
" O..oke, anggap ucapan saya tadi tidak benar. Maaf, saya harus pulang sekarang karena ada..."
" Silahkan keluar, Dok. Pintu rumah saya masih terbuka." Ucapku dingin.
Tanpa basa basi Dokter Alfan yang tampan keluar dari rumahku. Tanpa menunggu ia berlalu, aku segera menutup pintu rumah ini rapat-rapat.
Huh. Begitu keras hidupku. Apakah status janda itu hina? Bahkan aku menyandang status janda juga bukan keinginanku. Mana ada perempuan yang ingin menjadi janda. Takdirlah yang membuat perempuan menjadi janda.
Bersyukurnya aku karena belum menjalin cinta dengan Dokter Alfan. Dia memang tampan dan berpendidikan, tapi itu tidak menjamin seseorang untuk mempunyai akhlak.
Allah... Aku lelah sekali...
***
Semakin hari kondisi papi semakin pulih. Perangai buruknya pelan-pelan mulai hilang. Seperti pagi ini, kami sedang menyantap sarapan bubur ayam.
" Dit.." panggil papi.
Aku yang sedang menyuapkan bubur ke mulut sejenak menghentikan aktivitas makan ku, " ada apa pi?"
" Maafin papi ya.."
" Maaf buat apa? Papi gak ada salah apa-apa sama Adita."
" Selama sakit kemarin, papi pasti nyusahin kamu, papi pasti rewel banget ya?" Ucap papi sedih.
" Papi kan kemarin lagi sakit, jadi wajar dong rewel. Lagian aku tuh ikhlas kok merawat papi." Ucapku tulus.
" Dit, mami kok gak ada kabarnya ya?" Tanya papi.
Pertanyaan papi membuat aku kehilangan mood ku.
Kenapa sih harus bahas mami lagi?
" Mami sudah bahagia pi. Kita gak usah bahas mami ya, pi. Gak penting."
" Mami mu hamil ya?"
Aku heran melihat papi. Kok bisa-bisanya masih ingat?
" Memang papi tahu dari mana?"
" Kalau gak salah waktu papi ketemu mami perutnya besar. Lucu ya.. mami mu hamil lagi." Papi tersenyum sendiri.
" Uda lahiran belum ya?"
" Aku gak tahu pi."
" Kalau uda lahiran kita jenguk yuk." Ajak papi.
Sontak aku terkejut mendengar ajakan papi.
" Belajarlah memaafkan mami, Dit."
Tanpa mau berdebat panjang dengan papi aku hanya mengiyakan permintaan papi.
" Dit seingat papi, mami sudah berhijab ya?"
Aku kembali mengangguk, membahas mami membuat selera makanku hilang.
" Mami cantik deh, Dit." Puji papi lagi.
" Tapi tidak hatinya pi." Ups! Aku menutup mulut karena sudah keceplosan mengomentari mami.
__ADS_1
" Kamu masih dendam sama mami?" Tiba-tiba wajah papi berubah dari yang antusias menjadi datar. Aku menjadi merasa bersalah karena tidak pandai berpura-pura.
" Pi, maaf. Dita hanya manusia biasa. Dita tidak bisa seperti papi. Dita gak bisa pi." Karena merasa kesal aku membanting sendok diatas piring.
" Jangan paksa Dita untuk melupakan semua. Bukan kemauan Dita untuk menjadi pendendam." Ucapku lagi.
" Ma-maaf.. papi terlalu menuntut kamu."
Papi bangkit dari duduknya. Beliau pergi masuk kedalam kamar. Bubur ayam itu bahkan belum di sentuh karena beliau terlalu asyik membahas mami.
Aku berusaha meminta maaf pada papi, tapi sayang, pintu kamar sudah di kunci papi dari dalam. Selalu begini, " Allah, kuatkan aku dalam menghadapi papi." Rintihku pilu.
Karena terlalu bosan berada di rumah, aku memutuskan untuk kembali bekerja. Aku ingin kembali pada dunia ku yang penuh warna.
Iseng-iseng aku mengirim pesan singkat kepada Tristan, semoga saja masih ada peluang untukku.
Tidak menunggu waktu lama aku mendapat balasan dari Tristan ( Datang saja Adita, besok kamu bisa langsung bekerja.)
Aku bersorak gembira, ada perasaaan bahagia yang berkecamuk di dadaku.
Tidak sabar rasanya untuk menanti hari esok.
***
Aku mematut tampilanku di cermin. Ingin rasanya aku berhijrah. Keinginan yang sudah lama ada, namun aku belum berani untuk mewujudkannya.
Aku ingin menjadi wanita yang mahal dan menjadi wanita yang berkelas. Aku percaya, jika seorang wanita yang baik suatu saat Allah juga akan mengirimkan jodoh yang terbaik untuknya. Jika mas Dani menurut ku baik, bagi Allah belum tentu baik.
Selama ini aku selalu tampil dengan memperlihatkan auratku. Tanpa malu aku selalu memakai jeans yang kadang hanya sebatas paha, siapa pun bebas memandang. Aku teringat mami, terakhir kami bertemu mami sudah tampil mempesona, rambutnya sudah tertutup hijab. Sunggu, aku terpesona, tapi semua dikalahkan oleh dendam yang membara di dada.
