
" Papi istirahat ya, Dita keluar sebentar cari mami. Malam ini Dita akan bawa mami kerumah ini."
Papi mengangguk bahagia.
Setelah papi tidur, aku mengeluarkan motor maticku. Tak lupa memakai jaket dan helm aku mulai menyusuri alun-alun taman kota ini.
" Ya Allah...pertemukan aku dengan mami." Doa ku dalam hati.
Namun setelah dua jam berkeliling, aku tidak juga melihat batang hidung mami. Aku sudah merasa lelah. Mataku pun mulai berat. Jika bukan karena papi, ingin rasanya aku pulang dan tidur. Namun.. aku tidak sanggup menghadapi kerewelan papi besok pagi.
Untuk mengusir rasa ngantuk, aku memesan satu gelas kopi pahit. Kulirik jam yang ada di pergelangan tanganku.
Sudah pukul sepuluh, pikiranku makin kalut. Dimana aku bisa menemukan mami?
Aku hampir putus asa, saat mataku melihat sosok itu.
Mami...
" Mami...." Aku berusaha mengejar perempuan paruh baya yang sedang masuk kedalam mobil.
Namun usahaku kali ini sia-sia. Mami sudah berlalu pergi tanpa mendengar panggilanku.
Tak ingin kehilangan jejak, aku mengambil langkah seribu bersama sepeda motor matic milikku.
Bak pembalap yang sedang beradu di sirkuit. Aku tidak perduli jika nanti akan berbahaya bagi diriku sendiri.
Alhamdulillah aku bisa mengikuti mobil yang membawa mami tadi.
Mobil itu memasuki kawasan perumahan elit. Rumah bak istana seperti rumah kami dulu. Pintu gerbang rumah itu sudah ditutup oleh pak satpam. Aku tirun dari sepda motor, berlari ke arah pintu gerbang.
" Mami..." Panggilku.
" Mami..." Teriakku lebih kencang.
Tapi sayangnya mami tidak mendengar suaraku.
" Pak, pak satpam.." panggilku.
Pak satpam datang menghampiriku, " ada apa dik?"
" Pak, tolong bukain pintu gerbangnya! Saya mau ketemu mami."
" Adik sudah buat janji?"
Aku menggeleng lemah.
" Pak, tolong bilangin ke mami, Adita anaknya mau ketemu."
" Maaf dik, sudah malam. Biasa tuan melarang saya untuk menerima tamu diatas jam sepuluh malam."
" Tapi pak..."
Pak satpam itu pergi meninggalkan aku yang terdiam berdiri di depan gerbang yang tertutup.
Sirna harapan ku untuk bertemu dengan mami. Dengan langkah lunglai aku meninggalkan rumah mami.
" Pi, maafin aku.. aku belum bisa menepati janjiku." Aku menangis sendiri di atas sepeda motorku yang melaju di jalanan aspal.
Tidak lagi kurasakan dinginnya malam ini. Tidak ada juga ketakutanku membelah jalanan gelap gulita.
" Pi, semua demi papi." Jerit batinku pilu.
Gerimis mulai turun saat aku sudah tiba dirumah. Dadaku terasa sesak, mengingat perjuanganku hari ini.
Ku buka jaket dan helm, aku duduk bersandar melepas penat yang menggantung di bahu.
Aku menangis tanpa suara.
" Allah...aku lelah." Jeritku dalam hati.
" Eeeeeeee."
Papi... Aku langsung berlari kekamar papi,
" Ada apa pi?" Aku mulai memeriksa Pampers papi, ternyata sudah penuh.
Tanpa rasa malu dan jijik aku mulai mengganti dengan pampers yang baru.
__ADS_1
Tak lupa aku memberikan air putih pada papi.
Papi menatapku dalam, aku mengerti arti tatapannya.
" Pi, maafin aku, aku belum bisa menepati janjiku. Tapi aku janji akan membawa mami kerumah ini."
Papi mengangguk lesu. Kemudian papi melanjutkan tidurnya lagi.
Aku memilih untuk tidur. Tubuhku sudah terasa letih.
***
Adzan subuh sudah berkumandang, setelah menunaikan dua rakaat, aku memulai aktivitas ku. Mengurus keperluan papi.
Setelah selesai mengurus papi, aku berpamitan pada papi, " pi, doakan aku ya."
Dengan tekad yang mantap, aku kembali kerumah mami. Mudah-mudahan hari ini aku bernasib baik bisa bertemu dengan mami.
Aku sudah tiba di depan rumah mami, pintu gerbang itu masih tertutup rapat.
Ku pinggirkan sepeda motorku, bagai orang gila aku berdiri di depan pintu gerbang berharap mami keluar dari rumah.
Cukup lama aku menunggu si empunya rumah untuk keluar. Tepat pukul delapan, aku melihat mas Dani keluar dari rumah tanpa mama.
Kerja apa sekarang mas Dani? Sejak bersama mami, mengapa mas Dani lebih tampan? Apa aku sudah gagal menjadi istri idaman mas Dani, hingga dia lebih tertarik dengan mami.
