Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 37


__ADS_3

Aku bernyanyi- nyanyi kecil.


" Riang banget sih kamu?" Tangan Tristan memeluk pinggangku saat aku masih membersihkan wajah.


" Apaan sih?" Aku sok jual mahal menghadapi Tristan.


" Kamu hebat deh hari ini." Puji Tristan sambil mengendus leherku.


" Dari dulu aku sudah hebat sayang..."


" Sombong.." ucap Tristan lagi.


"Ini konsepny apa sih? Ngendus-ngedus kayak gug*k deh.." candaku.


" Eh..suami sendiri dibilang kayak gug*k.."


Tristan menggelitik pinggangku hingga aku menjerit minta ampun karena merasa geli.


" Maaf Tan, aku bisa ngompol nanti." Ancamku.


" Ngompol saja..." Ucapnya sambil menggendongku bak ank kecil.


Malam ini mood ku bagus sekali hingga aku tidak menolak untuk memanjakan Tristan.


***


Seiring berjalannya waktu, kini aku menanti masa-masa mendebarkan.


Masa dimana aku akan mempertaruhkan seluruh jiwa dan ragaku. Dimana aku berjuang untuk melahirkan keturunan kami, berjuang untuk gelar sebagai ibu dan ayah. Pengalaman pertama yang membuatku menjadi cemas.


Seharusnya semua ini ku pelajari dari ibu kandungku, tapi takdir berkata lain. Mama mertua menggantikan peran ibu kandungku. Sedih sekali rasanya. Mami yang ku harap jadi panutan nyatanya tak peduli padaku.


Miris sekali nasibku. Untung saja masih ada mama mertua yang tidak pernah bosan membagi ilmu padaku.


Aku juga selalu mempelajari dari media sosial. Dan Insya Allah kami bisa melewati masa-masa menegangkan.


Sore ini langit tampak mendung, Tristan belum pulang bekerja. Aku merasakan celana da*am yang ku kenakan basah.


Aku segera mengeceknya ke kamar mandi. Ada bercak darah. Apakah ini pertanda aku akan melahirkan? Tapi aku belum merasa mulas.


Mencoba menghibur diri, aku mulai berkemas, memasukkan keperluanku dan calon bayiku ke dalam tas. Apa bila nanti sudah tiba waktunya, agat lebih muda di bawa. Aku memutar lagu slow dari ponselku, agar aku tidak terlalu panik. Aku ingin saat melahirkan nanti pikiranku rileks.


Menjelang magrib, aku mulai merasakan mulas. Namun masih jarang. Karena Tristan tidak kunjung pulang, aku mencoba menelponnya.


" Ada apa yang?" Terdengar suara Tristan diujung sana.


" Kamu dimana? Aku sudah merasa mulas, tapi belum terlalu sering."


" A- aku masih terjebak macet, yang. Gimana ya? Em.. aduh.. kamu masih kuat kan?" Terdengar suara panik Tristan.


" Tan.. jangan panik.. aku baik-baik saja. Aku hanya tanya kamu dimana."


" Gimana aku gak panik, kamu loh sudah mau melahirkan. Telpon mama saja ya,"


"Sama aja Tan.. mama pasti terkena macet juga, kan searah." Jelasku lagi.

__ADS_1


" Ya sudah.. kamu rileks santai tenangkan pikiran. Aku berusaha cepat sampai dirah. Jangan lupa kabari mama dan papa ya.."


" Hati-hati ya." Pesanku sambil menutup sambungan telepon.


Tidak lupa aku juga mengabari mama.


Seperti yang kulihat di media sosial. Aku berusaha banyak gerak, namun tetap hati-hati.


Percaya diri saja... Aku pasti mampu.


***


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Tristan belum juga menampakkan batang hidungnya.


Apakah jalanan memang macet? Di kepalaku mulai bermunculan fikiran -fikiran negatif.


Atau... jangan-jangan Tristan sedang check-in di hotel. Jika iya? Setega itukah Tristan?


" Ya Allah, Adita...jangan berfikir yang buruk tentang suami mu.." aku memukul kepalaku berkali-kali, tapi pelan. Kalau kuat-kuat bisa-bisa nanti aku amnesia, kalau amnesia, enak dong Tristan bisa selingkuh.


Ya ampun Dita - Dita.. bisa-bisanya masih berfikiran begitu.


Aku mencoba beristighfar..memohon ampun.. tidak lupa berdoa agar di beri kemudahan dan kelancaran saat persalinan yang sebentar lagi akan berlangsung.


Diluar halaman ada suara mobil. Aku mengintip dari balik horden di jendela kaca. Ternyata Tristan sudah pulang.


