
Sepulang dari rumah Khansa, Hendy tak langsung pulang, ia mampir dulu ke bar untuk menjernihkan pikirannya. Seketika saja sewaktu dijalan ia teringat Khansa dan Rafa. Baginya Khansa itu wanita yang polos, itulah kenapa dia memilih Khansa, karena Khansa yang apa adanya dan penurut. Sifat itulah yang membuat Hendy memantapkan diri untuk menikah dengan Khansa lalu membawanya tinggal di kota bersama orangtuanya, perkenalan mereka cukup singkat yakni hanya enam bulan menjalin hubungan lalu keduanya menikah. Hendy mengetahui segalanya tentang Khansa bagaimana wataknya, namun Khansa yang terlena lupa untuk menelisik siapa Hendy sebenarnya. Ia sangat bersyukur mendapat Hendy yang mau menerima dirinya yang biasa dan sederhana. Lalu setelah satu tahun menikah Hendy berhenti dari tempat kerjanya dan menganggur lama, saat itu kondisi Khansa sedang hamil muda, hingga menjelang kelahiran Hendy masih urung mencari kerja, keperluan di rumah di sandang oleh orangtua Hendy yang kala itu masih lengkap. Hendy kerjaannya hanya di rumah atau pergi memancing, begitu saja setiap hari, Khansa yang polos dan berpikiran positif hanya merasa kalo suaminya itu hanya masih belum dapat kerjaan yang cocok. Namun lama-kelamaan prasangka baik itu menjadi tanda tanya bagaimana tidak sampai Rafa berusia satu tahun Hendy masih saja belum bekerja, sedangkan Khansa benar-benar merasa kesulitan memenuhi kebutuhan mereka dan hanya mengandalkan mertuanya saja. Khansa tak berani menanyakan alasan kenapa Hendy belum juga bekerja, tiap kali ditanya pun dia hanya mengatakan belum ada kerjaan yang cocok. Atau mereka akan cekcok karena Khansa menuntutnya untuk cepat mencari kerja. Khansa yang tidak bisa apa apa itu hanya menangis, meratapi nasibnya. Hingga suatu ketika Hendy dipanggil oleh temannya yang kerja dikantor untuk memperbaiki komputer kantor yang rusak, karena memang Hendy pernah kursi dan bekerja di bidang service komputer ia pun pergi kesana, entah apa rayuan Hendy sehingga dia tiba-tiba bisa masuk ke kantor itu sebagai karyawan biasa dan disitulah kedekatannya dengan Delima dimulai, yang mana Delima adalah keponakan dari orang berjabatan tinggi di kantor itu, Hendy memang aslinya pria yang humble dan asik buat diajak ngobrol tak jarang memang banyak lawan bicaranya terutama yang perempuan jatuh cinta padanya, mungkin begitulah pula Hendy kepada Khansa hingga membuat wanita itu dimabuk cinta. Delima merasakan hal yang sama dimana dia merasa nyaman ngobrol bersama Hendy nyambung gitu loh! Hingga akhirnya membuat Delima benar benar jatuh cinta padanya, awalnya Hendy menolak karena mengingat dirinya yang sudah beristri, tapi mengertilah wahai pembaca bagaimana pelakor dalam bertindak membuat lawannya meneteskan air liur. Sejak saat itu mereka menjalin hubungan secara diam-diam, tentu saja dari Khansa yang polos dan selalu percaya pada Hendy. Saking polosnya Khansa, Hendy bahkan pernah membawa Delima main ke rumah bertamu, Khansa menerimanya dengan hangat, ia bahkan tak menaruh curiga sama sekali karena memang Hendy itu mudah akrab dengan siapapun baik perempuan laki laki sama semua. Semua itu ketahuan setelah Khansa kembali dari menginap dirumah orangtuanya selama 5 hari, saat Hendy sedang keluar sebentar, ada chat dari Delima yang menyapa "Hai! Lagi ngapain?" Khansa yang mulai heran dan curiga segera membalas dengan mengatakan lagi di rumah saja, selang beberapa lama Delima menelpon video ke hape Hendy yang segera ditolak Khansa. Sejak saat itu Khansa baru menaruh curiga pada mereka berdua, tapi karena Khansa yang pembawaannya tenang apapun masalahnya ia memilih diam dan bertingkah seperti biasa sampai dia benar-benar mendapat bukti. Khansa sempat menangis sendiri saat mengetahui kecurigaannya itu, dia yang bersabar dengan kesulitan hidupnya hingga akhirnya dia juga yang harus merasakan pahitnya diduakan. Keduanya bercerai setelah Khansa marah besar mendapati chat mereka berdua lewat pesan tersembunyi, ia tak mau lagi dibodoh-bodohi. Sudah cukup ia bersabar selama ini, kesabaran yang sama sekali tidak dihargai. Tiba-tiba Hendy menyesali segala perbuatannya itu setelah pertemuannya dengan Vasko, ia seperti tak rela Khansa dimiliki orang lain.
