
" Hanya berdua?" Lagi-lagi aku mengeluh. Padahal ini adalah hari pertama aku bekerja.
" Iya, Dita. Tim yang lain juga sedang menghadapi klien lain. Kamu kenapa sih sama Dani? Kalian sudah kenal? Atau...kalian ada masalah serius sehingga kamu begitu berat berpasangan dengan Dani." Wajah Tristan mulai sedikit berubah. Sepertinya ia mulai kesal menghadapi sikapku yang seperti anak-anak. Harusnya aku bisa bekerja secara profesional, mas Dani hanya bagian kisah masa lalu yang tidak perlu di bahas lagi.
" Dit, kamu setujukan?" Tanya Tristan dengan suara yang naik satu oktaf.
Aku melirik mas Dani. Dia diam saja, bahkan wajahnya kini menunduk. Apa dia takut aku membongkar kisah masa lalu kami?
" Dita?" Panggil Tristan tidak sabaran.
Aku hanya mengangguk, mulutku terasa berat untuk mengucapkan kata iya.
" Oke good, sekarang kalian boleh pulang. Silahkan berkemas, ini tiket pesawatnya. Saya mau kalian pergi bersama dan pulang bersama. Lerja dengan baik, jika kalian berhasil membuat klien puas, saya akan sediakan tiket wisata buat kalian." Pesan Tristan.
Aku hanya mengangguk lemah. Tidak seperti dulu bersemangat dan bersorak gembira saat bersama Meli dan kawan-kawan yang lain.
Aku dan mas Dani keluar dari ruangan Tristan.
Aku masuk kedalam lift, saat pintu mulai tertutup bisa-bisanya mas Dani masuk. Kini kami berdua didalam lift.
" Adita, besok kita bertemu di bandara. Jangan sampai telat." Pesan mas Dani.
Aku hanya diam, mulutku malas untuk terbuka. Tapi hatiku sibuk berbicara. Andai dulu kita masih menikah, pasti senang sekali bekerja dalam satu tim. Apalagi akan dapat bonus wisata, sudah pasti aku akan berusaha lebih maksimal lagi.
Tapi kini? Apa yang akan aku perjuangkan tidak ada artinya.
Kami berjalan beriringan keluar dari kantor. Aku bersiap pergi bersama motor maticku. Sementara mas Dani berdiri mematung. Entah apa yang dipikirkan.
Saat akan melaju, " Dita, hati-hati." Teriak mas Dani.
Memang dasarnya aku masih sakit hati, jadi aku tidak perduli pada ucapannya.
Aku tidak perduli pada setiap perhatiannya kecilnya. Aku benci kamu mas, titik!
***
Aku bernapas lega karena sudah sampai dirumah. Hari ini terasa melelahkan. Setelah masuk kedalam rumah, aku bukannya langsung mandi, tapi malah duduk di sofa ruang tamu.
" Kenapa harus mas Dani sih?" Gumamku dalam hati.
" Memangnya gak ada laki-laki lain cocok untuk kerja satu tim sama aku?"
" Dit, sudah pulang? Kok gak langsung mandi?" Tanya papi keheranan.
" Bentar lqgi, pi. Dita masih capek banget. Oh iya pi, besok Dita mau ke Semarang, mau ketemu klien."
__ADS_1
" Jauh banget Dit, sama siapa?"
" Sama mas Dani." Jawabku jujur.
" Dani mana?"
" Mantan suami Dita, pi."
" Hah? Dani suami mami mu?" Tanya papi tidak percaya.
" Iya pi.." jawabku lelah.
" Kamu kerja sama dia?"
" Satu tim pi." Ucapku lagi.
" Lalu kamu mau?"
" Twrus Dita harus resign pi? Dita suka sama pekerjaan ini pi."
" Tapi apa kamu bisa belerja secara profesional? Berat banget Dit, kerja dengan orang yang pernah ada dalam hidup kita."
" Dita akan berusaha pi. Dita pasti bisa. Dita ingin buktikan ke lelaki sampah itu, jika Dita adalah perempuan yang hebat dan kuat yang tidak pantas untuk disakiti dan di selingkuhi."
Papi hanya manggut-manggut mendengar ucapanku yang sedikit sok yes. Pada faktanya aku terluka dengan kenyataan ini. Apa tang di bilang papi memang benar, tidak mudah bekerja dengan orang yang punya masa lalu. Karena belum apa-apa saja, sedikit demi sedikit aku mulai berandai-andai jika kami tidak bercerai. Ih.. amit-amit jangan sampai aku jatuh cinta lagi dengan lelaki brengsek seperti mas Dani.
