
Dan yang Tristan tahu, jika aku keluar dari rumah ini akan bernasib sama dengan mami, pada kenyataannya,jika aku keluar dari rumah ini, aku bisa membangun rumah yang lebih mewah dari rumah yang sekarang aku tempati.
" Kenapa diam? Takut jadi gelandangan?"
Aku membawa Farah dan segera berlari.
Tristan mengejar ku hingga terjadi tarik menarik antara ak dan Tristan memperebutkan Farah.
Karena ketakutan Farah menangis sekencang-kencangnya, namun itu semua tidak mengurangi tekad kami untuk mendapatkan Farah seutuhnya.
Hingga...dari kejauhan mobil papa dan mama memasuki halaman rumah ini. Melihat kami yang memperebutkan Farah, mami berlari kearah kami, dan segera menggendong Farah.
" Dasar orang tua gila...." bentak mama kepada kami berdua.
" Cup..cup.. sayang..." Mama masuk kedalam rumah sambil berusaha mendiamkan Farah. Papa menarik Tristan masuk. Sementara aku memilih untuk duduk di luar. Wajahku sudah sembab. Karena terlalu banyak menangis.
Cukup lama aku berdiam sendiri di luar. Hingga mama datang menghampiri aku.
" Kalian kenapa? Kalau ada problem sebaiknya dibicarakan baik-baik, bukan dengan cara kalian saling rebutan Farah. Kalau farah terkilir tangannya? Atau lebih parahnya lagi cedera? Kalian akan menyesal seumur hidup karena menyebabkan Farah cacat."
Aku kembali sesenggukan. Tidak bisa kubayangkan jika itu terjadi.
Mama mengusap rambutku lembut.
" Farah sudah tidur, kita masuk sekarang ya?" Mama menarik tanganku lembut.
Papa sedang menasihati Tristan. Aku duduk bersebrangan dengannya.
" Ayo cerita, apa masalah kalian?" Tanya papa.
Aku menunggu Tristan untuk berbicara lebih dulu. Namun ia tetap diam hingga papa bersuara kembali.
__ADS_1
" Kalian masih punya orang tua untuk menjadi penengah. Jika kalian sama-sama berego tinggi, maka papa dan mama akan membawa Farah tinggal bersama kami. Papa sudah tidak percaya kepada kalian untuk mengasuh dan mendidik Farah dengan baik. Farah itu masih bayi..masih kecil, ibarat sebuah kertas putih. Kitalah pemegang kendali terbesar, mau diapakan kertas itu, mau diberi warna apa kertas itu. Anak rusak sebagian karena orang tuanya. Dan papa tidak ingin itu terjadi pada cucu papa. Kebahagian Farah dan kesehatan Farah adalah yang utama saat ini buat papa.
" Pa.. " panggilku pelan. Aku ragu untuk mengadu pada papa mertuaku perihal Tristan.
" Ayo ceritakan... Jangan takut." Jawab papa lembut.
" Pa, apa wajar perempuan lain mencium lelaki yang sudah menikah..apa lagi sampai pergi ke diskotik dan memangku perempuan itu." Cicitku.
" Maksud kamu? Tristan dicium perempuan lain begitu?" Tanya papa terkejut.
" Iya pa, dan aku melihat dengan mata dan kepalaku. Perempuan itu sengaja bersikap lebih mesra kepada ayah Farah. Apa aku salah jika cemburu pa? Apa aku salah jika marah dan membentak ayah Farah, pa? Apa yang kulihat itu salah, pa. Seorang lelaki beristri dengan wanita single melakukan hal yang tidak lazim. Lalu Tristan tidak terima. Bahkan... Saat tugas ke luar kota, ayah Farah memangku perempuan itu.." aku menatap tajam mata Tristan, mungkin ia terkejut karena aku mengetahui tindak tanduknya.
" Kamu memfitnah aku?" Tristan tidak terima dengan perkataanku
" Apa kamu punya bukti?" Tanya papa bijak.
Aku pergi ke kamar tamu, ku geser lemari kosong lalu kuambil foto yang sudah ku cetak di selembar kertas.
" Ini buktinya,pa." Aku memberikan foto itu pada papa.
" Ya Allah.. Tristan..." Sontak mama bangun dan menampar ke dua pipi putranya.
Plak! Plak!
