Cinta Untuk Adita

Cinta Untuk Adita
Cinta Untuk Adita 11


__ADS_3

Papi sedikit tertawa, " bukannya Dokter Alfan menyukaimu?"


Uhuuuuk.....aku terbatuk kala papi menyebut nama Dokter Alfan.


" Kemarin Dokter Alfan mau melamar kamu?" Papi mulai mendesakku.


" Dokter Alfan bukan lelaki baik pi." Jawabku jengah.


" Darimana kamu tahu?" Tanya papi lagi.


" Dokter Alfan dan keluarganya tidak bisa menerima status ku yang janda pi." Jawabku jujur.


Tangan papi mengepal, sepertinya emosi mendengar ucapanku perihal Dokter Alfan.


" Papi gak usah memikirkan Dokter Alfan, nanti papi sakit. Kalau Dokter Alfan gak bisa nerima janda, berarti Dokter Alfan bukan jodohku. Bukan begitu pi?"


" Iya sayang."


Ah. Alhamdulillah ku panjatkan pada Tuhan ku, karena papi mulai paham apa yang sedang kurasakan.


***


Pagi sudah datang, mentari mulai membagikan cahaya terangnya. Aku sudah bersiap untuk berangkat kerja. Semua persiapan ayah telah selesai ku lakukan. Makanan siang nanti untuk papipun sudah ku siapkan.


" Cantiknya anak papi."


Pujian papi membuat aku seperti terbang ke langit. Hehehe...


"Pi, aku berangkat kerja y. Baik-baik dirumah. Jangan lupa makan ya, pi."


" Iya."


Setelah berpamitan aku pun mulai meluncur menggunakan motor matic kesayangan ku.


Setelah menempuh sekitar dua puluh menit akhirnya aku sampai juga di tempat kerja. Ah. Rindu rasanya setelah beberapa tahun vakum bekerja, akhirnya aku bisa kembali mengepakkan sayap. Aku ingin menjadi wanita karir seperti impian ku dulu.


Sebelum masuk kedalam kantor, aku sengaja mengirim pesan singkat terlebih dahulu pada Tristan, (Pak bos, aku uda di depan nih. Kira-kira aku harus lapor sama siapa?)


( Langsung keruangan saya, ya.) Tristan langsung membalas pesanku.


Tanpa membuang waktu aku segera masuk ke kantor menuju ruangan Tristan.


Aku membaca papan nama di depan pintu. Ada nama Tristan terpasang disana.


Aku tersenyum sendiri saat melihat Tristan masih betah berada diruangan ini.


Tok...tok..tok...


" Permisi." Ucapku sopan.


" Masuk." Jawab Tristan tanpa melihat siapa yang ada didepan pintu.


Aku berjalan ke arah Tristan dengan rasa percaya diri.


Tristan masih sibuk dengan berkas yang ada di hadapannya.


" Masih sibuk ya?" Aku masih berdiri di depan meja Tristan.

__ADS_1


Ia mengangkat wajahnya. Wajah itu mematung tanpa berkedip menatap ku, Tristan juga sempat lupa menutup mulutnya. Hingga ia kulihat persis seperti sapi. Hehehe...


" Eh..." Aku mengibaskan tanganku di depan wajahnya. Jika bukan Tristan bosnya, mana berani aku seperti itu.


" Adita...gila, pangling banget aku lihat penampilan kamu."


" Heheeh...jujur banget sih." Godaku pada Tristan.


" Penampilan baru ya? Sejak kapan?" Tanya Tristan penasaran.


" Sudahlah gak penting banget sih. Eh, tapi aku tetap di terima kerja kan dengan penampilan seperti ini?"


"Iyalah, skill lu itu berguna banget di perusahaan. Eh, tapi peraturan di perusahaan ini lu harus kerja sama bareng tim." Ucap Tristan.


" Iya gue ngerti." Ucapku sok gaul.


"Yuk gue antar keruang kerja lu sama tim lu."


Kami berjalan beriringan menuju ruang kerjaku. Tristan menjelaskan bahwa dalam setiap tim hanya ada dua orang. Dan aku gak boleh menolak tim yang akan di pasangkan denganku nanti.


" Ini ruangan lu, tim lu belum datang. Gue lanjut kerja. Kalau ada apa-apa lu bisa tinggal kabari gue ya."


Tristan meninggalkan aku di ruangan ini. Aku menatap meja kerja disampingku yang masih kosong. Diatas meja ada sebuah nama yang tertulis ' Dani Hariansyah '.


Nama yang tidak asing. Tapi... Apa itu dia? Ah. Kenapa harus teringat sama dia sih?


Belum pulih kesadaran ku, pintu ruangan kantor ini terbuka. Sosok lelaki yang ku kenal muncul dari balik pintu.


" Adita..?"


Dan ternyata dia adalah Dani, mantan suamiku yang berselingkuh dengan mami kandungku dan sekarang sudah menikah dan akan segera punya anak.


" Kamu sakit Dit?" Tanya mas Dani sok perduli padaku. Tangannya ingin menyentuh keningku.


" Stop! Jangan sentuh aku." Hardik ku pada mas Dani.


