Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 34


__ADS_3

"Kalau orang berfikir jernih, pasti tidak pernah khilaf. Lagian apa sih untungnya melabrak lelaki seperti Dani? Apa untungnya?" Bentak Tristan.


Seumur pernikahan, tidak pernah ia marah sengeri ini. Nyaliku menciut dan memilih untuk masuk kedalam kamar.


Kutinggalkan Tristan di ruang tamu.


Namun..saat akan berjalan, ada cairan hangat yang mengalir membasahi pahaku.


" Darah...." Teriak ku panik.


" Mana?"


Aku menunjuk gamisku yang sudah basah.


Tristan langsung memapahku kedalam mobil.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit , Tristan menceramahi aku.


" Seharusnya kamu tidak perlu banyak pikiran, Adita. Pikirkan kesehatan calon bayi kita. Bukankah kamu tahu, jika ibu hamil itu harus rileks? Lalu kalau sudah seperti ini gimana? Kalau sampai janin itu...sial!" Tristan memukul stir mobil.


Aku tidak berani membela diriku. Yang kulakukan hanya menangis dan menangis. Aku menyesal karena sudah terlalu gegabah. Sok kuat nyatanya aku lemah.


Tristan membelah kemacetan di jalan raya. Sesekali membunyikan klakson agar pengguna jalan segera minggir.


" Hati-hati, Tan." Ucapku lemah.


Dengan penuh perjuangan akhirnya kami sampai di sebuah rumah sakit.


Tristan meminta perawat untuk datang membawa kursi roda.


Tristan takut jika aku berjalan nanti akan membawa dampak buruk bagi janin kami.


Aku pun melakukan pemeriksaan bersama Dokter kandungan.


" Kita beri obat, ya pak, buk. Mudah-mudahan janin ini masih bisa bertahan. Jangan terlalu banyak pikiran. Terkadang kita merasa kuat, tetapi janin didalam kita tidak sama dengan diri kita."


Setelah menebus obat, kami di perbolehkan pulang. Lagi-lagi aku tidak dibiarkan berjalan sendiri.


" Aku bisa berjalan sendiri, Tan."


" Jangan membantah,aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi denganmu dan janin yang kamu kandung." Bentak Tristan.


Sepertinya kesabaran Tristan sekarang sudah setipis tisu. Tidak ingin membantah, aku memilih untuk tidur. Mungkin pengaruh obat dari dokter yang kuminum.

__ADS_1


***


" Adita, bagaimana semua ini terjadi?"


Saat aku membuka mata, mama langsung memelukku.


" Maafin aku ya, ma. Sok kuat. Nyatanya aku lemah. Aku terlalu gegabah mikirin orang lain tanpa peduli pada janin yang ada di perut ku sekarang." Ucapku penuh penyesalan.


" Ini pelajaran penting untukmu ya, sayang. Ingat! Kalau kita hamil, kita itu gak sendiri lagi, tapi berdua. Ada nyawa yang harus kita jamin keselamatannya didalam perut kita. Kalau kita sembarangan, kalau kita celaka, maka yang didalam perut kita juga bisa ikut celaka. Satu lagi Adita, mintalah pendapat suami mu dalam bertindak." Nasihat mama lembut.


" Dit, mama suda bawa orang untuk sementara bekerja di rumah ini. Setidaknya sampai kamu benar-benar sehat dan kuat. Namanya Dewi. Mama sengaja pilih yang masih muda supaya kamu bisa lebih nyambing saat ngobrol. Selain itu kalau lebih muda usianya, kamu tidak akan sungkan untuk meminta tolong padanya."


" Terima kasih ya ma, sudah peduli dengan ku." Ucapku.


Sebenarnya aku kurang setuju mama memperkerjakan seorang gadis dirumah ini, meski tujuannya sangat baik. Salah satu alasannya adalah aku tidak ingin kehadiran Dewi malah merumitkan hubunganku dan Tristan. Tapi..melihat ketulusan mama, aku tidak tega untuk menyampaikan kegundahan hatiku.


Setelah dua hari dirumah, mama dan papa akhirnya izin pulang. Disinilah kehidupan drama di mulai.


Pagi ini aku melihat Tristan sudah tampil rapi. Ia bersiap hendak berangkat bekerja.


Pelan-pelan aku memperhatikan Dewi dan Tristan. Sebagai perempuan yang pernah kecewa, aku tidak ingin kecolongan untuk yang ke dua kali.