***
" Jaga diri baik-baik ya , Dit. Papi percaya kamu mampu bekerja secara profesional." Pesan papi pagi ini.
Aku memeluk papi erat. Berat rasanya meninggalkan papi beberapa hari hanya sendiri dirumah.
Tapi aku sidah mempersiapkan lauk pauk buat papi. Semuanya sudah kusimpan di kulkas agar papi lebih mudah saatau makan. Tinggal memanaskan saja.
Aku berangkat menggunakan taksi online. Setelah menempuh hampir empat puluh menit akhirnya aku sudah tiba di bandara.
Mas Dani sedang duduk manis menunggu jadwal keberangkatan kami. Aku lebih memilih duduk menjauh darinya. Aku rasa itu lebih baik.
***
Setelah terbang beberapa saat, akhirnya kami sudah tiba di Semarang. Kami di jemput oleh supir yang di sewa langsung oleh Tristan. Tristan memang bos yang the best. Dia tidak ingin kami kesusahan saat berada di kota orang. Sebagai balas budinya kami juga harus bekerja dengan baik agar mendapat hasil yang memuaskan.
" Sudah sampai di hotel, pak , ibu. Kamar sudah di pesan. Ibu sama bapak hanya tinggal meminta kunci saja sama resepsionis hotel." Ucap pak supir.
Aku sedikit bingung dengan status pak supir. Beliau bukan sekedar supir pribadi Tristan. Bisa jadi beliau adalah orang kepercayaan Tristan. Tidak ambil pusing, aku ingin segera tiba di kamar. Badanku sudah terasa letih sekali.
__ADS_1
Kami memasuki kamar hotel masing-masing setelah mendapat kunci dari resepsionis. Aku berjalan lebih dulu, sementara mas Dani berjalan di belakangku. Dan.. ini dia kamarku yang bertuliskan nomor 56 dan disamping kamarku adalah kamar mas Dani yang bertuliskan nomor 57.
" Kalau butuh sesuatu aku ada di kamar sebelah." Ucap mas Dani.
Aku hanya menoleh sekilas lalu meninggalkannya tanpa melihat lagi.
Aku menutup pintu kamar hotel, tak lupa menguncinya. Meski aku janda, aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpaku. Cukup sekali aku menerima penghianatan yang menyakitkan dan hampir meruntuhkan duniaku.
Baru saja aku selesai mandi, ponselku berbunyi. Ada nama papi di layar ponsel. Segera aku memakai baju. Saat akan menekan tombol hijau, panggilan papi berhenti. Ah. Sudah ada tujuh panggilan tidak terjawab dari papi. Buru-buru aku menelepon papi. Pasti papi sekarang sedang cemas.
Tidak butuh waktu lama, suara papi langsung terdengar di ujung telepon.
( Kenapa lama banget sih angkat telepon papi?) Terdengar suara kesal di ujung telepon.
( Maaf papi, aku baru saja selesai mandi.)
( Kamu baik-baik sajakan?)
( Iya papi...)
( Jaga diri baik-baik, jangan lupa kunci pintunya ya.) Pesan papi. Setelah itu sambungan telepon di matikan.
Huh. Selalu begitu. Padahal masih banyak yang ingin aku tanyakan, tapi papi dengan seenaknya langsung menekan tombol merah gerutu ku dalam hati.
Sepi.. hening.. mengapa selalu begitu? Kapan kebahagiaan menghampiriku?
Sedang apa lelaki yang ada disamping kamar ini?
Please Dita! Berhenti memikirkan dia. Dia itu cuma masa lalu kamu. Kamu pantas bahagia. Lagi-lagi aku mengetok kepalaku. Bisa benjol kepalaku jika setiap memikirkan dia harus kena getok pikirku sendiri.
Entah karena terlalu lelah meratapi nasib akhirnya rasa ngantuk datang menyerang
Aku tertidur lelap hingga pagi datang menyapa.
***
Pukul enam pagi aku sudah mandi. Aku sudah bersiap untuk bertemu klien pagi ini. Sesekali aku membetulkan hijabku. Bagaimana pun ini adalah tender besar yang harus di perjuangkan agar Tristan, bos kami yang paling baik hati itu bisa tersenyum puas Dan tidak segan-segan untuk memberikan bonus pada kami karyawannya ini.
Tok..tok..tok..
Pintu kamar di ketuk. Sudah pasti itu mas Dani.
Dengan berjalan sedikit malas aku membuka pintu.
Taraaa.....
__ADS_1
Hayo... kira-kira wajah siapa yang ada di balik pintu?