Ups! Aku menutup mulutku. Reflek!


Mungkinkah aku masih menyimpan rasa dendam pada mas Dani? Atau aku yang belum move on?


Mas Dani mundur beberapa langkah. Ia mencoba menjauh dariku. Ia duduk di ruangannya.


Kami sama-sama diam. Suasana hening, kami sibuk dengan pikiran masing-masing.


Kriet!


Pintu ruangan ini kembali terbuka, Tristan datang keruangan ini.


" Hei-hei...kok pada diam?" Suara Tristan memecah keheningan di ruangan ini.


" Eh, pak Tristan... Saya.. mau.."


" Jangan bilang kamu mau minta pindah." Tristan memotong perkataanku. Ia seperti mbah dukun yang bisa membaca pikiran manusia.


" Kalau memang Bu Adita mau minta gabung ke Tim yang lain, silahkan! Saya tidak keberatan kok." Ucap


" Enggak bisa gitu dong, Dan. Kalian itu cocok banget disatukan dalam tim." Ucap Tristan antusias.

__ADS_1


Aku kembali terduduk lesu. Apa aku harus resign dari sini? Tapi zaman sekarang mencari pekerjaan itu sulit sekali.


" Sekarang gini deh, aku kasih waktu sebulan buat kalian untuk saling belajar bekerja sama. Kalau dalam sebulan gak bisa klop, oke aku yang ngalah." Ujar Tristan mengakhiri perdebatan diantara kami.


Tristan meninggalkan aku dan mas Dani.


Suasana kembali menjadi kikuk.


" Ehm.." hanya terdengar suara deheman dari mas Dani. Dan aku tidak perduli.


Aku mulai bekerja sesuai dengan kemampuanku, begitu pun dengan mas Dani.


Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel dari ponsel mas Dani. Sudah deringan ke tiga, tapi mas Dani hanya memandang ponsel tersebut.


" Berisik. Di jawab dong!" Ucapku sinis.


Entah mengapa hati dan mulut tidak sinkron. Kalau beginikan aku jadi ketagian kalau masih cemburu.


Akhirnya mas Dani memjawab telepon dari seseorang. Bicaranya sangat pelan, sehingga aku tidak bisa mendengar percakapan mereka.


Yang tertangkap Indra pendengaranku adalah saat ia menyebut nama Azizah. Siapa Azizah? Apakah mami sudah melahirkan? Pikiranku sibuk berkelana kesana kemari.


Mas Dani sudah selesai menelpon. Dari wajahnya dia tampak sumringah. Apakah pernikahannya dengan mami bahagia?


" Dit.. Dita!" Panggil mas Dani.


" Eh... I- iya mas." Ucapku gugup.


Mas Dani tercengang mendengar aku menyebut namanya persis beberapa tahun silam.


" A-ada apa?" Aku berubah jutek. Aku tidak ingin lelaki penghianat ini menjadi gede rasa.


" Kita di panggil ke ruang pak Tristan." Ucap mas Dani sambil berkemas-kemas.


" Iya, saya tahu." Balasku dengan cepat.


" Kalau kamu tahu, kok di panggil pak Tristan diam saja?" Mas Dani menyindirku dengan senyum manisnya. Detik berikutnya dia sudah meninggalkan ku disini. Hanya aroma parfum mas Dani yang masih tertinggal disini. Aroma itu masih sama seperti saat aku masih hidup bersamanya. Beberapa kenangan mulai merasuk kedalam pikiranku. Tidak ingin larut dalam masa lalu aku memukul kepalaku dua kali sambil bergumam sendiri. " Bangun Dita, dia suami mami mu!"


Setelah membereskan semua peralatan kerja di meja, aku segera menyusul mas Dani keruangan Tristan. Ada apa ya? Hatiku sibuk bertanya-tanya sendiri.


Tok..tok..tok..


Aku mengetuk pintu ruang Tristan.


" Masuk.."


Aku segera masuk dan duduk di samping mas Dani.


" Begini Dita, tadi saya sudah bicara sama Dani, kita mendapat klien di kota Semarang. Mereka membutuhkan jasa kita untuk membuat sebuah iklan yang bagus. Jadi saya berniat mengirim kalian berdua kesana. Bagaimana? Kalian setujukan?"


" Hanya berdua?" Lagi-lagi aku mengeluh. Padahal ini adalah hari pertama aku bekerja.


" Iya, Dita. Tim yang lain juga sedang menghadapi klien lain. Kamu kenapa sih sama Dani? Kalian sudah kenal? Atau...kalian ada masalah serius sehingga kamu begitu berat berpasangan dengan Dani." Wajah Tristan mulai sedikit berubah. Sepertinya ia mulai kesal menghadapi sikapku yang seperti anak-anak. Harusnya aku bisa bekerja secara profesional, mas Dani hanya bagian kisah masa lalu yang tidak perlu di bahas lagi.


" Dit, kamu setujukan?"


Kira-kira dita setuju enggak ya pergi berdua saja dengan mantan suaminya?

__ADS_1


Yuk follow akun aku dan jangan lupa tinggalin jejak like dan komen


__ADS_2