
"Ayo... Kita berangkat sekarang.." teriak Tristan.
Kami mulai berjalan ke arah bus dan memilih tempat masing-masing.
Netraku dan Tristan bertemu pandang. Namun secepat kilat, ia membuang pandangannya.
Sakit rasanya melihat sikap Tristan terhadapku. Jadi selama ini aku salah menilai Tristan.
Aku duduk sendiri sedangkan Tristan duduk bersama Rere persis di bangku sebelahku.
Rere menyenderkan kepalanya di bahu Tristan. Semesra itu mereka?
Api cemburu seperti ingin meledak didadaku.
Apa aku mulai jatuh cinta pada Tristan?
Sepanjang perjalanan aku mendengar gelak tawa Tristan dan Rere. Mereka terlihat bahagia. Sesekali aku mencuri pandang ke arah mereka. Tampak oleh netraku, Tristan sedang menyuapi cake ke mulut Rere. Sejauh apa hubungan mereka?
Sumpah! Aku menyesal karena mau ikut dalam acara kantor ini. Jika aku tahu ini membosankan tentu aku memilih untuk di rumah saja. Tidur mungkin lebih baik dari pada menonton orang pacaran.
Untuk mengusir rasa suntuk, aku memasang headset di telinga. Tujuannya adalah agar aku tidak mendengar tawa renyah dari mereka berdua.
Lagu dari jingga band mengalun manja di telingaku. Aku mencoba memejamkan mata, tapi.. malah air mata yang bicara. Sedikah aku atas sikap Rere dan Tristan? Tega sekali mereka padaku. " Tristan.. apa kamu sudah lupa rasanya malam itu? Meski singkat aku cukup menikmati. Lalu sekarang dengan bangganya kamu memeluk wanita lain yang notabene sebagai sahabatku sendiri. Tristan..mulai detik ini.. hari ini... Aku membencimu. Aku akan membuang semua rasa yang pernah ada diantara kita." Gerutuku dalam hati.
" Pi..lelaki yang kuanggap baik, ternyata adalah sebuah pisau. Aku belum menemukan lelaki sebaik engkau, pi."
Sial! Merarapi nasib, air mataku justru semakin deras mengalir. Bahkan dadaku terasa sesak karena menahan derita itu sendirian.
Untuk menyembunyikan tangisan, aku sengaja menutup wajahku dengan jaket. Betapa malunya aku jika nanti Tristan memergoki aku menangis. Bisa gede rasa dia nanti.
" Nangis?"
Suara itu... Secepat kilat aku membuka mata. Jaket mana jaket ajaibku?
" Kenapa nangis?" Tristan dengan santainya duduk disampingku.
__ADS_1
" Dasar buaya." Sindirku pelan.
" Apa?"
" Apa sih?" Bentakku. Sengaja suara kukuatkan agar Rere bangun dan memergoki kekasihnya sedang mengganggu wanita lain.
" Pelankan suaramu! Mengganggu orang tidur saja." Tristan mulai ngedumel.
" Ini.." Tristan memberikan tisu padaku.
" Aku gak butuh."
" Dasar wanita aneh." Tristan mengusap wajahku yang basah.
" Lain kali kalau lagi sedih itu cerita, jangan nangis sendirian. Nanti kesambet baru tahu rasa."
" Bukan urusanmu. Dan sampai kapan pun tidak ada hubungannya denganmu." Ucapku sewot.
Tristan meraih wajahku, ditatapnya mataku, membuat aku menjadi salah tingkah. " Jangan terlalu jutek padaku, nanti kamu bisa jatuh cinta." Bisiknya di depan wajahku." Setelah itu dia meninggalkanku dalam kesendirian.
Jika tidak ada orang ingin rasanya aku memukulnya dengan sepatu yang kupakai. Biat dia tahu rasanya sakit itu apa.
Setelah mendengar aba-aba dari Tristan bahwa jam delapan malam nanti kami harus sudah ngumpul sini. Jangan sampai ada yang terlambat.
***
Kami memasuki kamar masing-masing.
Hebat sekali Tristan, berapa jumlah uang yang dibayar untuk acara ini. Sebenarnya ini acara apa sih? Aku sendiri tidak tahu..
Aku memakai pakaian dengan warna sesuai tema, yaitu warna biru. Sebenarnya ini warna kesukaan ku.
