Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 27


__ADS_3

Hari berganti hari.. Besok adalah hari pernikahan ku dan Tristan. Meski bukan gadis lagi, namun tetap saja aku merasa gugup menyambut hari spesial itu.


Sudah beberapa hari Tristan tidak memberikan kabar padaku. Apakah Tristan ingin fokus dalam menghadapi babak baru yang akan segera kami tempuh bersama?


Tring...


Satu pesan masuk dari nomor baru. Ada gambar yang dikirim seseorang.


Aku membuka pesan itu dengan perasaan dag dig dug.


Ternyata..ada foto Tristan sedang memeluk wanita cantik dan.. ada seorang anak kecil diantara mereka.


( Kamu hanya pelariannya saja. Tristan tidak benar-benar mencintaimu.)


Miris sekali. Baru saja hendak membina biduk rumah tangga, tapi cobaan sudah menghadang.


Aku mengetuk meja rias berkali-kali. Balas atau... biarkan saja?


Setelah berfikir cukup lama akhirnya aku memutuskan untuk tidak menggubris pengirim pesan gelap.


Saat ini fikiran dan jiwa ku harus benar-benar fresh. Apalagi besok adalah hari pernikahan ku dan Tristan. Aku dan Tristan esok akan menjadi raja dan ratu sehari.


***


Pagi-pagi sekali aku, mami dan Anaya sudah di jemput oleh supir pribadi Tristan.


Tidak tanggung-tanggung, Tristan menyewa jasa perias pengantin terkenal. Katanya, dia ingin di hari pernikahanku tampil lebih cantik dari hari biasanya.


Gaun panjang pengantin berwarna putih begitu cantik di ienakan di tubuhku. Tidak pernah ada dalam anganku jika pernikahan ke duaku akan semewah ini.


Dan disinilah kami pagi ini...menanti Tristan mengucapkan ijab qabul dihadapan Allah dan para saksi.


Acara ijab qabul sedang berlangsung. Tristan begitu lancar mengucapkan ijab qabul tersebut. Hingga terdengar kata sah di telingaku.


Aku terharu, menangis bahagia. Kini aku resmi menyandang gelar nyonya Tristan. Bos tampan itu sekarang sudah menjadi milikku seutuhnya.


***


Pesta sudah berlalu. Tristan buru-buru memboyongku ke suatu tempat yang sudah ia persiapkan.


Ternyata Tristan membawaku kesebuah hotel mewah di kota kami.


Pintu kamar hotel di buka, aroma wangi menguar memenuhi indra penciuman. Bunga mawar merah memenuhi lantai ruangan ini


So sweeet....


" Kamu suka?"


" Ide siapa?"


" Yang jelas bukan ide ku, sayang..."


Aku tersenyum, " kapan sih kamu kreatif?" Aku mencubit pipi Tristan pelan.


" Sudah berani ya?"


" Berani apa?"


" Apa ya?" Tristan menggaruk kepalanya yang entah gatal atau tidak.


Aku izin membersihkan badan duluan. Lelah rasanya menghadapi pesta seharian.


Aku membawa pakaian ganti yang akan ku kenakan di kamar mandi.

__ADS_1


" Kenapa bawa pakaian didalam, sayang?"


" Em... Ya gak papa, Tristan." Gugup aku menanggapi godaan Tristan...


Tristan mengambil pakaian dari tanganku dan meletakkannya diatas nakas.


" Maksudnya apa Tristan?"


" Pakai ini." Tristan memberikan aku sebuah baju dinas debgan warna merah menyala.


Aku menutup wajahku menggunakan kedua tangaku.


" Kenapa?"


" Malu Tristan..."


" Kita sudah sah, sayang. Sudah halal."


Dengan berat hati aku menerima pakaian dinas pemberian Tristan.


Lalu aku segera masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya.


Oh Tuhan..ini bukan yang pertama, tapi mengapa aku tetap malu...


Ku buka baju pemberian Tristan.


Bagaimana bisa aku berpenampilan seperti ini dihadapannya?


***


Aku keluar dari kamar mandi dengan malu-malu. Bagian dada tetap ku tutup menggunakan handuk.


Tristan mendekat kearahku, menelisik tubuhku dari atas kepala hingga ke bawah kaki. Membuat aku menjadi risih.


" Ada apa Tristan?"


" Itu..." Ia menunjuk bagian dadaku.


" Apa?"


Tristan menarik handuk tersebut, tapi detik berikutnya ia malah terdiam. Bahkan kini zakun itu malah naik turun.