Sambil menahan nyeri, aku melangkah kedepan untuk membuka pintu.


Ada wajah khawatir yang terpancar.


Aku memeluknya, mencium aroma di bajunya. Wangi parfumnya masih sama hanya sedikit lebih kecut. Itu artinya.. Tristan memang benar-benar terjebak macet.


" Ngendus apa sih?" Tristan seperti tahu aku sedang curiga padanya.


Aku tersenyum kecil, sesekali meringis karena menahan nyeri yang luar biasa.


" Aku sempat mandi dulu enggak ya?" Tristan memintanya pendapat ku.


" Mandi saja yang bersih. Aku masih mau beberes bajumu." Sahutku sambil berjalan meninggalkannya.


Tertatih-tatih aku berjalan kekamar. Tristan mengikuti ku dari belakang.


Sesampainya aku dikamar Tristan langsung pergi kekamar mandi, aku memasukkan baju ganti Tristan kedalam tas.


Baru beberapa menit, Tristan sudah keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.


" Tumben cepat banget mandinya? Gak pakai ritual mandi kembang?" Aku menyindir Tristan yang mempunyai kebiasaan mandi lama.


" Ini emergency sayang.."


Aku segera memberikan pakaian ganti padanya.


" Sudah siap, berangkat sekarang?" Tanya Tristan padaku.


" Kayanya iya, deh. Sakitnya sudah sering datang."

__ADS_1


Tristan membawa tas dan perlengkapan persalinan. Kami memilih klinik terdekat saja.


Rencananya aku ingin melahirkan secara normal. Dan kata dokter, Alhamdulillah..aku bisa melakukan itu.


***


Kami sudah tiba di klinik. Sebelumnya aku sudah membuat janji dengan dokternya. Aku disambut ramah dengan suster.


" Duh.. sebentar lagi sudah mau lounching.." ucap salah satu suster.


" Iya sus.. Alhamdulillah.." sahutku.


" Bagaimana perasaanya?"


" Yang pasti deg-degan..." Aku mencoba untuk rileks, meski sepandai apa pun aku menyamar, tetap saja aku gugup.


Seiring berjalannya waktu, jam di dinding sudah menunjukkan angka tiga dini hari.


Mama dan papa sudah datang. Tristan sesekali mengusap keringat yang membanjiri wajahku.


" Ya Allah..sakit sekali rasanya.." ingin rasanya aku menangis.


" Masih kuat yang? Atau kita operasi saja. Aku tidak tega melihatmu." Bergetar suara Tristan.


Aku menatapnya..matanya sudah memerah.


" Setelah melihat perjuanganku hari ini, kuharap..kamu bisa menjaga kesetiann itu untukku."


Tristan mengusap kepalaku lembut. Terbayang wajah mami di benakku.


" Mi.. seharusnya..mami ada disini menemaniku.. menemaniku aku memberikan gelar ayah pada suamiku." Tangisku pecah membuat Tristan semakin panik. Dia memanggil mama unyuk masuk.


" Jangan menangis, Adita. Rileks.. ada mama disini. Kami yakin kamu akan kuat demi dedek bayi." Ucap mama mertua lembut.


Aku merasakan gemetar yang hebat padak kaki ku. Bahkan aku sudah tidak mampu untuk berjalan. Mama menyuruh Tristan untuk memanggil Dokter.


Aku berbaring, dan pembukaan sudah lengkap. Dokter dan suster mulai bersiap.


" Bu Adita, ayo buka kakinya yang lebar. Pak Tristan boleh berada diatas kepala Bu Adita. Mungkin Bu adita bisa berpegangan pada pak Tristan.


Aku seperti memasang kuda-kuda sebelum memulai mengejan. Ku kaitkan tanganku diatas leher Tristan, entahlah apa yang dirasakan olehnya. Yang jelas tidak sebanding dengan rasa sakit yang kualami.


" Kita siap ya buk." Ucap Dokter memberi aba-aba.


Aku memulai mengejan, kudengar ucapan dokter, " ayo buk..yang kuat.. sedikit lagi.. dedeknya sudah kelihatan."


" Ayo sayang..." Bisik Tristan di telingaku memberi semangat.


Aku menarik napas lalu menghembuskan dan ...


Terdengar suara tangisan bayi memenuhi ruangan ini.


Tristan mencium pipiku, " kamu hebat, sayang. Kamu berhasil. Dedek bayi sudah keluar." Ucap Tristan bahagia.


Aku terdiam..masih meresapi sisa-sisa perjuangan tadi.

__ADS_1


Jadi ..inikah rasanya melahirkan anak?


__ADS_2