
Karena ini acara informal, aku memilih jeans yang tidak terlalu santai kemudian kupadukan dengan kemeja yang lagi ngetrend sekarang. Tidak lupa jilbab warna senada bertengger menutupi kepalaku. Aku juga merias wajah dengan riasan sederhana, namun tetap tampil segar.
Merasa sudah puas dengan penampilanku, aku segera keluar dari kamar untuk menemui Tristan yang sedang menunggu di ruang tamu.
" Ya ampun..malah tidur." Aku tertawa cekikikan. Karena merasa tidak tega, aku membiarkan Tristan tidur. Aku duduk disampingnya sambil bermain ponsel.
Butuh kesabaran sekitar dua puluh menit agar Tristan bangun sendiri. Ia mengucek-ngucek matanya.
Dan saat netra kami bertemu tiba-tiba, " Hah!" Tristan terlonjak kaget.
" Ada apa?"
" Ini bidadari siapa yang lepas disini?"
Aku memukul lengannya, heran bangun tidur aja bisa bercanda.
" Dasar aneh." Gumam ku pelan.
" Are you ready, baby... Let's go honey..." Ia bangkit dari duduknya .
Setelah mengunci pintu dengan benar, kami segera pergi menuju rumah Tristan.
" Jam berapa sih sekarang?"
" Sudah jam 6 lebih seperampat."
" Kenapa gak bangunin aku sih?" Sambil menyetir Tristan mengecek ponselnya.
" Mama sudah menelpon sepuluh kali dan mengirim pesan singkat sebanyak 10 kali juga." Ucapnya lagi. Sepertinya ia galau kalau sudah perihal mamanya.
" Aku gak tega aja..kayaknya kamu capek banget. Lagian aku gak dengar ponselmu berbunyi."
" Iya, mode silent. Lupa." Ia cengengesan.
Setelah lima belas menit akhirnya kami tiba di rumah Tristan, aku disambut oleh keramahan Bu Ramita.
Beliau memelukku layaknya seseorang yang sudah kenal dekat.
" Kok lama banget sih, nduk? Ibu sudah berkali-kali nelpon tidak di angkat juga. Lain kali ibu minta nomor kamu jadi biar mudah menghubunginya."
" Iya bu, Tristan tadi tidur dulu. Saya mau bangunin gak tega." Ucapku sambil melirik Tristan.
" Bosan mama nunggu bidadari dandan." Tristan berusaha membela dirinya.
" Halah kamu jangan banyak alasan. Kamu aja sering begadang main game." Sindir mamanya.
Sebagai perempuan kami sama-sama tidak terima bila dandannya seorang wanita dianggap lama dan membosankan.
" Yuk masuk! Kita shalat dulu ya.. habis itu baru makan." Sambung Bu Ramita sambil menggandeng tanganku.
Kami segera menuju ruang shalat setelah berwudhu. Kami shalat berjamaah di rumah itu. Tristan menjadi imam kami.
Ada rasa tidak percaya jika Tristan mampu mengimami shalat. Suaranya yang merdu membuat aku menjadi terharu. Dan pandanganku terhadap lelaki ini, aku terpesona padanya. Aku mulai membandingkan antara mas Dani dan Tristan, setahun menikah dengan mas Dani, dia tidak pernah marah jika aku mengenakan pakaian terbuka, ia juga tidak pernah solat apalagi sampe menjadi imam shalat di dalam rumah tangga kami.
__ADS_1
Selesai shalat, Bu Ramita langsung menggiring kami ke meja makan. Menu spesial dengan berbagai macam tersusun rapi di atas meja.
" Ayo Dit, silahkan di cobain masakan mama."
Aku sedikit kikuk dengan pengucapan mama yang di ucapkan oleh Bu Ramita.
" Jangan malu-malu Dit. Tuh lihat Tristan makannya lahap banget." Bu Ramita menunjuk ke arah Tristan, sontak Tristan tersenyum malu.
" Habis masakan mama juara." Ucap Tristan sambil mengangkat kedua jempol tangannya.
Kami menyantap hidangan makan malam ini penuh kenikmatan yang luar biasa. Aku juga tidak merasa canggung lagi berada di tengah-tengah keluarga Tristan.
Makan malam sudah selesai. Aku membantu asisten rumah tangga untuk membereskan piring dan gelas sisa makan malam kami. Sementara Bu Ramita dan pak Wijaya juga Tristan sedang bersantai di ruang keluarga.