Tidak lupa memakai Jaket agar tubuhku tetap hangat.
Selesai merias wajah aku langsung keluar dari kamar untuk bergabung dengan teman-teman yang lain.
__ADS_1
Melihat dekorasi ruangan ini...seperti acara lamaran. Apa Tristan dan Rere akan bertunangan? Secepat itu?
Otakku mulai di penuhi pikiran-pikiran negatif. Lelah rasanya. Tristan dan Rere bagai raja dan ratu... Mereka berdua menjadi pusat perhatian. Bahkan tepuk tangan menyambut kedatangan mereka berdua. Mau tidak mau aku ikut-ikutan riang menyambut mereka berdua, padahal sesungguhnya hatiku sedang nelangsa. " Gak harus gini caranya Tristan.. terlalu banget sih kamu jadi orang " gumam batinku nelangsa.
" Terima kasih.. saya ucapkan kepada rekan-rekan kerja yang sudah berkenan hadir diacara kami ini. Disini juga saya ingin menyampaikan bahwa saya ingin melamar seorang gadis."
Kan benar, Tristan akan melamar Rere..
Aku sudah tidak fokus mendengar Tristan berbicara, yang ada di fikiranku Tristan akan segwra bertunangan dengan Rere. Dan hebatnya Rere berhasil merebut hati Tristan dalam beberapa waktu saja.
Mataku mulai mengembun. Ada rasa tidak rela melihat Tristan dan Rere akan segera bersanding di pelaminan.
Tidak ingin mendengar lebih lama perkataan Tristan didepan, aku memasang headset ditelinga. Suara musik di telingaku lebih kencang dari suara Tristan. Aku pun menunduk, sambil memainkan ponsel. Menjelajah dunia maya mungkin bisa membuat aku terhibur.
Entah kapan inti acaranya, Tristan dan Rere malah asyik berdansa, sementara teman-teman yang lain ada juga yang turun ikut-ikutan berdansa bareng Tristan dan Rere. Ada juga sebagian sedang mengisi kampung tengah.
Sedang aku disini tidak ingin apa-apa. Padahal dari siang perutku belum diisi sebutir nasi. Melihat Tristan dan rere bahagia membuat aku kehilangan semangat untuk mengerjakan hal lain-lain.
Karena merasa tidak berguna sama sekali akhirnya aku memilih untuk masuk kedalam kamar. Bahkan sekarang tidak ada yang benar-benar perduli padaku.
Aku menangis terisak dalam kamar sepi ini. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku jika setelah dewasa aku akan merasa kesepian. Papi...aku rindu pi! Benar adanya, merindui orang yang telah tiada itu sakitnya tiada tandingannya. Dan aku mengalami itu sekarang. Entah karena lelah akhirnya aku tertidur dalam lelap.
***
Suara berisik dari ponsel ku yang berdering membuat aku terjaga dari tidurku.
Ada panggilan telepon dari Tristan, mau apa lagi sih orang ini?
Dengan rasa malas yang tinggi aku menekan tombol hijau dan terdengarlah suara Tristan marah-marah. ( Dita, kamu kemana aja? Kamu gak lihat jam? Saya tunggu kamu di tempat acara disamping danau. Saya kasih waktu 10 menit.) Sambungan telepon langsung di putus sepihak oleh Tristan.
Jam di ponselku sudah menunjukkan pukul delapan siang. Ya ampun..mimpi apa sih aku? Sampai bangun kesiangan gini. Cepat ku ambil handuk dan bergegas mandi. Tidak ada ritual mandi lama-lama yang sering kulakukan. Pagi ini semuanya kulakukan secara ekspres termasuk merias wajah. Hari ini juga aku lupa harus memakai baju warna apa, karena tidak ingin ribet, aku memilih memakai gamis dengan jilbab senada. Kuambil tas dan segera keluar dari kamar.
Aku berlari pontang panting ke arah danau yang dimaksud oleh Tristan tadi.
Ternyata semua orang sudah berkumpul disana menggunakan seragam warna hijau. Ya ampun... Kenapa bisa lupa sih?
__ADS_1
Lalu aku memandang kakiku sendiri, aku masih mengenakan sandal hotel.
Ya Allah.... Apa yang terjadi denganku?