
Apa kalian tidak melakukan tes DNA?"
" Untuk apa? Bahkan aku sudah kecewa dengan ibunya."
" Kamu boleh kecewa dengan ibunya, tapi melepas tanggung jawab tanpa mengetahui fakta sebenarnya sudah pasti itu salah."
" Iya.. benar apa yang kamu bilang. Tapi sejak aku menceraikan dia.. dia tidak pernah meminta apa pun dariku. Tapi dia selalu menghancurkan hidupku saat akan menikah dengan wanita lain. Malam menjelang kita menikah, aku begitu khawatir. Kamu tahu? Aku tidak tidur karena menunggu engkau memutuskan acara pernikahan kita."
" Tapi itu tidak akan pernah terjadi Tristan.. "
" Apa karena kamu sudah mencintaiku?"
" Aku sedang belajar Tristan. Dan kuharap kamu mampu memupuk benih-benih cintaku agar tumbuh subur."
Lega rasanya karena aku sudah mengetahui fakta sesunggunya Tristan ikut tertidur bersama ku. Ternyata dia begadang sebelum malam pernikahan kami.
Pagi sudah datang, aku segera membersihkan diri meskipun malam pertama kami terlewatkan begitu saja.
***
Aku dan Tristan tidak kemana-mana hari ini. Kami hanya bermalas-malasan di kamar hotel sambil bermain media sosial.
Aku dan Tristan sama-sama mengambil cuti selama satu minggu.
Karena malam pertama terlewatkan begitu saja jadi aku dan Tristan sepakat untuk menggantinya ketika kami memang benar-benar fit dan sehat. ( Untuk malam pertama kita skip aja ya...)
***
Setelah menghabiskan beberapa malam bersama Tristan di hotel, akhirnya hari ini kami memutuskan untuk pulang.
Tujuan pertama adalah kerumah mama mertua atau kerumah orang tua Tristan.
Seperti biasa, kami disambut dengan penuh keramahan.
" Dit, mama sudah masak untuk kita makan siang nanti."
" Loh, memangnya Tristan ngabarin kalau bakal pulang hari ini?" Aku merasa tidak enak jadinya karena sudah merepotkan mama.
" Iya. Memangnya Tristan gak bilang?" Mama malah balik bertanya.
Aku melotot kearah Tristan yang sedang santai bermain ponsel di sofa.
" Mama juga dulu begitu loh, Dit. Neneknya Tristan malah mengundang banyak orang untuk makan bersama." Ucap mama lagi.
" Oh iya? Seru dong ma." Aku sangat antusias mendengar cerita mama.
" Mama malu banget pada saat itu.
Apa lagi mama dan papa adalah korban perjodohan. Iya kan pa?" Mama menyenggol tangan papa yang sedang bermain ponsel juga.
" Hehe... Iya, Dit. Kami ini korban perjodohan." Sambung papa.
" Resep awet rumah tangganya apa, ma?" Tanyaku penasaran.
" Jalin komunikasi yang baik dengan pasangan, Dit. Dan kuncinya adalah percaya. Kalau kita tidak percaya dengan pasangan kita, maka dengan mudah penyusup datang memporak-porandakan kapal yang sedang bersandar."
Aku manggut-manggut mendengar nasihat mama. Begitu bijaksana mama mertuaku. Sunggu jauh berbeda dengan mami yang malah menghancurkan rumah tangga putrinya sendiri.
__ADS_1
Tuh kan aku jadi membandingkan antara mama dan mami. Mama adalah masa depanku dan mami adalah masa lalu ku.
Karena jam makan siang sudah tiba, akhirnya kami menikmati masakan mama.
Ternyata selain cantik mama juga pandai memasak.
" Ma, aku mau dong belajar masak sama mama."
" Boleh.. boleh banget sayang. Justru mama senang sekali jika kamu punya keinginan seperti itu. Kita boleh pakai asisten rumah tangga, tapi untuk urusan perut tetap kita yang handle." Ucap mama membuat aku semakin semangat.
" Dit, mama mu dulu juga tidak pandai memasak. Bahkan mama pernah masak sayur asam tapi malah mama beri ketumbar. Kamu bayangin rasanya seperti apa, Dit?" Mama tertawa sendiri mengenang masa-masa sulit bersama papa.
" Tapi.. papa adalah orang yang sangat luar biasa. Papa tidak pernah mencela masakan mama. Itulah yang membuat mama semakin semangat untuk belajar memasak." Mama mengusap matanya yang basah.
Papa terlihat mengusap bahu mama lembut. " Jangan sedih..semua sudah terlewati." Ucap papa menghibur mama.