Aku bersembunyi di balik pintu, terdengar tawa canda antara Dewi dan Tristan. Apa mereka sudah saling mengenal hingga bisa sangat akrab sekali.


" Kalau mas sih semua suka. Cuma kaki meja yang gak suka." Sahut Tristan.


Mereka tertawa bersama membuat telingaku panas.


Dewi mengambil piring dan menuangkan nasi lalu memberikan pada Tristan.


" Ini semua tidak bisa didiamkan." Umpatku dalam hati.


Aku masuk ke area dapur. Dewi terkejut melihat kedatangan ku. Sekejap dia langsung berdiri.


Aku mengambil piring berisi nasi di hadapan Tristan, " bawa ini kebelakang." Perintahku pada Dewi.


Aku mengambil roti dan mengoleskan selai kedalamnya. Lalu menyuguhkan pada Tristan.


" Bukannya kamu tidak pernah sarapan nasi setiap pagi?" Ucapku dingin.


" Ehm... Iya.. lupa.. tadi aroma sayur ini membuat perutku keroncongan." Sahut Tristan.


Mendengar jawaban Tristan, ada rasa sakit. Aku kembali menarik roti dari hadapan Tristan dan membuangnya ke dalam tempat sampah.

__ADS_1


" Loh..kok dibuang, mbak?" Tanya Dewi.


Aku menatapnya tajam, tanpa kata ku tinggalkan mereka berdua.


Aku memilih masuk ke kamar. Menangis menjadi rutinitas ku setiap hari. Selama hamil, aku menjadi wanita yang cengeng dan otoriter. Aku bisa ngambek dan marah apabila Tristan tidak sependapat dengan pikiranku.


Aku benci pada Dewi. Dia seperti mencari perhatian pada Tristan. Dia melewati batas yang harus di kerjakan layaknya seorang pembantu.


Dia menggosok baju kerja Tristan, menyiapkan sarapan, bahkan berani duduk bersanding di meja makan juga berani mengisi piring Tristan.


" Aku tidak suka..huhuhuuuu.."


" Ada apa lagi, Adita? Setiap pagi selalu menangis. Apa yang salah?"


Tahu-tahu Tristan sudah berada di belakang ku.


" Ngomong saja jangan pakai nangis. Semuanya akan selesai jika di bicarakan baik -baik." Bujuknya lagi.


" Aku tidak suka pada Dewi." Teriakku.


" Sssttt.." Tristan menempelkan jari telunjuk di bibirku. " Jangan kencang - kencang ngomongnya. Tak enak kalau sampai Dewi dengar."


" Kamu bela Dewi?" Bentakku lagi.


Tristan meremas rambutnya, " aku dan Dewi tidak punya hubungan apa-apa, Adita. Dewi hanya anak teman papa di kampung. Dia butuh kerja makanya mama meminta Dewi disini buat bantuin kamu." Tristan mencoba menjelaskan .


" Harus gitu kalian tertawa, bercanda, sepatu kamu di bersihkan oleh ria, bahkan kamu yang tidak pernah sarapan pun..harus nurut sama dia. Itu sudah tidak masuk diakal, Tristan. Coba deh pikir baik-baik."


Tristan duduk disamping ranjang, " jadi kamu maunya gimana? Aku sudah terlambat, Adita." Tristan melirik jam yang ada di pergelangannya.


Aku yang masih emosi dan kesal 0ada Tristan seketika mengambil tas kerjanya dan mendorong Tristan dari kamar ini. " Ayo pergi...dan jangan pulang sebelum jam kantor habis." Dorongku kencang.


Setelah Tristan keluar, aku mengunci pintu kamar. Tidak ku hiraukan gedoran Tristan di luar. Tidak berapa lama, kulihat mobil keluar dari garasi. Itu artinya sekarang Tristan sudah berangkat kerja. Aku menangis sejadi jadinya. Saat ini aku hanya butuh orang yang perduli pada ku. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.


***


Setelah cukup puas melampiaskan kekesalan ku dengan menangis, pelan-pelan aku keluar kamar. Aku mau mengintip aktivitas Dewi.


Aku mencari Dewi seperti pencuri. Bahkan jalan saja sampai tidak menimbulkan suara. Didapur enggak ada, lalu dimana dia? Apa di belakang?


Aku memutuskan untuk melihat Dewi ke belakang tempat penjemuran baju.


" Astaghfirullah.....ya Allah..." Aku tidak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapanku. Benarkah ini?

__ADS_1


__ADS_2