
"Kamu suka?"
Aku memeluk Tristan erat. Berjinjit lalu mencium pipi suamiku ini.
" Terima kasih, sayang..."
Tristan lalu menunjukkan sebuah map padaku.
" Ambillah!"
Kuambil map itu, lalu ku buka. Ada namaku tertera disana.
" Apa ini?"
" Buatmu. Pegang dan simpan. Rumah ini aku persembahkan untukmu dan anak kita kelak."
" Kamu serius?"
Tristan memelukku erat. " I love you, baby.."
***
" Iya, ma. Sesuai kesepakatan tadi pagi. Kami memutuskan untuk menginap dirumah ini." Tristan sedang menerima telepon dari mama.
" Hahaha... Urusan baju gampang, ma. Kami bisa beli yang baru. Pengantin baru, baju baru perabot baru pokoknya aku ingin semua baru. Dan aku ingin memulai hidup baru tanpa masa lalu."
Aku sengaja menguping pembicaraan ibu dan anak. Rasa kepo ku sangat tinggi.
Dan malam ini kami memutuskan untuk memesan makanan menggunakan aplikasi. Perlengkapan memasak memang sudah lengkap, namun bahan-bahan masakan belum ada sebuah pun.
Pesanan sudah datang. Kami menikmati ayam bakar utuh. Dan Tristan makan dengan lahap.
" Lapar apa doyan, Tan?"
Tristan hanya tertawa menanggapi ucapanku. Keringat membanjirinya wajahnya. Bibirnya pun terlihat merah merona.
Aku mengambil tisu dan mulai mengusap keringat yang membanjiri wajah suamiku itu.
" Heran." Ucap Tristan.
" Apanya yang heran?" Aku menyuapkan potongan ayam dan sambal kedalam mulut.
" Kamu gak kepedasan?"
Aku menggeleng, " enggak. Emang pedas kali ya?"
" Pedas, tapi nikmat. Apa lagi makannya di temani istri."
Dasar Tristan, sudah kepedasan pun masih saja sempat-sempatnya menggombal.
Ayam utuh yang kami pesan langsung habis. Aku membereskan semua sisa makan kami.
Terlihat Tristan berlari terburu-buru kekamar mandi.
" Kenapa, Tan?"
Bahkan menjawab pertanyaan ku saja dia tidak sempat.
Setelah berkali- kali melihatnya bolak-balik ke kamar mandi, aku mulai khawatir dengan keadaannya.
Dia keluar dari kamar mandi dengan wajah merah padam. Badannya membungkuk, tangannya memegang perut, dan wajahnya seperti menahan rasa sakit.
" Kamu kenapa, Tan?"
" Mules, sakit banget perutnya." Ucapnya lemas.
" Jangan-jangan kamu gak tahan ya makan pedas?" Aku mulai menduga-duga.
" Ini pertama kalinya, Dit."
Aku menuntun Tristan untuk berbaring di ranjang.
__ADS_1
" Kalau kamu gak pernah makan sambal, kenapa nekat sih?" Ujung-ujungnya aku ngedumel juga sama lelaki ini.
Dia hanya diam. Aku menutup separuh tubuhnya menggunakan selimut.
" Yang.. sakit banget perutnya." Tristan tampak mengadu padaku.
" Aku telepon mama ya?"
Tristan hanya mengangguk. Tidak berdaya.
Aku menelpon mama, terdengar suara mama panik karena putra kesayangannya tiba-tiba saja sakit. Dan telepon ditutup oleh mama.
Ada perasaan lega karena mama akan segera meluncur kesini.
Aku hanya menunggui Tristan di bibir ranjang. " Sabar ya, sebentar lagi mama akan datang kesini."
Tidak ada sahutan hingga membuatku khawatir.
Tiba-tiba saja mama sudah masuk kerumah ini. Itu artinya mama punya kunci duplikat.
" Tristan kenapa, Dit?" Tanya mama khawatir.
" Tristan bolak balik ke kamar mandi ma. Sepertinya sakit perut karena sudah menyantap sambal."
" Ya ampun Tristan... Kamu ini ya.. kenapa sih gak jujur saja sama istrimu? Kenapa harus maksa banget makan sambal. Padahal kamu tahu sendiri akibatnya." Mama mulai mengomel.
Kulihat mama membuka tas ransel berwarna hitam. Berbagai obat di keluarkan.
" Lihat Dit, suamimu itu sebenarnya badannya ringkih. Lihat demi dia mama harus sedia obat sebanyak ini di rumah.
Mama memberi aku beberapa buah obat, dan segera aku memberikan pada Tristan.
" Dit, nanti kamu mama beri catatan,ya. Supaya kamu tahu apa saja yang suamimu tidak bisa makan." Ucap mama.
" Iya ma. Maaf ya ma.. Dita belum bisa menjadi istri yang baik." Aku merasa menyesal karena telah membuat Tristan sakit. Andai aku tahu tentu aku tidak akan memesan makanan yang tidak bisa dimakan oleh suamiku itu.
