Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 36


__ADS_3

" Sebentar lagi .." aku kegirangan membayangkan itu.


Aku tidak sabar menunggu dewi pulang. Hingga dari kejauhan, Dewi tampak kesusahan membawa barang-barang pesananku. " Memangnya enak." Aku mengejek dalam hati.


Dewi masuk dengan wajah yang masam.


Dia langsung menyusun belanjaan.


Aku pura-pura mau tidur kedalam kamar.


Padahal aku sedang memantaunya di kamar.


Satu...dua..tiga...


Yes! Aku bersorak kegirangan. Jika tidak ingat hamil mungkin aku sudah melompat -lompat.


Dewi memulai mengambil cela"a dalam milik Tristan, lalu mulai memeluknya dan menciumnya. Aku bergidik ngeri. Tidak kubayangkan baunya seperti apa. Setelah puas melakukan penyimpangan, dengan tangan jijik ia membuang kelantai pakaian dalam ku. Aku terkejut saat Dewi menginjak pakaian dalamku.


Dasar gila! Aku gregetan di buatnya. Ingin kusamperin si Dewi gila itu..tapi.. aku takut menghadapi kenekatannya.


" Lihat saja Dewi...sebentar lagi tamat riwayat mu." Aku mengumpat geram.


Aku memilih merebahkan badanku di ranjang empuk ini. Bisa gila jika aku kepikiran Dewi. Siapa sangka dia memiliki obsesi yang menyimpang.


" Tan, kamu pasti akan jijik jika mengetahui sebenarnya."


***


Mama dan papa sudah datang, aku mengabari tadi sore. Mereka harus tahu kelakuan Dewi.


Kami sedang bercengkrama di ruang keluarga. Ketawa ketiwi sambil menunggu Tristan pulang. Dengan pedenya Dewi ikut bergabung bersama kami. Meski geram, namun aku membuat suasana senatural mungkin.


Yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang juga.


Setelah Tristan mandi dan kami makan, aki memulai acara yan ku rencanakan sendiri.


" Ma, pa, juga kamu Tan. Maaf kalau nanti tersinggung dengan keputusan yang kubuat secara sepihak. Aku...ingin Dewi berhenti bekerja di rumah ini."


Mama dan papa tampak bingung. Tristan tidak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan ku.


" Apa yang membuat kamu begitu keberatan menerima dewi bekerja disini Adita?"


" Adita punya masa lalu kelam, ma. Sebagai suami aku menghormati keputusan yang dibuat oleh Adita."


Papa mengangguk kan kepala. Sementara mama masih tidak terima.


" Ada alasan lain?" Tanya mama lagi.


Sekilas aku melirik ke arah Dewi, kutu kupret yang menyebalkan. Dia madang wajah memelas.


" Mbak Adita, mengapa terlalu membenci Dewi? Salah dewi apa mbak?" Di mulau menyambar, air matanya meluncur bebas di wajahnya yang mulus.


" Dasar srigala berbulu domba." Aku membatin sendiri.

__ADS_1


Aku memberikan rekaman cctv pada mama.


" Apa ini?" Tanya mama tidak mengerti.


" Mungkin dengan bukti ini...mama bisa menerima keputusan ku."


" Hah..." Mama tampak tidak percaya pada video yang di tontonnya.


" Dari mana kamu mendapatkan video ini?" Tanya mama penasaran.


Tak ingin mati penasaran, Tristan merebut rekaman cctv itu dari tangan mama. Kini papa dan Tristan menonton bersama.


Aku tersenyum sinis pada Dewi. Dewi juga sepertinya penasaran pada video yang di tonton oleh mama papa juga Tristan.


" Memalukan." Maki papa.


" Aku setuju jika Dewi di berhentikan malam ini juga ma." Tristan menahan geram.


Hanya Dewi yang tampak kebingungan.


Mama memberikan rekaman cctv itu pafa Dewi, " lihat dewi!"


Dewi terlihat terkejut, ia menatapku tajam.


Aku tersenyum sinis.


" Jangan main-main denganku, Dewi." Bisikku pelan.


" Kemasi barang mu."


"Bu, dengarkan penjelasan saya dulu... Ini sua tidak benar.." Dewi bersujud di kaki ibu.


Ciih..dasar wanita ular. Pintar sekali dia bersandiwara.


" Maksud kamu? Menantu saya berbohong?" Selidik mama.