" Anak tidak tahu diri. Pantas saja istrimu marah." Bentak mama pada ayah Farah.
" Siapa pun istrinya akan marah jika menerima foto kamu seperti ini. Sudah sampai mana hubunganmu dengan wanita itu? Jawab jujur..."
Tristan menarik kertas itu dari mama. Ia menatapku lama sekali, lalu menghela napas berat.
" Dari mana ini? Kamu mengirim mata-mata?" Tanyanya dingin.
__ADS_1
" Jawab pertanyaan mama, sudah sejauh apa hubungan kalian? Kalau sampai kamu meniduri wanita sundel itu, mama pastikan kamu akan kehilangam hal mu atas Farah dan Adita." Ancam mama.
" Kamu tahu Tristan, berapa lama perjuangan mu untuk bisa mendapatkan cinta Adita? Berapa lama? Kamu yang memilih Adita sebagai pendamping mu, lalu kamu juga yang menyakitinya. Apa pernah papa mu memberikan ilmu seperti itu?" Tanya mama lagi.
" Tan, kalau papa iti lelaki yang jahat, mungkin sekarang mama mu sudah sakit-sakitan, mungkin mama mu tidak awet muda seperti ini. Istri itu cerminan suami." Nasihat papa pada anak lelakinya.
" Tristan bosan pada Adita pa ma.. cemburunya kuat sekali, dia juga terlalu sibuk mengurus Farah sampai lupa mengurus aku dan dirinya sendiri. Pa Tristan selalu memberikan uang bulanan yang fantastis, tapi lihat Adita, dia tidak ubahnya seperti pembantu. Coba kalau dia mau mempekerjakan orang di rumah ini.. mungkin aku tidak tertarik pada Alexa atau wsnita di luar sana.
" Tristan- Tristan.. seharusnya kamu bangga pada istrimu, nak. Dia hemat dan tidak royal. Dia sanggup mengurus buah hatinya dengan kedua tangannya. Dia berhasil mengurus Farah dengan baik. Farah cerdas di usianya sekarang. Rumah bersih, pakaian kamu rapi. Kamu beruntung, Tan. Kenapa mama bilang kamu beruntung? Karena banyak diluar sana wanita-wanita yang tidak sanggup mengurus anaknya sendiri. Semua di kerjakan oleh baby sister. Apa kamu mau wanita yang seperti itu?
Setiap wanita itu ada kekurangannya dan kelebihannya. Tidak sama. Sebagai kepala keluarga, kamu wajib mendukung kegiatan positif yang dilakukan istrimu, bukan melampiaskan pada wanita lain, Tan."
" Dan buat kamu, Adita. Cobalah berpenampilan lebih menarik. Farah memang butuh perhatian kita, tapi bayi besar berkumis juga tidak bisa diabaikan. Kamu harus belajar mengimbangi semuanya. Tetap jadi ibu yabg beautiful, dan juga smart. Jangan terlalu fokus nanti berantakan semuanya. Sekarang salinglah meminta maaf. Jangan pernah ada pikiran untuk bercerai." Ucap mama lagi.
" Dit, maaf ya.." Tristan mengulurkan tangannya.
" Aku juga minta maaf ya..." Ucapku.
Tristan memelukku erat. Nyaman banget rasanya di peluk suami sendiri.
" Jadi pelajaran buat kalian...jika ada permasalahan dan tidak bisa di selesaikan, coba cerita dengan orang tua." Pesan papa pada kami.
Karena kami berhasil damai, mama fan papa pamit izin pulang.
Tinggallah kami berdua.
" Dit, masak gih. Aku lapar." Tristan memegang perutnya.
Karena mood ku sudah membaik, akhirnya aku pun pergi kedapur unt6 memasak. Masak simple saja sayur bening bayam, dan sambal ayam. Salah satu makanan kesukaan Tristan.
Setelah drama panjang, sepertinya Tristan benaran lapar deh, buktinya dia lahap banget makannya.
__ADS_1
Selesai berberes semua aku memilih mandi. Teringat dengan ucapan mama, selain jadi ibu yang baik bagi Farah, aku juga harus menjadi istri yang baik bagi Tristan.
Sebagai seorang isteri kita harus bisa menyervis maya suami, perut suami juga ranjang suami. Bukan seperti itu?