" Ini bukan salah kamu. ini salah suamimu yang ngeyelan banget." Mama menjewer telinga putra kesayangannya itu.
Setelah merasa baikan, mama dan papa izin pulang. Kini tinggal kami berdua di rumah ini.
" Bagaimana Tan? Sudah enakan?"
" Belum." Jawabnya lemah.
" Kalau belum kenapa mama di bolehkan pulang sih?"
" Ya biar saja mama pulang. Ini waktunya kita berduaan biar cepat punya Tristan junior." Tristan menarik tanganku hingga aku jatuh menindih tubuhnya.
" Kita masih muda, waktunya untuk bersenang-senang." Tristan mematikan lampu kamar hinga suasana kamar ini menjadi remang remang. Tanpa membuang waktu, Tristan mencumbuku hingga kami melakukan senam ranjang. Ibadah halal suami istri.
***
Kami sudah tiba di kantor. Terlihat seorang pria dengan berpenampilan rapi menunggu di depan ruang kerja Tristan.
Aku segera masuk keruang kerjaku. Sementara Tristan masuk bersama pria itu.
" Apa pria itu yang akan melamar kerja disini menggantikan Dani?" Batinku.
Saat sedang fokus mengerjakan tugas, Tristan datang bersama pria itu.
" Dit, ini rekan kerja kamu." Tristan masuk ke ruang kerjaku dengan wajah masam.
Aku tersenyum ramah. Pria itu mengulurkan tangan, dan aku menyambutnya.
" Devan." Ia menyebutkan namanya.
" Adita. Selamat bergabung." Ucapku ramah.
Tristan meninggalkan aku begitu saja. Ada apa dengannya?"
Kami mulai bekerja. Ternyata Devan adalah orang yang kocak. Sambil bekerja sesekali ia melawak hingga mengundang gelak tawa diantara kami.
__ADS_1
Jam bekerja sudah berakhir. Aku memberesi perlengkapan yang ada di atas meja.
" Dit, yuk makan bareng." Devan dengan santainya mengajak aku untuk makan bareng.
Belum sempat aku menjawab, " ehem..."
Tristan sudah berdiri didepan pintu.
Devan, terlihat cuek." Bagaimana Dit?" Devan memberikan tangannya untuk ku raih.
Aku menatap Tristan membutuhkan pertolongannya. Tristan berjalan kearahku, menarik tanganku lembut, " ayo sayang...kita makan siang."
" Maaf ya Devan, saya sudah janji mau makan siang dengan suami saya."
Seketika Devan melongo mendengar kata-kata ku. Sengaja aku menekankan kata suami.
" Sebelum mengajak seorang wanita, pastikan dulu dia single." Ucap Tristan pada Devan.
Kami sudah sampai di kantin dan memesan makanan dan minuman.
" Aku gak suka kamu terlalu akrab dengan Devan." Ucap Tristan sinis.
" Alasannya?" Aku menyeruput es teh manis yang ada di hadapanku.
" Lama-lama
kalian bisa cinlok."
" Kamu cemburu?"
" Iya.. " jawabnya singkat.
" Lihat aku..." Aku meraih wajah Tristan namun ia menolak.
" Tan.. " aku memaksa Tristan untuk melihatku.
" Besok kamu resign saja. Mungkin jadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang tepat.
" Cemburu itu boleh, tapi jangan cemburu buta. Itu tidak baik." Nasihatku.
Makanan sudah datang untuk sesaat kami menyantap dalam keheningan. Tidak sehangat semalam.
Ah. Segini rumitnya kah cinta?
Dari kejauhan Devan memperhatikan kami. Entah apa maksud lelaki itu.
" Tan, yuk ke kantor!" Ajakku.
" Masih ada waktu santai beberapa menit lagi,yang." Terlihat Tristan ogah-ogahan menanggapi ajakan ku.
" Bosan disini." Aku beralasan.
Mau tidak mau setelah membayar makanan kami, aku dan Tristan pergi dari kantin.
Kami santai sejenak di ruang Tristan sambil menunggu waktu zuhur tiba.
" Yang, kayaknya aku salah besar deh nerima Devan kerja disini."
" Hah? Salah gimana maksudnya?"
" Kayaknya Devan sengaja deh menarik perhatian kamu."
Aku tertawa terbahak-bahak menghadapi kecemburuan Tristan.
" Ya ampun..gak siap-siap bahas Devan mulu. Eh,ada yang harus kamu tahu. Kalau memang iya Devan ada rasa sama aku, ya itu urusan dia. Bukan urusan aku. Yang paling penting hatiku uda aku persembahkan buat kamu. Aku setia loh orangnya."
" Serius?" Tanya Tristan tidak percaya.
Cup!
Aku mengecup bibir Tristan. Pelan namun memabukkan buat kami berdua.
__ADS_1