jarak ke kampung tinggal dua kilometer lagi, Khansa tengok kiri kanan berharap melihat ada bengkel atau warung-warung namun nihil, hanya hamparan sawah dan teriknya sinar matahari saja. Khansa terpaksa mendorong motornya pelan pelan menyusuri jalan
Bunyi klakson mobil baru saja mengagetkan Khansa, Khansa reflek menoleh dan meminggirkan motornya karena jalan di sawah itu hanya bisa di lalui satu mobil, mobil jenis sport itu dengan pelan mendahului Khansa. Tiba tiba mobil itu berhenti beberapa meter didepan Khansa, ia sempat curiga dan menghentikan langkahnya. Apa maunya mobil itu berhenti batin Khansa, seorang laki-laki kira-kira berusia 40 tahunan keluar dari mobil bajunya tampak rapi hingga rambutnya, ia juga menggunakan sepatu pantofel.
"Motornya kenapa Mba?"
"Bannya bocor!" jawab Khansa
Seorang pria beruban turun dari mobil, Khansa melirik sebentar dan pria itu tampak tak asing baginya, itu Ayahnya Vasko. Pria itu mendekati mereka, Khansa mencoba menutupi separuh kaca helmnya sehingga yang nampak hanya mulutnya.
"Kenapa? Wan."
__ADS_1
"Bannya bocor, Tuan!"
Ayah Vasko menatap lekat ke arah Khansa dan anaknya.
"Kalian mau kemana?" tanya Ayah Vasko
"Mau ke Desa xxx."
"Ooh! Gimana Wan? Masih jauh desanya?" tanya Ayah Vasko
"Sekitar dua kiloan lagi, Tuan!"
"Bunda, mau pipis." Bisik Rafa, Khansa pun reflek mencopot helmnya dan membopong Rafa turun dari motor.
"Kamu kan? Yang waktu itu ke rumah sama Vasko?"
"I-iyaa, saya Khansa!"
"Ngapain kamu kesini? Anak ini siapa?"
"Mau ke rumah orangtua saya ... ini anak saya Om!" jawab Khansa dengan suara lirih
"Iya ... saya permisi jalan lagi!"
Khansa kembali mengenakan helmnya dan menyeret motornya.
"Tunggu! ... Gimana kalau Iwan yang bawa motormu, biar kamu ikut saya. Kasian anakmu kepanasan?"
"Nggak usah Om! Saya jalan aja pelan-pelan, bentar lagi juga ketemu bengkel."
"Wan, bawa motornya!"
Iwan langsung siap laksanakan
"Udah Mba, sini biar saya yang bawa. Nurut aja!" Bisik Iwan, yang diiyakan saja oleh Khansa
Ayah Vasko ambil alih menyetir mobil, Khansa dan Rafa naik ke mobil, ia jadi merasa tak enak dengan Iwan, supir yang tadi. Mobil mulai mendahului Iwan yang menaiki motor Khansa dengan kecepatan level kura kura. Khansa beberapa kali menengok ke belakang, ia benar benar merasa nggak enak dengan Iwan tadi.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Ah! Nggak takutnya Mas tadi kenapa-napa?"
Ayah Vasko terkekeh
"Dia itu pemegang sabuk hitam taekwondo Mba, nggak perlu dipikirin."
"Om ... kok bisa sampe sini, mau kemana?" Tanya Khansa
"Meninjau tanah yang mau saya beli!"
Selang waktu beberapa menit mereka tiba di Desa xxx, sebelum benar benar tiba di rumah Khansa meminta turun dijalan saja bagaimanapun mereka sudah tiba di Desa yang dengan berjalan kaki saja pun dia sudah bisa tiba di rumah.
"Saya turun disini aja Om!" Pinta Khansa saat mereka memasuki desa
"Rumahmu dimana?"
"... Masih jauh!"
"Masih jauh, kok? Minta turun, nanti saya turunin sampai rumah."
"Maaf! Ya Om, ngerepotin gini!"
"Nggak apa-apa."
Mobil berhenti tepat didepan rumah orangtua Khansa, sontak orang sana terutama para Ibu Ibu cctv langsung mengarahkan pandangannya ke arah mobil.
Khansa dan Rafa turun dari mobil sambil membungkuk berterima kasih
" Makasih banyak Om!"
Iwan pun tiba bersama motor Khansa
"Makasih banyak Mas Iwan!"
Entah berapa kali Khansa mengucapkan terima kasih, bahkan orangtuanya pun ikut berterima kasih karena sudah menolong anak mereka. Ayah Vasko pun akhirnya pamit untuk meneruskan jalannya. Khansa tak menyangka Ayah Vasko orang sebaik itu, biarlah ini cukup menjadi cerita untuknya sebagai sebuah pengalaman.
__ADS_1
Vasko yang sedang berusaha mencari kesenangan, dengan mencari kesibukan lain di studio bersama rekan barunya yang ia rekrut sebagai seorang DJ, selain kerja di kantor orangtuanya Vasko juga sangat meminati musik, jadi membangun studio kecil itu adalah sebagai caranya menyalurkan minatnya itu, cukup lengkap alat musik disana, ada gitar, drum dan keyboard. Dengan direkrutnya Raiden seorang Disk Jocky, Vasko lebih serius dalam musiknya sampai dia bisa menghasilkan sebuah lagu, dan Beno ia rekrut menjadi Assistant Managernya.