Mas Dani masuk kedalam mobil, aku berdiri di depan pintu gerbang. Berharap mas Dani melihatku. Demi papi aku rela menurunkan harga diriku. Demi papi, aku rela kembali berbicara dengan pria penghianat.
Mobil mas Dani mulai melaju. Aku masih berdiri di depan gerbang yang terbuka. Kaca mobil yang gelap membuatku tidak tahu apa yang terjadi di dalam.
Mobil sudah keluar, pintu gerbang sudah tertutup. Ternyata mas Dani tidak mau mengenalku lagi. Bahkan pak satpam membiarkanku tetap berdiri disini.
Aku menatap istana itu, mataku mulai berkaca-kaca. " Jangan nangis..."
Aku mencoba menguatkan hatiku.
" Adita!"
Suara panggilan itu mengejutkan ku.
" Ngapain kamu disini?" Tanya mas Dani.
" Untuk apa?" Tanya mas Dani lagi.
" Papi sakit."
" Lalu?"
Aku menatap lelaki yang ada di hadapanku.
" Papi ingin bertemu mami." Ucapku jujur.
" Boleh aku bertemu dengan mami?" Tanyaku lagi.
Tanpa banyak bicara lagi mas Dani membukakan pintu gerbang.
" Masuk."
Atas izin mas dani akhirnya kaki ku melangkah mengikuti mas Dani.
Mas Dani masuk kedalam rumah, aku hanya berdiri gelisah menanti kedatangan mami.
" Sayang..."
Aku mendengar mas Dani memanggil mami dengan sebutan sayang. Seromatis itukah hubungan mami dan mas Dani?
" Ada apa sayang?"
Itu suara mami,
" Loh kok belum berangkat?" Tanya mami pada mas Dani.
" Ada yang mau ketemu." Ucap mas Dani.
Setelah itu aku hanya mendengar derap langkah mendekat.
Jantungku berdebar-debar, aku sampai bingung dengan perasaanku sendiri.
__ADS_1
" Adita?" Mami terkejut melihat aku ada di istananya.
" Mami mimpi?" Ia seperti tidak percaya dengan apa yang dilihat.
Mami mencubit pipinya sendiri.
" Aowwww...sakit."
Detik berikutnya mami sudah memelukku.
" Adita...mami rindu!" Ucap mami sambil mencium pipiku berkali-kali.
" Kita masuk ya." Ajak mami padaku.
" Maaf mi, aku tidak bisa lama-lama." Aku menolak ajakan mami.
" Kenapa? Kita sarapan bareng-bareng ya?"
" Papi sakit."
" Sakit? Sakit apa?" Tanya mami.
" Maksud kedatanganku kesini mau mengajak mami untuk melihat keadaan papi. Sebentar saja, papi sering ngambek tidak mau makan dan minum obat jika aku tidak berhasil membawa mami kehadapan papi."
Aku melihat keraguan diwajah mami. Beliau menatap wajah mas Dani, seperti kebingungan.
" Tolong aku mi!" Aku menghiba dihadapan mami ku sendiri.
" Dan, tolong izinkan sebentar saja aku mengajak mami kerumah. Aku butuh mami, Dan." Air mata ku mulai turun satu persatu.
Aku mulai lelah menghadapi situasi seperti ini.
" Aku antar ya, sayang." Ucap Dani.
Telingaku terasa panas mendengar kemesraan diantara mereka berdua.
Mami mengangguk.
" Ini alamat rumahku, aku duluan saja ya. Kasian papi jika di tinggal lama-lama."
Aku meninggalkan rumah mami. Ku laju sepeda motor ku menuju rumah.
Entahlah aku tidak tahu lagi dengan diriku sendiri. Bahkan rasa cemburu masih begitu besar di hati melihat hubungan mami dan mas Dani yang begitu romantis.
Tapi ada sedikit kelegaan di hati karena sudah berhasil bertemu dengan mami.
***
Aku sudah tiba dirumah, papi masih ngambek. Masih tidak mau makan dan minum obat. Kesabaran ku benar-benar di uji.
Auu tidak sabaran menunggu mami segera tiba..
Hingga telingaku mendengar seseorang mengucapkan salam, " assalamu'alaikum.."
Segera aku berlari untuk membuka pintu.
Ada mami yang tampak tampil anggun dengan baju gamis sederhana dan kini rambutnya sudah tertutupi oleh hijab.
Penampilan yang berbeda pada saat di rumah tadi.
Aku terpesona dengan kecantikan mami.
" Dit..." Suara mami membuyarkan lamunanku.
" Ehm.. masuk mi." Aku mempersilahkan mami masuk.
Lelaki penghianat itu ikut masuk meski aku tak menyuruhnya.
" Dimana papi?" Tanya mama.
" Ada dikamar, ma." Aku mengajak mami ke kamar papi.
Aku membuka pintu, tampak papi sedang terbaring lemah di ranjang.
" Mas.." ucap mami sedih.
Mami menutup mulutnya, tak percaya dengan kondisi papi.
__ADS_1
" Kenapa papi bisa begini?"
Yuk tinggalin jejak di kolom komentar ya...