" A-aku...mandi dulu." Ia berlalu dari hadapanku.


Aneh, ada apa dengannya?


Aku membaringkan tubuhku diranjang empuk ini. Ku tutup tubuhku menggunakan selimut. Entah karena lelah dan mengantuk, aku memejamkan mata, niat hati hanya tidur beberapa menit. Nyatanya aku tidur dan terbangun tepat pukul tiga pagi. Aku mendapati Tristan tertidur lelap di sebelahku sambil memeluk ku erat.


Ya Allah...malam pertama kami terlewatkan begitu saja. Tristan tertidur pulas di sebelahku.


Karena tidak bisa tidur dan takut Tristan terganggu tidurnya, iseng-iseng aku mengambil ponsel. Saat ku buka ada sebuah pesan masuk dari nomor wanita itu.


" Gigih sekali dia."


(Aku yakin malam ini Tristan melewatkan malam pertama kalian.)


" Apa urusannya?" Ungkap batinku kesal.


Dasar manusia sok tahu. Entah ide dari mana, aku ingin iseng pada pengirim pesan gelap. Aku yakin hatinya akan berdarah- darah membaca padan dariku.


Aku mulai mengetik sebuah pesan,( jangan sok tahu. Betapa ganas sekali suamiku. Bahkan malam ini kami melakukan hingga berkali-kali.)


Aku cekikikan membaca pesan gila ini. " Biar tahu rasa dia."

__ADS_1


" Siapa yang tahu rasa, yang?" Tristan membenamkan wajahnya di punggungku.


Sejak kapan dia terbangun?


" Maaf aku ketiduran."


" Enggak masalah. Masih banyak waktu untuk memulai itu semua."


" Tan..aku boleh bertanya sesuatu."


" Tanyakan saja."


" Siapa wanita ini?" Aku menunjukan foto wanita beserta anak kecil dari galeri ponsel milikku.


Tristan tampak menghela napas berat.


Dia menatap foto itu cukup lama.


" Selalu begitu. Setiap aku akan memulai hidup baru, wanita itu selalu mengirim foto ini. Aku tidak pernah tahu dimana dia keberadaannya sekarang."


" Apa kamu pernah menikah?"


Bukannya menjawab pertanyaan ku, Tristan malah mengusap rambutku lembut. Mengecup pipiku mesra.


" Aku yakin kamu wanita baik, meski kamu tidak pernah mengenal masa laluku, Adita."


" Apa kamu percaya itu?"


" Ya. Aku yakin kita bisa membangun biduk rumah tangga dengan bahagia meski..."


" Meski..?"


" Meski suatu saat nanti wanita itu datang menghampiri kita."


" Jelaskan sedikit saja siapa wanita itu. Supaya aku tidak kaget jika nanti mendengar kebohongan yang mungkin menyakitkan untukku.


" Dulu... Aku pernah mencintai wanita itu. Nabila namanya.. Kami menikah. Coba tebak, apakah aku bahagia?"


" Jelas kamu bahagia. Bukankah itu wanita pujaanmu?"


" Iya... Tapi aku menemukannya sedang senam ranjang bersama pria lain."


" Kamu mengalami juga?"


" Ya... Kamu tahu rasanya? Sakit disini." Tristan menepuk dadanya.


" Yang lebih sakit lagi.. wanita itu hamil. Bahkan aku tidak tahu anak siapa yang di kandungnya."


" Apa kalian tidak melakukan tes DNA?"


" Untuk apa? Bahkan aku sudah kecewa dengan ibunya."


" Kamu boleh kecewa dengan ibunya, tapi melepas tanggung jawab tanpa mengetahui fakta sebenarnya sudah pasti itu salah."


" Iya.. benar apa yang kamu bilang. Tapi sejak aku menceraikan dia.. dia tidak pernah meminta apa pun dariku. Tapi dia selalu menghancurkan hidupku saat akan menikah dengan wanita lain. Malam menjelang kita menikah, aku begitu khawatir. Kamu tahu? Aku tidak tidur karena menunggu engkau memutuskan acara pernikahan kita."


" Tapi itu tidak akan pernah terjadi Tristan.. "


" Apa karena kamu sudah mencintaiku?"


" Aku sedang belajar Tristan. Dan kuharap kamu mampu memupuk benih-benih cintaku agar tumbuh subur."


Lega rasanya karena aku sudah mengetahui fakta sesunggunya Tristan ikut tertidur bersama ku. Ternyata dia begadang sebelum malam pernikahan kami

__ADS_1


__ADS_2