" Bu...tidak mungkin saya melakukan seperti rekaman cctv itu...mbak Dita pasti sudah mengeditnya." Dewi menatap ku tajam dengan lelehan air mata membasahi wajah mulusnya.


" Hello... Kamu nuduh aku berbohong?" Seketika emosiku memuncak mendengar tuduhan Dewi.


" Lalu kalau bukan akal-akalan mbak Adita, dari mana bisa ada rekaman cctv itu?" Tanya Dewi.


Aku tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Dewi.


" Memang rumah ini tidak ada cctv nya, tapi... Sejak kamu berniat merebut Tristan dan ingin mendepak saya dari rumah ini... Maka...saya memutuskan untuk memasang cctv secara sembunyi-sembunyi, Dewi."


" Hah? Benar begitu yang?" Tristan seperti tidak percaya mendengar fakta yang terjadi di rumah ini.


" Tan, aku ingin rumah tangga kita berjalan penuh dengan kedamaian. Dan dia...dia adalah penyusup yang tertangkap." Ujarku.


" Dewi, ibu tidak mau tahu. Segera kemasi barang-barang mu." Ucap mama dingin.


Sementara papa menemui mang Udin untuk mengantar Dewi pulang kampung.

__ADS_1


Dewi pergi kekamar untuk mengambil barangnya. Aku sengaja mengikutinya. Mulutku rasanya sudah gatal untuk mengejek kutu kupret satu ini.


" Bagaimana Dewi? Masih mau menantang Adita?" Tanyaku penuh kesombongan.


" Jangan bangga, sekarang ksmu boleh tertawa mbak. Tapi lihat saja...aku akan balas semuanya, mbak." Jawabnya ketus.


" Kamu masih punya nyali?"


" Saya tidak gentar melawan kamu, mbak. Daya hanya kalah satu langkah, tapi.. saya pastikan saya akan maju beberapa langkah di depan kamu, mbak. Terutama merebut mas Tristan dari kamu, mbak. Mas Tristan lebih cocok bersanding dengan saya, bukan dengan wanita seperti kamu mbak.."


" Buktikan Dewi.. buktikan! Dasar wanita murahan, yang mau dengan suami orang." Aku mendekatinya dan mencengkeram rahang Dewi.


" Lepaskan!" Dewi berusaha berontak.


Namun tenagaku jauh lebih kuat dibanding dengan tenaganya meski sekarang aku sedang mengandung.


" Jangan pernah bermain-main denganku, aku bisa ganas seperti singa dan bisa juga lembut seperti ibu peri. Tergantung dengan siapa aku berhadapan." Ku dorong Dewi hingga ia hampir terjatuh. Lalu ku tinggalkan ia. Aku menuju ruang tamu untuk menemui Tristan dan juga mama papa.


" Mana Dewi? Kok lama sekali?" Tristan celingak-celinguk menanti kedatangan kutu kupret.


" Sebentar lagi juga datang, Tan. Sabar sebentar ya.." aku menoleh kebelakang, hingga seraut wajah muring keluar dari kamar. " Itu dia." Tunjuk ku ke arah Dewi.


Dewi berjalan terseok-seok. Ia seperti enggan meninggalkan rumah ini.


" Dewi, ini uang sebagai pesangonmu selama tinggal disini. Ibu harap kamu tidak melakukan ini lagi jika bekerja di tempat orang lain." Nasihat mama pada Dewi.


" Maafkan Dewi ya buk.." Dewi terisak memeluk Mama.


" Tangisan buaya." Batinku dalam hati.


***


Drama Dewi sudah selesai. Mama dan papa sudah pulang.


Aku bernyanyi- nyanyi kecil.


" Riang banget sih kamu?" Tangan Tristan memeluk pinggangku saat aku masih membersihkan wajah.


" Apaan sih?" Aku sok jual mahal menghadapi Tristan.


" Kamu hebat deh hari ini." Puji Tristan sambil mengendus leherku.


" Dari dulu aku sudah hebat sayang..."


" Sombong.." ucap Tristan lagi.


"Ini konsepny apa sih? Ngendus-ngedus kayak gug*k deh.." candaku.


" Eh..suami sendiri dibilang kayak gug*k.."


Tristan menggelitik pinggangku hingga aku menjerit minta ampun karena merasa geli.


" Maaf Tan, aku bisa ngompol nanti." Ancamku.

__ADS_1


" Ngompol saja..." Ucapnya sambil menggendongku bak ank kecil.


Malam ini mood ku bagus sekali hingga aku tidak menolak untuk memanjakan Tristan.


__ADS_2