
" Adita... Jangan begini dong.." Tristan menarik tanganku.
" Kita selesaikan masalah ini dengan kepala yang dingin. Maaf kalau mama menuntut kita untuk menikah. Bukan hanya mama dan papa yang takut.. aku pun takut jika terlalu sering bersama. Andai kamu tahu Dita, aku selalu merasa bersalah jika kita bersentuhan, berpelukan bahkan saat kita berciuman. Aku takut jika setan mendorong kita untuk melakukan hubungan suami istri tanpa ikatan pernikahan. Tolong Adit, pikirkan ini baik-baik." Pinta Tristan menghiba.
Tristan menyentuh wajahku dengan kedua tangannya, " Aku mencintaimu.. Adita."
Aku masih diam, tidak membalas perkataan cintanya.
" Aku mau pulang, Tan."
" Oke. Aku antar." Tristan melemah.
Sepanjang perjalanan menuju rumah kontrakan kami hanya diam. Tidak ada yang membuka mulut untuk sekedar basa basi.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya kami sampai di depan rumah kontrakan.
Ada yang sedang menungguku. Wanita paruh baya yang sedang menggendong bayi perempuan yang sedang menangis. Wanita itu tampak gelisah.
" Itu maminya Dani, kan?" Tanya Tristan.
" Bukan itu mamiku, mami kandungku, suami mas Dani."
" Ma-maksudmu... Dani...itu suami mu yang berselingkuh dengan mami kandungmu?"
" Iya. Tanpa kamu minta, sekarang kamu sudah tahu rahasia itukan? Sekarang kamu sudah tahu, kenapa aku menolak disatukan dengan mas Dani? Dia mantan suamiku."
" Oh my God.." Tristan seperti tidak percaya.
" Terima kasih sudah mengantar aku pulang, sekarang kamu boleh pulang " aku bersiap untuk turun.
Diluar dugaanku, Tristan ikut turun..
Mami yang tadinya gelisah tiba-tiba raut wajahnya berubah ceria.
" Adita." Panggil mami.
" Mami ngapain kesini?"
" Em.. mami ada perlu."
" Perlu apa lagi mami?" Aku sok cuek, padahal hatiku hancur karena sudah berani bersikap kurang ajar pada mami kandungku sendiri.
" Boleh mami minta minum dulu. Mami haus sekali."
Aku tak menyahut, namun aku segera membuka pintu tanpa mempersilahkan mami dan Anaya masuk.
Aku mengambil segelas air putih, namun gelas itu disambar oleh Tristan.
__ADS_1
" Bukan seperti itu cara menghargai tamu, Adita."
" Dia bukan tamu." Jawabku sekenanya.
" Dia mami ku." Ucap Tristan lagi.
" Dia bukan mamiku, tidak ada orang tua yang menyakiti hati anaknya sendiri." Jawabku dingin.
" Jangan sekarang berdebat."
Tristan membawa teko berisi air dingin dan juga gelas, lalu menaruhnya di nampan. " Ini jauh lebih sopan." Ucap Tristan.
Kami pun berjalan beriringan ke depan.
Mami sudah duduk di ruang tamu bersama Anaya. Anaya sedang belajar berdiri. Namun, gemasnya Anaya tidak mampu meluluhkan hatiku untuk sekedar beramah tamah pada anak kecil itu.
" Silahkan diminum tante." Tristan mulai beramah tamah pada mami. Ada rasa ketidaksukaan yang mengganjal di dada.
Mami seperti orang yang kehausan langsung meminum air yang disuguhkan oleh Tristan.
Setelah minum mami kembali ke topik pembicaraan.
" Adita..tolong cabut laporan kamu pada mas Dani." Ucap mami memelas.
Aku dan Tristan saling berpandangan, " baik tante, kmi akan cabut laporan itu."
Pikiran negatif mulai menguasai diriku. Jangan-jangan.. Tristan mulai memiliki rasa pada mami.
" Aku tidak setuju kamu mencabut laporan mas Dani, Tan. Biar saja dia mendekam di penjara." Ucapku dingin.
Tristan menarik tanganku kebelakang.
" Pikiran kamu dimana sih, Dita? Tega kamu lihat mami mu mengemis seperti itu?" Bentak Tristan padaku.
" Oh..." Aku bertepuk tangan dan tersenyum sinis.
" Maksudmu apa Adita?" Tristan tidak mengerti dengan arti tepuk tanganku.