Di tengah aktivitas mencuci piring, asisten rumah tangga Bu Ramita yang bernama Mbak Ani bertanya padaku, " Non, pacarnya den Tristan ya?"
" Bukan, mbak. Cuma temannya." Jawabku jujur.
" Saya mah gak percaya. Cuma ada dua wanita cantik yang pernah datang kesini dan dikenalkan sama ibu dan bapak."
" Siapa?" Aku malah semakin kepo mendengar cerita Mbak Ani. Sepertinya beliau sudah lama mengabdi di rumah ini.
" Non Dita sama non Sel..."
" Ehem.."
Kedatangan Tristan ke dapur sontak menutup mulut Mbak Ani.
" Uda."
" Di tunggu mama dan papa."
" Iya..duluan. sebentar lagi aku kesana."
Tristan menatap Mbak Ani. Entah apa arti tatapannya.
" Ayo.." aku menarik tangan Tristan untuk meninggalkan area dapur.
" Jangan pernah mengorek informasi keluarga ini pada Mbak Ani."
Aku menghentikan langkah kaki ku. Detik berikutnya aku menatap Tristan.
" Aku tidak pernah ingin tahu apa pun tentangmu."
Aku ingin mematahkan rasa kepercayaan diri Tristan yang terlalu tinggi agar tidak memandang ku terlalu rendah.
" Sulit di mengerti." Ucapnya meninggalkanku dan berjalan mendahului aku.
Huh.. ada apa sebenarnya. Tidak ingin orang tua Tristan curiga, aku segera bergabung dengan mereka.
Banyak hal yang di ceritakan oleh mama dan papa Ramita, dan aku hanya menjadi pendengar yang budiman. Sesekali aku menceritakan kehidupan keluargaku, itupun seperlunya tidak terlalu detail hingga Bu Ramita bertanya sesuatu hal yang membuat aku dan Tristan sama-sama terkejut.
" Dita..dan Tristan..apa kalian punya rencana untuk menikah?"
__ADS_1
" Hah?" Aku dan Tristan kompak menjawab.
Hingga pak Wijaya tertawa konyol melihat raut wajah kami yang lucu, katanya seperti sapi ompong.
" Dasar bapak..." Batinku menggerutu.
" Ayo dong di jawab!" Seru Bu Ramita.
" Kamu duluan Dit!" Perintah Tristan padaku
" Kok aku? Kamu duluanlah!" Sungutku tak mau kalah.
" Iya semua orang pasti ingin menikahlah ma, hanya saja terkadang jodohnya sajabyang belum datang, atau...malah belum lahir." Ucap Tristan.
Bu Ramita dan pak Wijaya kembali tertawa mendengar penuturan putranya.
" Ya harus usaha dong, sayang. Umur kamu semakin lama semakin tia, semakin berkurang. Kalau kamu pernah patah hati ya harus move on dong.. bukan begitukan pa?"
Patah hati? Siapa yang pernah patah hati? Tristan? Apa dia trauma? Sehingga memutuskan untuk melajang. Berarti...apa yang di bilang Mbak Ani tadi...
" Hei.. gantiqn kamu yang jawab!" Tristan mencubit hidungku.
" Sakit tahu..." Aku cemberut.
" Jangan marah-marah, nanti cepat tua." Ucapnya menggodaku.
" Emang sudah tua."
" Kalau kamu gimana Dit? Ada kepikiran untuk menikah lagi?"
" Bukan menikah lagia, tapi mau menikah. Mama kira Adita janda?" Tristan sewot pada mamanya.
Mama dan papanya terbengong-bengong melihat ketidaktahuan status ku.
" Pertanyaan mama iamu benar kok."
" Ma- maksud kamu apa?"
" Aku janda Tristan."
Mata Tristan seketika membulat. Ia tidak percaya dengan status janda yang kusandang.
" Jangan main-main.."
" Siapa yang main-main? Sekarang kamu harus tahu kebenarannya, bahwa aku bukan gadis apalagi perawan. Aku pernah membina biduk rumah tangga dengan seorang pria. Namun semua harus berakhir. Ada yang salah dengan statusku?"
" Maaf.. mama kira kalian sudah saling mengenal." Bu Ramita merasa bersalah.
" Tidak perlu meminta maaf Bu, ibu tidak salah. Selama ini kami hanya teman tidak lebih dan tidak kurang. Kami tidak punya ikatan spesial. Bukan begitu, Tristan?
Tristan hanya mengangguk kaku.
" Lalu.. siapa lelaki yang pernahenikah denganmu?"
__ADS_1