" Kamu tahu Dit? Mama yatim piatu sejak kecil. Mama hidup dan besar di panti asuhan. Mama tidak perna bermimpi bisa berada di posisi ini."
" Ma.. mama adalah perempuan pilihan. Allah yakin mama mampu." Ucapku lagi
Selesai makan aku memberesi meja makan ini. Tidak lupa juga untuk mencuci piringnya.
***
Sore ini mama dan papa bersiap untuk pergi ke acara kumpul-kumpul bareng teman-teman lamanya.
Rasanya mataku adem banget lihat kemesraan mama dan papa.
" Tan, mudah-mudahan kita bisa seperti mama dan papa ya..."
" Amin..." Ucap Tristan sambil mengusap pipi ku lembut.
" Siapa?" Tanya Tristan penasaran karena aku membiarkan panggilan itu sampai mati sendiri.
" Hei." Tristan mengguncang bahuku.
" Ada apa, Tan?" Aku bertanya lesu.
Tristan meraih ponsel di tanganku saat ada panggilan kembali.
" Mami.."
" Iya.." jawabku lesu.
" Ngomong gih! Aku sudah tekan tombol hijau." Tristan cekikikan.
Aku meninju bahu Tristan pelan. Sebal. Karena Tristan sudah iseng padaku.
" Halo mi?"
( Adita, bisa kerumah sebentar?) Terdengar lesu suara mami di ujung telepon.
" Bisa, mi. Aku segera kesana sekarang." Sahutku lagi.
Panggilan langsung di matikan sepihak oleh mami.
" Mami kenapa, yang?" Tanya Tristan penasaran.
__ADS_1
" Disuruh kerumah mami. Ada apa ya?"
" Ya sudah siap-siap sekarang. Kita kerumah mami. Barangkali ada yang penting." Tristan langsung mengambil kunci mobil.
Kami berdua pun langsung menuju rumah kontrakan mami.
***
Belum sempat aku mengucapkan salam, mami sudah menyambut kami didepan pintu. Mami memeluk dan mencium pipiku.
" Happy sekali pengantin baru.." ucap mami sambil mempersilahkan kami masuk.
Anaya yang tadinya di gendong mami, kini mengangkat tangannya minta di gendong olehku. Anaya semakin lengket denganku sejak beberapa minggu tinggal bersamaku.
Mami menyuguhkan minuman dan makanan. Ada buah juga.
" Mami sehat?" Tanyaku.
" Iya.." jawab mami singkat.
" Mami ada yang mau di omongin?"
" Ehm... Ada Dit. Begini..." Mami diam sejenak. Sepertinya ragu untuk berbicara.
" Ngomong saja ,mi." Aku mencoba untuk membuat mami rileks.
" Anu.. papanya Anaya ngajak tinggal bareng lagi." Ucap mami.
Bak mendengar petir disiang hari.
" Mami mau?"
" Anaya butuh papanya Dit." Sahut mami menunduk.
" Anaya atau mami yang butuh? Apa mami tidak takut jika haris kembali membangun rumah tangga bersama bajingan itu? Ingat mi, bajingan ity hampir membuat mami cedera."
Tristan menyentuh tanganku sebagai kode agar aku tidak terlalu emosi.
" Seharusnya bajingan itu tidak bisa seenaknya bisa menghirup udata bebas." Sindirku lagi.
Mami hanya menunduk sedih. Hingga membuat aku dan Tristan menjadi serba salah.
" Dita, kalau mami memang mau kembali sama Dani, kamu tidak ada hak untuk melarang." Tristan berusaha mencairkan suasana sore ini.
" Tan, bagaimana bisa aku melepas mami hidup serumah kembali dengan mami? Jika itu terjadi aku mau Tristan menandatangani surat perjanjian bermaterai. Aku hanya tidak ingin mami mati konyol di tangan bajingan itu, mi."
" Tapi Dani sudah berjanji tidak akan mengulangi lagi." Bela mami lagi.
" Mi, aku tetap tidak setuju." Aku tetap pada pendirian ku. Karena mami hanya diam, akhirnya aku dan Tristan memilih pulang. Ku tinggalkan mami dan Anaya begitu saja.
***
" Dita, mami berhak untuk bahagia. Kamu gak boleh jadi orang yang mengatur hidup mami."
" Aku hanya ingin mami panjang umur Tan. Hanya itu saja. Dani bukan lelaki baik-baik. Dan aku tidak rela, Tan. "
" Tidak rela karena kamu belum move on dari cintanya Dani?"
__ADS_1
.