
Aku teringat Tristan, dengan buru-buru menelpon Tristan.
(Halo yang...ada apa?)
Aku pura-pura menangis ( tolong pulang sekarang Tan...huuuuuuu)
( Ngomong yang jelas, sayang..)
( Tolong aku tan...) Aku langsung menekan tombol merah.
Hahahah.....aku tertawa sendiri. Tristan pasti panik.
Aku yakin dia pasti pulang.
Setelah menunggu kurang lebih dua puluh menit akhirnya... Suara deru mobil memasuki garasi.
Aku segera mengintip dari balik horden. Tristan berjalan tergesa-gesa masuk kerumah.
Aku berdiri dibalik pintu.
Satuuu... Dua... Tiga...
" Tara....." Aku menunjukkan testpack bergaris merah dua pada Tristan.
" Kamu kenapa, yang? Mana yang sakit?" Tristan menelisik seluruh tubuhku.
" Aku hamil." Seru ku riang.
Tidak ku duga Tristan menggendongku, membawa aku kedalam kamar.
Dia membaringkan aku diranjang.
" Kamu betul hamil, yang?"
Aku mengangguk manja, hingga Tristan gemas melihatnya.
" Dedek bayi.. sehat-sehat dirahim mama ya..." Tristan mengecup perutku yang masih rata.
" Aku gak mau di panggil mama." Rengekku manja.
" Lalu?"
" Ibu saja."
" Kalau kamu ibu, berarti aku adalah ayah."
Iami berpelukan erat. Menanti selama enam bulan adalah hal yang membosankan.
***
Setelah aku hamil, aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Aku ingin fokus menjadi ibu rumah tangga yang baik. Apalagi selama hamil tubuh ku terlalu ringkih. Aku jadi mudah lelah dan tidak bergairah. Termasuk urusan ranjang kami. Kadang menjadi dingin karena aku sering menolak Tristan berkali-kali. Kami yang sering pisah kamar karena masa kehamilan aku hanya ingin kamar yang hangat, sementara Tristan tidak bisa tidur jika tidak menggunakan AC.
Sepwrti malam ini, Tristan sengaja menunggui aku tidur. Setelah aku tidur dia akan pinda kekamar sebelah. Entah sampai kapan rutinitas ini akan berakhir?
" Yang.. aku besok mau ke Jakarta." Ucap Tristan.
" Loh.. mau ngapain?"
" Ada pertemuan klien."
"Oohh.. cowok apa cewek?"
" Cemburu ya?" Tristan menjawil dagu ku.
__ADS_1
" Aku takut.. selama aku hamil, kamu kayak gak terurus."
" Kamu kan hamil anakku? Jangan pernah berfikir seperti itu.. aku mencintaimu.." ucap Tristan meraihku kedalam pelukannya.
" Yang.." panggilku manja.
" Hem?" Tristan masih bermain ponselnya.
" Bolehkah aku meminta hakku? Aku ingin senam ranjang denganmu." Pintaku malu-malu.
" Loh kok tumben? Biasanya aku di tolak." Ucap Tristan sambil menaruh ponselnya.
" Kamu kan mau pergi lama, sudah seharusnya kamu membawa perbekalan yang cukup, supaya gak ingin mencicipi kue milik orang lain." Ucapku asal.
Tristan tertawa terbahak-bahak mendengar ocehanku.
" Maksud mu kue apa sih yang?"
" Jangan pura-pura bodoh Tan. Kamu adalah lelaji normal. Dan kamu tahu Tan, kucing itu paling suka sama ikan asin."
" Aku bukan kucing sayang..."
Dan malam ini... Kami dan berdua melakukan ibadah halal khusus suami dan istri.
***
Pagi-pagi sekali aku sudah membereskan semua perlengkapan Tristan. Untuk urusan makan, selama aku mual, maka kami menggunakan jasa catering. Bagiku itu solusi yang tepat selama Tristan tidak berkomentar.
" Hati-hati ya..ingat! Ada aku dan buah hatimu yang menanti dirumah." Pesanku pada Tristan.
Sebenarnya aku selalu was-was saat melepas Tristan pergi rapat keluar kota. Karena aku tahu betul bagaimana para klien yang akan bertemu dengan Tristan. Terkadang mereka menggunakan jasa wanita cantik untuk menggoda Tristan agar harga yang disepakati bisa di nego.