" Jangan pura-pura bodoh Tan. Apa perlu aku jelaskan padamu?"
" Jelaskan! Ayo jelaskan! Aku bukan dukun yang bisa membaca pikiran orang."
" Kamu ada rasa sama mami?"
" Adita... Adita..." Tristan malah tertawa mendengar kalimat terakhirku. Tangannya berkali-kali mengusap kepalaku yang tertutup jilbab.
" Pikiranmu jangan negatif sayang, sesekali harus positif. Perlu aku kasih tahu sama kamu, aku mencintaimu... Sangat mencintaimu. Jika bukan ibumu yang meminta aku untuk mencabut laporanku, tentu itu tidak akan kulakukan. Tapi yang meminta ini adalah ibumu, calon mertua, aku menghargai itu. Ayolah.. lupakan masa lalumu. Sekarang jangan banyak tanya. Kita kekantor polisi sekarang."
__ADS_1
Tristan mengajakku kembali keruang tengah.
" Ayo tante sekarang kita ke kantor polisi." Ajak Tristan.
Ada raut bahagia yang terpancar dari wajah mami.
Kini kami sedang dalam perjalanan ke kantor polisi. Tidak ada yang berbicara diantara kami. Hanya Anaya yang berdendang dengan bahasa yang belum bisa di pahami.
***
Sesampainya di kantor polisi, Tristan segera mencabut laporannya. Dan tidak butuh waktu lama, lelaki itu keluar menggunakan baju bertuliskan tahanan.
Mulutku merasa gatal untuk tidak berbicara kasar pada lelaki yang merusak hidupku dan keluarga ku.
Sebelum mami mendekat, aku lebih dulu mendekati lelaki yang sedang menunduk.
" Kamu beruntung, karena mamiku berhasil merubah pikiran kami untuk mengeluarkan mu dari tempat ini. Jadi ku peringatkan padamu," tiba-tiba badanku di geser oleh seseorang. Ternyata Tristan yang melakukan itu.
" Dani, aku tidak pernah menyangka kamu melakukan hal keji pada Adita. Kamu begitu dalam menorehkan luka di hatinya. Bahkan kamu mengulangi itu lagi? Belum puas menancapkan luka padanya? Mulai detik ini.. aku peringatkan padamu, jangan pernah menyentuh Adita. Karena dia akan menjadi tanggung jawabku. Dan ku harap kamu juga tidak berbuat hal yang tidak baik pada calon ibu mertuaku. Jika sampai kamu melakukan KDRT, kupastikan kamu tidak akan pernah keluar dari tempat ini." Ancam Tristan.
Rasanya aku sangat berterima kasih kepada Tristan, karena sudah menjamin kehidupan mami dan Anaya aman.
" Ayo kalian pulang bersama kami. Sekalian aku ingin tahu dimana kalian tinggal."
Mas Dani dan mami tidak bisa menolak permintaan Tristan.
Sepanjang perjalanan suasana didalam mobil dingin dan hening. Lagi-lagi hanya Anaya yang berdendang. Ia tidak pernah tahu masalah yang terjadi diantara kami.
" Berhenti disini, nak."
Kami berhenti di sebuah kontrakan kecil.
Aku sedikit heran, ini bukan rumah yang tempo lalu ku datangi. Dulu...rumah mami bak istana, lalu?
" Terima kasih ya, nak. Ayo mampir dulu di rumah kami." Tawar mami pada kami. Sementara lelaki tidak tahu diri itu tanpa mengucapkan terima kasih langsung turun melenggang.
" Maaf tante, kami tidak bisa mampir, tapi lain waktu kami akan usahakan mampir agar silaturahim diantara kita tidak pernah putus."Ucap Tristan.
Mami dan Anaya melambaikan tangan pada kami. Sekilas aku melirik pada lelaki yang sedang duduk menunggu mami membuka pintu rumahnya. Wajahnya begitu keras seperti sedang menahan emosi.
Aku jadi kepikiran sama mami. Walaupun rasa benci ku begitu besar pada mami, tapi aku juga tidak ingin mati konyol di tangan lelaki itu.
" Sedang memikirkan apa Dit?"
Tristan membuka cerita diantara kami.
" Rumah mami, bukan rumah yang dulu pernah ku temui. Sepertinya banyak hal yang di sembunyikan mami dari kita. Tan, aku takut mami mati konyol di tangan lelaki itu.."
__ADS_1