" Allah, aku hanya ingin menjadi wanita baik-baik dan hidup tanpa dendam." Keluhku dalam hati.
Ku buka lemari, hanya ada beberpa gamis yang jarang ku pakai. Selebihnya baju ku adalah mini. Ternyata sudah lama aku salah jalan.
" Ampuni aku ya Allah."
Ya Allah..semoga aku bisa Istiqomah.
***
Hari ini aku memutuskan untuk berbelanja baju. Bukan lagi baju mini yangenjadi pilihanku, tetapi baju yang sesuai syariat islam.
Aku berbelanja begitu banyak. Aku juga memilih baju yang bisa ku pakai untuk bekerja. Semoga Tristan nanti tidak mempermasalahkan penampilanku.
Ada rasa bangga pada diriku sendiri. Akhirnya aku bisa mewujudkan impianku.
Setelah semua barang yang kubutuhkan telah ku dapatkan, aku pun segera pulang. Takut nanti papi kehilangan. Karena papi sedang ngambek saat aku pergi berbelanja tadi.
Alhamdulillah...akhirnya aku sudah tiba di rumah. Aku membuka pintu, papi sedang menonton televisi.
" Assalamu'alaikum papi..." Sapa ku riang.
Papi melongo melihat penampilanku.
Beliau mengucek matanya berkali-kali.
" Ini benar Adita? Anak papi?"
Aku tersenyum malu.
Papi berdiri, beliau menatapku tak berkedip. Detik selanjutnya manik-manik kecil menetes dari kedua matanya.
" Anak papi...huuuuuu..."
__ADS_1
Papi nangis.
Aku jadi kebingungan. Ada apa dengan papi? Apa papi tidak suka dengan penampilan terbaruku?
" Papi kenapa?"
Huhuuuuuu....
Bukannya menjawab papi malah melanjutkan nangisnya.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Semenjak papi terkena stroke ringan, emosi beliau jadi tidak stabil.
Aku mengusap bahunya, " cup papi jangan nangis..." Aku membujuk papi bak anak kecil.
Cukup lama menunggu papi tenang sendiri. Aku membiarkan papi melepas perasaannya. Agar papi tidak merasa tertekan.
Aku duduk disamping papi, mendengar suara tangisan papi bagiku adalah seperti mendengar alunan musik. Aku mencoba menikmati semua tingkah kekanak-kanakan papi. Meski diawal aku sempat emosi, tapi lambat laun aku mulai memahami papi.
Satu jam.. dua jam.. akhirnya papi berhenti nangis.
Beliau menatapku sendu.
" Papi sudah enakan?" Tanyaku.
Papi mengangguk.
" Papi kenapa nangis?"
" Papi terharu dengan penampilan kamu. Cantik seperti bidadari surga. Papi suka lihat kamu yang sekarang." Ucap papi polos.
" Alhamdulillah kalau papi suka. Aku mau hijrah pi, mau jadi wanita baik-baik yang tidak memberatkan papi di akhirat nanti." Ucapku sedih.
" Terima kasih ya, nak. Papi bangga sama kamu. Semoga kamu menemukan jodoh yang benar-benar bisa menjaga kamu." Ucap papi.
" Doain aku ya, pi. Doain aku supaya bisa nemuin laki-laki yang seperti papi."
" Jangan seperti papi, papi bukan lelaki baik, papi tidak berhasil mendidik mami."
" Bukan papi yang tidak berhasil, tapi mami yang tidak bersyukur punya suami sebaik papi."
"Semangat untuk kita ya, pi." Aku memeluk lelaki tua yang ada di hadapanku. Lelaki yang menyayangi aku dengan tulus.
" Pi, besok aku mulai kerja."
" Kamu kerja? Kenapa? Tabungan kita sudah mulai habis?"
" Pi, aku suntuk di rumah saja, barangkali aku bisa menemukan jodoh di luar sana." Aku bercanda.
Papi sedikit tertawa, " bukannya Dokter Alfan menyukaimu?"
Uhuuuuk.....aku terbatuk kala papi menyebut nama Dokter Alfan.
" Kemarin Dokter Alfan mau melamar kamu?" Papi mulai mendesakku.
" Dokter Alfan bukan lelaki baik pi." Jawabku jengah.
" Darimana kamu tahu?" Tanya papi lagi.
" Dokter Alfan dan keluarganya tidak bisa menerima status ku yang janda pi." Jawabku jujur.
Tangan papi mengepal, sepertinya emosi mendengar ucapanku perihal Dokter Alfan.
" Papi gak usah memikirkan Dokter Alfan, nanti papi sakit. Kalau Dokter Alfan gak bisa nerima janda, berarti Dokter Alfan bukan jodohku. Bukan begitu pi?"
__ADS_1
" Iya sayang."
Ah. Alhamdulillah ku panjatkan pada Tuhan ku, karena papi mulai paham apa yang sedang kurasakan.