Tapi.. itulah bisnis suamiku, mudah-mudahan imannya selalu kuat agar tidak tergoda dengan wanita di luar sana yang mungkin lebih dari aku.
***
Aku menyetir mobil sendirian. Selama menikah dengan Tristan, hidupku benar-benar berubah. Bahkan aku tidak pernah merasakan sakit lagi.
Mobil kuparkir. Aku masuk kepasar sambil menenteng keranjang belanjaan. Tujuan utamaku adalah membeli sayur-sayuran. Selama hamil aku lebih suka mengkonsumsi sayuran hijau.
Namun..belum sempat aku memilih sayuran, mataku menangkap sosok yang kukenal.
Seorang wanita dan anak kecil perempuan.
" Mami..." Panggilku.
Wanita itu menoleh, setelah melihatku wanita itu justru berlari sambil menggendong Anaya.
Tidak mau kehilangan jejak mami. Aku segera mengejar mereka.
" Mi...tunggu!"
Karena terlalu fokus berlari, mami terjatuh karena kakinya tersandung batu.
" Auww.." mami mengeluh sakit. Sementara Anaya menangis kencang karena tubuh mungilnya tertimpa mami.
Aku menolong mami, mengangkat tubuh Anaya.
" Cup..cup..cup..." Aku berusaha mendiamkan Anaya tapi sepertinya bocah ini tidak mengenalku.
Mami meraih Anaya dari tanganku. Bak sulap, bocah itu terdiam seketika.
Aku baru sadar jika kami menjadi tontonan puluhan pasang mata.
__ADS_1
Aku menarik tangan mami kedalam mobil.
Membawa mami kedalam mobil mungkin lebih baik. Dan mami tidak bisa menolak.
Aku menghidupkan mobil dan AC.
Setelah sedikit tenang, aku memulai percakapan.
" Kenapa lari, mi?"
Mami hanya diam menunduk. Tamgannya mengusap kepala Anaya yang basah.
" Mi.." aku memegang bahu mami.
" Mami kenapa berlari? Apa mami tidak ingin mengenalku lagi? Iya mi?" Tanyaku terisak.
" Maafkan mami, Adita. Mami hanya malu, nak."
" Malu kenapa? Adita anak mami loh? Aku sudah lama memendam rasa rindu pada mami. Lalu setelah kita jumpa..mami sengaja menghindari aku. Sakit hatiku, mi.. sakit.." ucapku sambil menepuk dada.
Aku tidak habis pikir kenapa mami bisa seperti itu padaku.
Aku menjalankan mobil, " kita mau kemana Adita? Mami turun disini saja." Mami berusaha membuka pintu mobil, namun aku lebih dulu mengunci otomatis.
" Rumah siapa ini Adita?"
Kami masuk kedalam rumah mewah. "Turun, mi."
Mami mengikuti aku.
Tidak lupa ku gandeng tangannya agar tidak kabur. Pikiran mami siapa yang tahu?
Mami begitu terheran-heran melihat kemegahan rumah ini. Rumah yang sama persis dengam rumah kami dulu yang di bangun oleh papi.
Aku menyodorkan handuk bersih dan baju ganti milikku pada mami.
" Mandilah mi." Perintahku.
Aku menunjukkan kamar mandi pada mami.
Dan terjadilah drama tangisan Anaya karena di tinggal mandi oleh mami.
Aku membujuk Anaya dengan seribu jurus. Dan ...aku berhasil karena Anaya terdiam setelah aku menyuguhkan beberapa makanan untuknya.
Mami sudah mandi. Penampilan nya jauh lebih baik dari yang tadi. Aku memberikan jilbab sorong pada mami.
" Pakailah bedak ini mi."
Tanpa membantah mami menuruti permintaanku. Dan mami tampil memukau.
" Cantik." Pujiku
Mama menjadi serba salah mendengar pujianku.
" Mami.. Adita rindu..." Ucapku sesak.
Mami memelukku erat. Pelukan seorang ibu terhadap anaknya kembali kurasakan.
" Mami kemana saja? Kenapa mami menghilang bak ditelan bumi?"
" Mami sengaja menjauh dari kehidupanmu."
" Kenapa mi?" Tanyaku tidak mengerti.
__ADS_1
" Karena .. mami takut akan jatuh cinta lagi pada suami mu."