Khansa yang dari awal menikah hingga bercerai sekarang belum pernah merasakan hidup tenang bahagia, ia selalu cemas dan stres apalagi sewaktu bersama Hendy. Perceraiannya itu seperti membuat Khansa baru saja keluar dari penjara kehidupan.
Hendy benar benar mabuk berat, ia bahkan tak bisa bangkit dari duduknya, pelayan disana sampai harus menelpon Delima untuk menjemput Hendy, Delima dengan dibantu pelayan bar membawa Hendy masuk ke mobilnya.
"Makasih banyak Mas?" ucap Delima yang segera dijawab dengan anggukan si pelayan lalu pergi dari hadapannya, Delima memasang sabuk pengaman pada tubuh Hendy yang lemas itu, sesekali mulutnya meracau tak karuan, hingga ia menyebut nama Khansa, yang mana membuat Delima murka namun tak bisa berbuat apa-apa selain mengemudikan mobil dijalan dengan benar. Hendy terbangun dari tidurnya badan terasa sangat lelah, bahkan bajunya masih belum diganti, Hendy menengok ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Delima. Delima keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih terlilit handuk. Ia hanya mendelik ke arah Hendy yang masih lemas.
"Sayang!" Panggil Hendy tanpa merasa bersalah, Delima masih acuh, ia mulai melepas lilitan handuk dikepalanya dan mulai mengeringkan rambutnya didepan cermin.
"Minum sama siapa kamu tadi malam?"
"Sendirian!"
"Habis dari mana?"
__ADS_1
"Ya, dari kantor lah!"
Delima tersenyum mencibir, entah kenapa dia tak percaya
"Kamu ingat, kan kamu mabuk?"
"Ingat! Kenapa, sih?"
"Kenapa?" Ulang Delima tertahan, seraya membalik badan menghadap Hendy yang masih tiduran di kasur.
"Kamu masih sayang sama dia?" tanya Delima lagi dengan nada normal
"Sayang aku cuma buat kamu, sayang!" Hendy segera bangkit menuju Delima, meyakinkan istrinya itu
"Bohong kamu!" Delima menepis tangan Hendy dari lengannya. Hendy menarik kedua bahu Delima menghadapnya, tampaklah wajah cemberut Delima.
__ADS_1
"Aku kan lagi mabuk sayang! Apa yang aku ucapkan itu nggak secara sadar, aku bahkan nggak inget apa-apa ... masa iya kamu marah cuma gara-gara aku sebut namanya."
Hendy berusaha memeluk Delima yang masih tak merespon pelukannya.
"Jangan marah lagi, dong! Aku janji akan penuhi semua yang kamu mau ... atau kamu mau kita liburan ke luar negeri?"
"Kemana?" tanya Delima terlihat akur
"Kamu maunya kemana?"
"Ke Korea?"
"Korea Utara?"
"Sayang!" Rengek Delima terdengar manja mendengar candaan Hendy.
__ADS_1